badge BOLEHKAH TEPUNG TAWAR (PEUSIJUK) DALAM ISLAM ??? | Ukhwah Asyifusyinen
Home » » BOLEHKAH TEPUNG TAWAR (PEUSIJUK) DALAM ISLAM ???

BOLEHKAH TEPUNG TAWAR (PEUSIJUK) DALAM ISLAM ???

Advertisement
Peusijuk (tepung tawar) merupakan hal yang telah lumrah dilaksanakan oleh kaum muslimin, tetapi belakangan ini sebagian orang yang menganggap dirinya ahli agama memperdebatkan legalitas peusijuk dalam agama dan memvonis bahwa hal tersebut adalah bid`ah.

Dalil-dalil hadis yang membolehkan peusijuk:
Hadis Rasulullah pada saat rasulullah menikahkan Siti Fatimah dengan Saidina Ali krw, Rasulullah mengambil air dan memercikkan kedada keduanya.

Referensi:

  1. Mu`jam Kabir Tabrani
  2. Jami` Al Hawadis
  3. Shawaiq Muhriqah hal 231 cet. Hakikat kitabevi.
Jami` Al-Hawadis, Jalaluddin As-Sayuthi.
عن أنس بن مالك قال : جاء أبو بكر إلى النبى - صلى الله عليه وسلم - فقعد بين يديه
 فقال : يا رسول الله قد علمت مناصحتى وقدمى فى الإسلام وإنى وإنى ، قال : وما ذاك قال : تزوجنى فاطمة فسكت عنه أو قال : أعرض عنه فرجع أبو بكر إلى عمر فقال : هلكت وأهلكت ، قال : وما ذاك قال : خطبت فاطمة إلى النبى - صلى الله عليه وسلم - فأعرض عنى ، قال : مكانك حتى آتى النبى - صلى الله عليه وسلم - فأطلب مثل الذى طلبت ، فأتى عمر النبى - صلى الله عليه وسلم - فقعد بين يديه فقال : يا رسول الله قد علمت مناصحتى وقدمى فى الإسلام وإنى وإنى ، قال : وما ذاك قال : تزوجنى فاطمة فأعرض عنه ، فرجع عمر إلى أبى بكر فقال : إنه ينتظر أمر الله فيها ، انطلق بنا إلى على حتى نأمره أن يطلب مثل الذى طلبنا ، قال على : فأتيانى وأنا أعالج فسيلا فقالا : ابنة عمك تخطب قال : فنبهانى لأمر ، فقمت أجر ردائى طرفا على عاتقى وطرفا أجره على الأرض حتى أتيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقعدت بين يديه فقلت : يا رسول الله قد عرفت قدمى فى الإسلام ومناصحتى وإنى وإنى ، قال : وما ذاك يا على قلت تزوجنى فاطمة قال : وعندك شىء قلت : فرسى وبدنى قال : أعنى درعى قال : أما فرسك فلا بد لك منها ، وأما درعك فبعها ، فبعتها بأربعمائة وثمانين فأتيته بها فوضعتها فى حجره ، فقبض منها قبضة فقال : يا بلال ابغنا بها طيبا ، وأمرهم أن يجزوها ، فجعل لهم سرير شرط بالشرط ووسادة من أدم حشوها ليف وملء البيت كثيبا يعنى رملا وقال لى : إذا أتتك فلا تحدث شيئا حتى آتيك ، فجاءت مع أم أيمن حتى قعدت فى جانب البيت وأنا فى جانب وجاء رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال : ههنا أخى فقالت أم أيمن أخوك أو أخوك وقد زوجته ابنتك قال : نعم ، فدخل فقال لفاطمة : ائتينى بماء . فقامت إلى قعب فى البيت فجعلت فيه ماء فأتت به ، فأخذه فمح فيه ثم قال لها : قومى ، فنضح بين ثدييها وعلى رأسها وقال : اللهم أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم ، وقال لها : أدبرى ، فأدبرت فنضح بين كتفيها ثم قال : اللهم إنى أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم ، ثم قال لعلى : ائتينى بماء ، فعلمت الذى يريد فقمت فملأت القعب ماء فأتيته به ، فأخذ منه بفيه ثم مجه فيه ثم صب على رأسى وبين ثديى ثم قال : اللهم إنى أعيذه بك وذريته من الشيطان الرجيم ، ثم قال : أدبر ، فأدبرت فصب بين كتفى وقال : اللهم إنى أعيذه بك وذريته من الشيطان الرجيم ، وقال لى : ادخل بأهلك باسم الله والبركة (جرير) كنز العمال وأخرجه أيضا ابن حبان

Penjabaran:
            Pada dasarnya dalam peusijuk yang Rasulullah lakukan adalah hanya memercikkan air sebagaimana dalam hadis, sedangkan peusijuk yang dilakukan pada masa ini yaitu selain memercikkan air yang telah disediakan dalam satu mangkok dengan sedikit dicampuri sedikit garam, jeruk purut, dan ditaruh emas didalamnya, juga mencampakkan beras, padi. Kemudian dipercik menggunakan beberapa tanaman yang telah diikat menjadi satu yang biasanya terdiri dari daun peusijuk, naleung sumbo, bibit pinang, dan beberapa jenis tanaman lainnya.

            Semua itu sebenarnya adalah untuk tafaul. Juga menimbang ini tidaklah dilarang dalam Islam. Bahkan dalam bahasa sehari-hari juga banyak yang berbentuk tafaaul . Salah satu contoh tafaaul yang terjadi dalam bahasa arab adalah penamaan tempat yang tidak berpenduduk yang biasanya berbahaya dengan nama mafaazah, yang secara bahasa berarti tempat keselamatan. Hal tersebut sebagai doa selamatan bagi orang yang lalu ditempat tersebut supaya selamat. Contoh lainnya adalah kata-kata Mutalahimah (luka menganga yang meyobek daging), sebenarnya arti dari kata Mutalahimah adalah sedaging (rapat) namun dipakai kepada luka terbuka yang berlawanan dengan arti Mutalahimah. Hal ini bertujuan sebagai harapan supaya luka tersebut cepat rapat dan lengket kembali. Sedangkan contoh tafaaul dalam bahasa Aceh adalah kebiasaan orang Aceh adalah memanggil anaknya yang melakukan kesalahan dengan panggilan aneuk metuah (anak yang bertuah) lepah jroeh gata (baik sekali kamu) padahal jelas-jelas anak tersebut barusan melakukan kesalahan. Tetapi malah dipangil dengan panggilan yang baik sebagai doa bagi anak tersebut supaya tidak melakukan kesalahan lagi.

Dalam peusijuk dipergunakan beberapa jenis tanaman, semua maksud dari tanaman tersebut tak lain adalah sebagai tafaul. Beberapa maksud tafaaul dari bahan-bahan yang dipergunakan untuk peusijuk anatara lain:

  1. Daun Sedingin: daun yang bersifat dingin dan aman ketika dimanfaatkan.
  2. Rumput Seumbo: mudah rizki dan kuat manfaatnya.
  3. Daun Pandan: bagus barang yang dituju karena kewangiannya.
  4. Batang Talas: cepat berkembang dan batangnya selalu bermanfaat.
  5. Tunas Pinang: kuat dan lurus ketika dimanfaatkan.
  6. Bunga: selalu wangi dan sangat disenangi.
  7. Inai: kuat manfaat dari segi apapun.
  8. Emas: barang yang dituju sesuatu yang sangat berharga.
  9. Beras & Padi: makanan pokok yang berkembang banyak dan selalu dimanfaatkan.
  10. Garam: sesuatu yang menyedapkan dan memuaskan.
  11. Gula: barang yang dituju agar mendapat kesenangan.
  12. Minyak Wangi: selalu diagungkan.
  13. Kunyit: cepat berkembang serta makmur.
  14. Limau Purut: membawa kebahagiaan.
  15. Kemenyan: disukai Malaikat pembawa rahmat.
  16. Kapas: beban yang berat jadi ringan.
  17. Tepung Tawar/Bedak: semoga dihias dengan kebahagiaan.
  18. Air: semoga selalu dalam hak Allah.
  19. Kaki Ayam: giat mencari rizki yang halal.
  20. Hati Ayam: agar terbolak-balik hati.
Nb: no 1 s/d 7 [tujuh macam tanaman yang tafa_ulnya manzilah Auliya Tujuh]


Dari hadist di atas di jelaskan bahwa Rasul mempercik air (pesijuk) dengan tangannya, kenapa kita harus menggunakan daun-daunan untuk mempercik air, mungkin ini menjadi salah satu pertanyaan, adapun jawabannya adalah karena tangan rasul lebih mulia dari pada daun-daunan lain, sedangkan tangan kita lebih hina dari pada daun-daunan yang selalu bertasbih siang dan malan, adapun daun-daunan hijau juga menunjukan kehidupan, inilah tafaul yang di ambil, dan kenapa harus memakai daun-daunan, itulah jawabannya.

      Selain itu biasanya ketika peusijuk (tepung tawar) ditempelkan sedikit nasi pulut, baik yang ditepung tawari itu harta atau manusia sendiri. Hal ini juga mengandung satu maksud. Nasi pulut yang sifatnya lengket merupakan salah satu rizki yang Allah berikan. Menempelkan nasi tersebut sebagai tafaul untuk supaya datang rizki lainnya.

       Tafaul: rajaul khair ma-aal bi ma kana (ambil kebaikan/kembali pada kebaikan)

"Tulisan ini kami nakal dari santri/alumni dayah Mudi Mesra Samalanga" semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close