badge MAKALAH SEJARAH MUTU DAN GERAKAN MUTU DALAM PENDIDIKAN (MANAJEMEN MUTU) | Ukhwah Asyifusyinen
Home » » MAKALAH SEJARAH MUTU DAN GERAKAN MUTU DALAM PENDIDIKAN (MANAJEMEN MUTU)

MAKALAH SEJARAH MUTU DAN GERAKAN MUTU DALAM PENDIDIKAN (MANAJEMEN MUTU)

Advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di era kontenporer dunia pendidikan dikejutkan dengan adanya model pengelolaan pendidikan berbasis industri. Pengelolaan model ini menggadaikan adanya upaya pihak pengelola lain institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan manajemen perusahaan. Penerapan manajemen mutu dalam pendidikan ini lebih popular dengan sebutan istilah Total Quality Education (TQE). Dasar dari manajemen ini dikembangkan dari konsep Total Quality Manajemen, yang pada mulanya diterapkan pada dunia bisnis kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan.Secara operasional, mutu ditentukan oleh dua faktor. Yang pertama adalah terpenuhinya spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya (quality in fact) berupa profil lulusan institusi pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi tujuan pendidikan. Yang kedua adalah terpenuhinya spesifikasi yang diharapkan menurut tuntutan dan kebutuhan pengguna jasa (quality in perception), ini adalah kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan eksternal terhadap lulusan institusi pendidikan.Untuk mengaplikasikan TQM ke dalam dunia pendidikan dibutuhkan suatu proses adaptasi yang tinggi dimana ada beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu konsep perbaikan secara terus-menerus (continuous improvement), menentukan standar mutu (quality assurance), perubahan kultur (change of culture), perubahan organisasi (upside-down organization), dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan (keeping close to the customer). Untuk keberhasilan penerapan Manajemen Mutu Terpadu tersebut diperlukan komitmen dan kerjasama yang baik antara departemen terkait, pusat dan daerah, serta institusi pendidikan. Juga perlu ada kejelasan sistematik dalam memberikan kewenangan antar institusi terkait, sehingga diharapkan terjadi perubahan yang cukup efektif bagi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan nasional.B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :1.      Apa pengertian mutu ?
2.      Bagaimana sejarah mutu pendidikan ?
3.      Bagaimana asal usul gerakan mutu ?
4.      Bagaimana konstribusi Deming, Shewhart, Juran terhadap pendidikan ?
5.      Bagaimana gerakan mutu dalam pendidikan ?
 C.    Tujuan Penulisan
Sebagaimana latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan adalah sebagai berikut :1.      Memahami pengertian mutu.
2.      Mengetahui sejarah mutu pendidikan.
3.      Mengetahui asal muasal gerakan mutu.
4.      Mengetahui kontribusi deming, shewhart, juran terhadap pendidikan.
5.      Mengetahui gerakan mutu dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Mutu
Mutu menurut Juran ialah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Menurut Deming ialah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen.[1]Bagi setiap institusi, mutu adalah agenda utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian, ada sebagian orang yang menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh dengan teka-teki. Mutu dianggap sebagai hal yang membingungkan dan sulit untuk diukur. Mutu dalam pandangan seseorang terkadang bertentangan dengan mutu dalam pandangan orang lain, sehingga tidak aneh jika ada dua pakar yang tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang bagaimana cara menciptakan institusi yang baik.Kita memang bisa mengetahui mutu ketika kita mengalaminya, tapi kita tetap merasa kesulitan ketia kita mencoba mendeskripsikan dan menjelaskan satu hal yang bisa kita yakini adalah mutu merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya. Bertolak dengan keyakinan tersebut, mutu dalam pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga, mutu jelas sekali merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam meraih status ditengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang kian keras.Menemukan sumber mutu adalah sebuah petualangan yang penting. Pelaku-pelaku dunia pendidikan menyadari keharusan mereka untuk meraih mutu tersebut dan menyampaikannya pada pelajaran dan anak didik. Sesungguhnya, ada banyak sumber mutu dalam pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, guru yang terkemuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orang tua, bisnis dan komunitas lokal, sumber daya yang melimpah, kepemimpian yang baik dan efektif, kurikulum yang memadai, atau juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut.Meraih mutu melibatkan keharusan melakukan segala hal dengan baik, dan sebauh institusi yang harus mempoposikan pelanggan secara tepat dan proporsional agar mutu tersebut bisa dicapai.[2]Setelah dipahami definisi kualitas, harus diketahui apa saja yang termasuk dalam dimensi kualitas. Seperti yag dikutip oleh M.N. Nasution mendefinisikan delapan dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristi kualitas produk, yaitu sebagai berikut:1.      Kinerja atau performa (performance)
2.      Features
3.      Keandalan (realiability)
4.      Konformitas (conformance)
5.      Daya tahan (durability)
6.      Kemempuan pelayanan (serviceability)
7.      Estetika (aesthetics)
8.      Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality).[3] B.     Sejarah Mutu Pendidikan
Dr. W. Edward Deming diakui sebagai “Bapak Mutu”. Dr. Deming memperoleh gelar Ph.D dalam matematika dan fisika dari Universitas Yale. Awalnya dia berkenalan dengan konsep dasar manajemen tradisional pada akhir tahun 1920-an, saat milik Western Electric yang terkenal, Hawthorne di Chicago. Pengalaman ini membawanya pada pertanyaan, “ Bagaimana cara terbaik untuk perusahaan dalam memotivasi karyawan?” Deming menemukan sistem motivasi tradisional yang digunakan pada masa itu tidak cocok lagi dan secara ekonomis tidak produktif. Dalam sistem tersebut, pemberian insentif dikaitkan dengan jenis pekerjaan dengan harapan bisa memperbesar output pekerja, yang dilanjut dengan inspeksi atas proses kerja termasuk mencatat butir-butir kesalahan pekerjaan karyawan.Pada tahun 1930-an, Deming bekerja sama dengan ahli statistik Bell Telephone Laboratories, Walter A. Shewhart, mengembangkan tehnik kontrol statistik yang dapat diterapkan dalam proses manajemen. Deming mengakui bahwa proses manajemen yang terkontrol secara statistik membantu manajer secara sistematis menentukan saat yang tepat untuk campur tangan, sekaligus menentukan waktu yang tepat membiarkan proses berjalan. Selama perang dunia II Deming berkesempatan menunujukkan kepada pemerintah bagaimana metode kontrol mutu secara statistik Shewhart dapat diajarkan kepada para pekerja dan menjalankannya dalam praktik di pabrik-pabrik perlengkapan perang yang sedang sibuk.Pada akhir perang dunia II deming meninggalkan pekerjaanya di pemerintahan dan mendirikan perusahaan konsultan. Pada tahun 1947 mengirimnya ke Jepang untuk mempersiapkan sensus nasional di negeri tersebut. Sementara itu, para manajer Amerika mulai melupakan ajaran kontrol mutu yang diberikan pada jaman perang dan mereka kembali pada gaya dan praktik manajemen tradisional sebelum perang. Bersamaan dengan itu, Deming yang terlibat dalam metode kontrol mutu mendapatkan sambutan hangat di Jepang. Orang jepang mengaitkan keberhasilan ekonomi mereka dengan metodologi mutu Dr. Deming.Filosofi Dr. Deming cenderung menempatkan mutu dalam artian yang manusiawi. Ketika pekerja sebuah perusahaan berkomitmen pada pekerjaan untuk dilaksanakan dengan baik dan memiliki proses manajerial yang kuat untuk bertindak, maka mutupun akan mengalir dengan sendirinya. Definisi mutu yang praktis adalah: sebuah derajat variasi yang terduga standar yang digunakan dan memiliki kebergantungan pada biaya yang rendah. Inti metodologi pendekatan manajemen mutu Deming adalah menggunakan teknik statistik sederhana pada output program perbaikan yang berkelanjutan. Hanya melalui verifikasi statistik manajer dapat mengetahui bahwa dia menghadapi masalah dan mencari akar permasalahannya.Beberapa prinsip pokok dari Deming yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan adalah:a.       Anggota dewan sekolah dan administrator harus menetapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai.
b.      Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa, bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi.
c.       Asal diterapkan secara ketat, penggunaaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki outcomes siswa dan administratif.
Dr. Joseph M. Juran pun diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu”. Dr. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Seperti halnya Deming, Juran adalah ahli statistik terpandang. Juran menyebut mutu sebagai “tepat untuk pakai” dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebagai sekolah adalah “mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguana seperti siswa dan masyarakat” lebih lanjut Juran mengatakan bahwa “ tepat untuk dipakai” lebih tepat ditentukan oleh pemakai bukan oleh pemberi.Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amanat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Titik fokus filosofi menajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan dengan tepat. Dengan perangkat yang tepat para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsistem sesuai dengan harapan kostumer.Seperti halnya Deming, Juran pun mamainkan peran pentig dalam membangun kembali Jepang setelah perang dunia II. Dia diakui jasanya oleh Jepang dalam mengembangkan kontrol mutu di Jepang dan memfasilitasi bersahabatan Amerika Seriat dan Jepang. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utamaBeberapa pandangan Juran tentang mutu adalah :1.      Meraih mutu merupakan proses yang tidak mngenal akhir
2.      Perbaikan mutu merupakan proses kesinambungan buak program sekali jalan
3.      Mutu memperlukan kepimimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator
4.      Pelatihan masal merupakan prasyarat mutu.
5.      Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan.
Bila ajaran Deming dan Juran sudah begitu diakrapi. Hendaknya begitu jugalah dengan keinginan keduanya. Banyak pemikiran keduanya yang diterapkan dan di adaptasi oleh berbagai organisasi Amerika. Inti pemikiran keduanya adalah bahwa membangun mutu sebagai prinsip dasar bagi pendidikan sekolah, strategi dan filosofinya sama seperti yang terbukti sudah berhasil dijalankan dalam bidang lain.Juran sudah memperkirakan keberhasilan bangsa Jepang dalam sebuah pidatonya untuk oragnisasi kontrol  mutu Eropa pada tahun 1966 dia mengatakan : bangsa Jepang menonjol dalam dunia kepemimpinan mutu dan akan menjadi pemimpi dunia dalam dua dekade medatang karena tidak ada pihak lain yang bergerak kearah mutu dengan kecepatan yang sama dengan bangsa Jepang.[4]C.    Asal Usul Gerakan Mutu
Petualangan mencari mutu bukan sebuah expedisi baru. Dalam dunia industri, sejak dulu selalu ada keharusan untuk merasa yakin bahwa produk sudah sesuai dengan spesifikasinya agar mampu memberikan kepuasan pada para pelanggan dan, tentunya, mendatangkan keuntungan. Menjaga mutu sebuah produk akan menyebabkan pelanggan semakin percaya terhadap produk tersebut dan, tentu saja, produsennya. Akan tetapi, mutu menjadi isu penting bersamaan dengan kedatangan industrialisasi. Jauh sebelumnya para pengrajin sudah menetapkan dan menjaga standar mereka sendiri, standar dimana mereka menggantungkan reputasi dan mata pencarian mereka. Tanggung jawab pekerjaan terhadap mutu produk yang merupakan bagian penting dari sebuah keahlian, hilang begitu saja ketika barang-barang diproduksi secara masal. Sehingga lahirlah difisitenaga kerja yang sangat ketat dikembangkannya dua sistem pemeriksaan yang dikenal dengan nama quality control kontrol mutu.Kontrol mutu adalah proses yang menjamin bahwa hanya produk yang memenuhi spesifikasi yang boleh keluar dari pabrik dan dilempar kepasar. Kontrol mutu bertugas mendeteksi produk yang cacat. Difisi ini tidak serta merata menjamin bahwa para anggotanya bertanggung jawab terhadap mutu. Disamping itu, divisi ini adalah sebuah proses yang harus dilakukan di bawah bendera produksi massal, dan tenaga kerjanya sangat mahal, sehingga terkadang mereka diberhentikan dan kemudian dipekerjakan kembali. kontrol mutu dengan sendirinya akan tampak semakin tidak ekonomis.Gagasan perbaikan mutu dan jaminan mutu mulai dimunculkan setelah perang dunia kedua. Meskipun demikian, perusahaan-prusahaan di Inggris dan Amerika baru tertarik pada isu mutu di tahun 1980-an, saat mereka mempertanyakan keunggulan Jepang dalam merebut pasar dunia. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan adalah tentang kesuksesan orang-orang Jepang, apakah hal tersebut disebabkan oleh pengaruh budaya nasional ataukah tehnik manajemen mereka yang baik. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula tehnik-tehnik manajemen mutu, kita harus mulai dengan mempelajari Amerika pada akhir tahun 1920-an.[5]D.    Konstribusi Deming, Shewhart, Juran Terhadap Pendidikan
Gagasan tentang jaminan mutu dan mutu terpadu terlambat sampai di Barat, meskipun ide-ide tersebut pada mulanya dikembangkan pada tahun 1930-an dan 1940-an oleh W.Edwards Deming. Ia adalah seorang ahli statistik Amerika yang memiliki gelar PhD dalam bidang fisika ia dilahirkan pada tahun 1900. Pengaruhnya sebagai teoritikus manajemen bermula di Barat, namun justru jepang memanfaatkan keahliannya sejak 1950.Deming mulai memformulasikan idenya pada tahun 1930-an ketika melakukan penelitian tentang metode-metode menghilangkan variabilitas dan pemborosan dari proses industri. Western Electrik juga adalah tempat kerja Josep Juran, kontributor utama lain terhadap refolusi mutu di Jepang, yang juga orang Amerika.Dari Western Electrik, Deming pindah kerja di departemen pertanian Amerika. Ketika bekerja disana, dia diperkenanlkan pada Welter Shaewhart, seorang ahli statistik dari bell labolatories di New York. Sebelumnya Shaewhart telah mengembangkan beberapa tehnik yang membawa proses industri menuju apa yang ia sebut dengan kontrol statistik. Ini adalah serangkaian tehnik-tehnik yang meminimalisasi unsur-unsur tak terduga dari proses-proses industri, sehingga industri lebih bisa diprediksi dan lebih terkontrol. Tujuannya adalah untuk menghilangkan pemborosan biaya dan penundaan waktu. Konstribusi awal Deming adalah mengembangkan dan meningkatkan metode-metode statistik Shewhart. Metode-metode statistik Shewhart dan Deming sekarang dikenal sebagai statistical process control (SPC), yang dikombinasikan dengan wawasan hubungan gerakan relasi manusia yang diasosiasikan dengan mayo dan koleganya, yang notaben perupakan penyokong teori TQM.Deming mengunjungi Jepang pertama kali diakhir tahun 1940- an untuk melakukan sensus Jepang pasca perang. Terkesan dengan kinerjanya, Japanese Union of Engineer and Scientists mengundang Deming untuk kembali pada tahun 1950 untuk mengajarkan aplikasi control proses statistik pada para pelaku industri di Jepang. Orang-orang Jepang berkeinginan untuk belajar dari namgsa-bangsa industrialis lain.Dia mengajarkan agar Jepang memulai ayunan langkah dengan mengetahui apa yang diinginkan oleh pelanggan mereka Deming menganjurkan agar mereka mendesain metode-metode produksi serta produk mereka dengan standar tertinggi. Deming yakin dengan pendekatan tersebut sepenuhnya dijalankan maka lebih kurang dalam lima tahun kedepan perusahaan di Jepang akan mampu memposisikan dirinya sebagai pemimpin pasar Jepang menerapkan ide-ide Deming, Josep Juran dan pakar mutu lainya yang berkunjung ke Jepang pada waktu itu. Jepang telah mengembangkan ide-ide Juran dan Deming dalam apa yang mereka sebut Total Qwality Control (TQC) dan mereka mampu menjadi singa pasar dunia.  Dominasi pasar yang mereka raih tersebut sebagian besar merupakan hasil dari perhatian mereka terhadap mutu. Penulis nasional Jepang tentang mutu, Kauro Ishikawa, telah mendeskripsikan tentang pendekatan Jepang pada TQC sebagai “suatu revolusi pemikiran dalam manajemen.[6]E.     Gerakan Mutu Dalam Pendidikan
Gerakan mutu terpadu dalam pendidikan masih tergolong baru. Hanya ada sedikit literature yang memuat referensi tentang hal ini sebelum 1980-an. Beberapa upaya reorganisasi terhadap praktek kerja dengan konsep TQM telah dilaksanakan oleh beberapa universitas di Amerika dan pendidikan tertinggi lainya di Inggris ada banyak gagasan yang dihubungkan dengan mutu juga dikembangkan dengan baik oleh institusi-institusi pendidikan tertinggi dan gagasan-gagasan mutu tersebut terus-menerus diteliti dan diimplementasikan di sekolah-sekolah. Dalam sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan oleh Robert Kaplan dari hervard Husines School, dia menemukan hanya sedikit pengetahuan dan penelitian tentang TQM di program MBA dan program-program studi bisnis lainya di dua puluh universitas terkemuka di Amerika.Ada semacam keengganan tradisional dalam beberapa pendidikan di Inggris untuk menerapkan metodologi dan bahasa manajemen industri. Hal ini memungkinkan besar menjadi penyebab jauhnya pendidikan dari visi gerakan mutu. Beberapa pelaku pendidikan tidak suka menarik analogi antara proses pendidikan dan penciptaan produk-produk industri. Walaupun demikian, beberapa inisiatif baru seperti TVEI, penempatan diri dalam industri dan berkembangnya kerja sama pendidikan dan bisnis te;ah membuat hubungan keduanya semakin dekat dan membuat konsep-konsep industri semakin dapat diterima dalam dunia pendidikan. Dan apada akhirnya keinginan yang terus meningkat dari pelaku pendidikan untuk mengeksplorasi pelajaran-pelajaran dari industri.Meningkatnya minat dunia pendidikan juga terjadi di Inggris raya, yang bertepatan dengan dikeluarkanya undang-undang reformasi pendidikan pada tahun 1988. Undang-undang tersebut telah memberi penekanan pada pangawasan terhadap proses pendidikan melalui indicator-indikator prestasi.indikator-indikator prestasi  merupakan acuan yang mengarah pada efesiensi proses indicator-indikator tersebut hanya memberikan ukuran yang belum sempurna tentang mutu belajar, atau tentang efektifitas institusi dalam menemukan keutuhan pelanggannya. Institusi-institusi yang menggunkan indikator-indikator  prestasi telah mulai menunjukan keseriuasannya terhadap TQM sebagai suatu nilai untuk meningkatkan standar pelayanannya.Peningkatan mutu menjadi semakin penting bagi institusi yang digunakan untuk memperolah kontrol yang lebih baik melalui usahanya sendiri. Kebebasan yang baik harus disesuaikan dengan akuntabilitas yang baik. Institusi-institusi yang harus mendemonstrasikan bahwa mereka mampu memberikan pendidikan yang bermutu pada peserta didik. Kita hidup diera kopmpetisi yang serba tidak jelas. Kita sekarang menemukan sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan kejuruan. Nasional Vocational Qualifications, sebelumnya merupakan sebuah sekolah kejuruan, prernah ditawari langsung oleh para karyawan agar melakukan sebuah percepatan perubahan dengan memperkenalkan kredit latihan. Perubahan lain terjadi di berbagai bidang pendidian yang mencakup ekstensi pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi dibiayai untuk meningkatkan jumlah murid dengan mereduksi biaya. Tabel-tabel dibuat untuk memberikan informasi kepada orang tua sehingga meraka dapat melakukan perbandingan dan memiliki pilihan. Pengenalan tentang kredit pelatihan didesain untuk memberi pelanggan kebebasan untuk memilih. Sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi telah melakukan hal tersebut dengan menerapkan berbagai rencana setrategis. Diregulasi pedidikan memerlukakn setrategi-setrategi kompetitif secara jelas membedakan institusi-institusi dari para pesaingnya. Mutu terkadang hanya menjadi satu-satunya faktor pembeda bagi sebuah institusi. Fokus terhadao kebutuhan pelanggan, yang notabene merupakan poin inti dari mutu,  merupakan salah satu cara paling efektif dalam menghadapi kompetisi dan bertahan didalamnya.Konsep TQM telah memperoleh dukungan resmi, kurang lebih dari 16 institusi pendidikan. Dewan Rektor dan Kepala Sekolah juga sudah mempublikasikan Teaching Standards and Excelence in Higber Education pada tahun 1991, dengan sub judul Developing a Culture For Quality. Dalam kesimpulan buku tersebut, penulis menyatakan bahwa masing-masing Universitas harus mengembangkan sistem Total Quality Managemen-nya sendidri-sendiri. Yang sanagt mengejutkan adalah mengapa mutu dan mutu terpadu dalam pendidikan baru memperoleh pengakuan setelah sekian lama mutu tersebut berhasil dalam industri? Meskipun demikian, satu hal yang bisa kita yakini bersama adalah bahwa layanan mutu merupakan isu kunci bagi seluruh sektor pendidikan pada masa dekade mendatang.[7]                                                                          
         
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
 Ø  Mutu adalah agenda utama dan meningkatkan mutu merupakan tugas yang paling penting. Menemukan sumber mutu adalah sebuah petualangan yang penting. Meraih mutu melibatkan keharusan melakukan segala hal dengan baik, dan sebauh institusi yang harus mempoposikan pelanggan secara tepat dan proporsional agar mutu tersebut bisa dicapai.
Ø  Gagasan perbaikan mutu dan jaminan mutu mulai dimunculkan setelah perang dunia kedua. Meskipun demikian, perusahaan-prusahaan di Inggris dan Amerika baru tertarik pada isu mutu di tahun 1980-an, saat mereka mempertanyakan keunggulan Jepang dalam merebut pasar dunia.
Ø  Asal muasal gerakan mutu dalam industri mencari mutu dari sebuah expedisi baru, menjaga mutu sebuah produk, tanggungbjawab pekerjaan terhadap mutu produk. Sehingga lahirlah defisi ketat, dikembangkannya dua sistem yang dikenal dengan Quality Control.
                                                                         
 DAFTAR PUSTAKAHadijaya, Yusuf. Menyusun Strategi Berbuah Kinerja Pendidik Efektif. Medan: Perdana Publishing, 2013.Abdul Hadis dan Nurhayati. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: ALFABETA. 2012.Edward Sallis. Total Quality Management In Education Manajemen Mutu Pendidikan. Yogyakarta: IRCiSoD. 2006Sri Minarti. Manajemen Sekolah. Jogyakarta: AR-RUZZ MEDIA. 2012.http://nafizfauzi.co.id/manajemen-mutu-terpadu.html

[1] Abdul Hadis dan Nurhayati. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: ALFABETA. 2012. Hlm. 83-85. 
[2] Edward Sallis. Total Quality Management In Education Manajemen Mutu Pendidikan. Yogyakarta: IRCiSoD. 2006. Hlm. 29-32.
[3] Sri Minarti. Manajemen Sekolah. Jogyakarta: AR-RUZZ MEDIA. 2012.  Hlm. 334-335.
[4] Jerome s. Arcaro. Pendidikan Berbasisi Mutu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005. Hlm. 6-10.
[5] Edward Salis. 34-36.
[6] Edwar Salis. 36-39.
[7] Edward Salis. 43-47.

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close