-->

STUKTURALIS (MAKALAH)

BAB I
PENDAHULUAN

Strukturalis dalam bahasa Inggris dari latin Struere dengan arti membangun. Struktura berarti bentuk bangunan. Jadi strukturalisme merupakan aliran yang lebih mementingkan sebuah sistem yang menjadi latar belakang adanya Linguistik Sausure Prancis. Yang menjadi ajaran pokoknya adalah masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. F. Sausure yang mendominasi munculnya strukturalisme dengan beberapa penemuan-penemuan (pengkajian) diantaranya mengenai Sigbifiant (penanda) dan segnifie (yang ditandakan), Langue (bahasa milik bersama) dan Parol (bahasa individual), serta sinkroni (peninjauan ahistoris) dan diakroni (peninjauan historis).
Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap.
Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040).
Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040).
Satu filsuf seperti Saussure menekankan bahwa suatu tanda bahasa bermakna bukan karena refrensinya kepada benda dalam realitas. Yang ditandakan benda dalam realitas bukanlah benda, melainkan konsep tentang benda. Karena menurut ia tanda konsep tidak lepas dari tanda bahasa, tetapi termasuk tanda bahsa itu sendiri. Menurut saussure juga, tanda bahasa yang dipelajari oleh linguistik terdiri atas dua unsur; le signifiant the signifier dan the signified. Dalam bahasa indoneisa dapat diterjemahkan “penananda” dan yang “ditandakan”. Segnifiant adalah aspek material dari bahasa, sedangkan segnifie adalah gambaran mental, pikiran atau konsep.
Bahasa sebagai sistem ini membawa kita kepada perbedaan yang dilakukan oleh Saussure, linguistik harus memperhatikan sinkroni sebelum menghiraukan diakroni. Sinkroni dan diakroni berasal dari kata yunani kronos (waktu) dari awalan syn dan dia, masing-masing berarti “bersama” dan “melalui”. Maka dari itu, sinkroni dapat dijelaskan sebagai “bertepatan menurut waktu” dan diakroni “menelusuri waktu”. Maka dapat disimpulkan, diakroni adalah peninjauan historis menurut sejarah atau kejadian yang sudah berlalu, sedangkan sinkroni menunjukkan pandang yang sekali tidak ada kaitannya dengan prespektif historis (peninjauan ahistoris).
Maka dari itu, jelas bahwasanya ciri khas strukturalisme ialah pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Berangkat dari seperangkat fakta yang akan diamati pada permulaannya, strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur nti dari uatu objek (hierarkinya, kaitan timbale balik antara unsure-unsur pada setiap tingkat), dan lebih lanjut menciptakan suatu model teoritis dari objek tersebut.
Dengan penyelidikan dan penyingkapan instrinsiknya maka terjadi beberapa perkembangan dan penyimpangan strukturalisme yang pada mulanya menerapakan pendirian Saussure, tapi sekarang sudah diterapkan dalam bidang yang lain. Seperti yang dilakukan oleh Claude Levi-Strauss dengan menuju penspesifikasian struktur tetap hubungan-hubungan yang, berdasar hipotesis, di terima oleh semua manusia secara tidak sadar dan pra-reklektif. Levi-Strauss menggunakan metode antropologi dan linguistik secara serempak. Dalam penerapan metodenya ini kemiripan atau kesamaan berbagai macam mitos dan adat-istiadat dalam pelbagai masyarakat, manusia dipandang sebgai porsi dari struktur yang tidak “dikonstitusikan” oleh analisis itu melainkan “dilarutkan” dengan analisis.
Jaques Lacan, pendiri mazhab Freudian, mempergunakan perhatian strukturalis pada bahasa dengan dunia bawah sadar manusia. bagi Lacan, bahasa bukan saja alat yang memungkinkan seseorang mampu menyelami dunia tak sadarnya, tetapi juga yang tidak sadar itu sendiri “distruktur secara persis” sebagai suatu bahasa.
Lois Althusser memperluas analisis strukturalis kearah pemikiran Karl Marx. Dalam percobaan ini dilakukan usaha untuk memandang sejarah maupun ekonomi sebagai “tercaplok” di dalam struktur-struktur. Sementara Roland Berthes menerapkan analisis strukturalis pada kritik sastra. Dengan menganggap macam-macam gaya ekspresi atau analisi sebagai “bahasa-bahasa yang berbeda-beda”, tugas kritik sastra adalah tugas terjemahan.
Sedangkan Michel Foucault menerapkan strukturalisme pada bidang filsafat. Menurutnya, tatanan kata-kata mengandung kunci bagi pengertian, baik dalam filsafat maupun bidang lain, dan lebih penting disiplin tatanan benda-benda. Agar supaya lebih jelas dan memahami strukturalisme kami bahas tokoh-tokoh dalam makalah kami dengan judul “Aliran Strukturalisme” beserta pemikirannya. Disini juga dibahas beberapa analisa dari penulis makalah ini, dengan tujuan memberi pemahaman kepada para pembaca dalam kesulitan-kesulitan memahami aliran Strukturalisme.
Sudah jelas bahwasanya para tokoh strukturalisme menerapkan perinsip-prinsip F. Desaussure ke dalam bidang-bidang lain. Ada yang menerapkan strukturalisme dalam antropologi budaya (Claude Levi-Straus), Jacques Lacan menerapkan strukturalisme dalam bidang Psikoanalisa, Roland Barthes menggunakan juga prinsip-prinsip Saussure dalam bidang kritik sastra, serta Michel Foucault yang menggunakan strukturalisme dalam bidang pengkajian epistemologi. Maka dapat di bilang aliran strukturalisme mengalami kemajuan, awalnya hanya digunakan dalam bahasa saja (F. Saussure), namun oleh bebrapa filsuf diterapkan atau digunakan dalam beberapa bidang atau hal lain.
Perkembangan-perkembangan tersebut diawali sebagai satu-satunya upaya untuk mencari sebuah kebenaran dalam sosial-budaya ataupun ekonomi-politi. Hal itu menandakan reformasi perkembangan dari satu periode ke dalam periode lainnya, yang pada hal itu akan mendorong pelbagai perubahan bain dari interaksi yang ada dalam sebuah polis ataupun kebudayaan dalam polis itu sendiri. Strukturalisme mempunyai peran penting, sehingganya dapat membangun sebuah peradaban, pembangunan, serta kontruk dalam cara mengatur atau mengarahkah sebuah polis.
Ada beberapa poin-poin atau ruang lingkup dalam makalah kami yaitu hal-hal yang melatar belakangi munculnya strukturalisme dan juga kami ulas dengan tuntas mengenai aliran struturalisme beserta diskriptif dari berbagai tokoh. Kemudian dalam analisis kami gunakan berbagai literature buku diantaranya buku karangan K. Bertens Jilid II dengan judul buku Filsafat Kontemporer, Kamus Loren Bagus, dan dengan buku Pengantar Linguistik Umum, F. Sausure dan lain-lain.
Dalam analisis data disini, juga kami gunakan hasil-hasil diskusi bersama yang telah dilakukan selama 1 minggu di Pakuniran bersama semua teman-teman Kelompok Kajian Pojok Surau (KKPS) angkatan 2007. Dan juga kami arahkan kemampuan kami semaksimal mungkin untuk menganalisa dan mengkritisi aliran strukturalisme dalam berbagai buku dan asumsi-asumsi dari para intelektual muda.
Sistematika penulisan dalam makalah ini dengan diawali pendahuluan dalam BAB I, kemudian kami bahas secara tuntas dari beberapa isi makalah dalam BAB II dan kami simpulkan dari berbagai penjelasan dari pembahsan isi makalah dalam BAB III serta terhakhir kami lampirkan daftar pustaka sebagai penguat literatur.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tokoh-tokoh dalam Strukturalisme
Beberapa tokoh dalam strukturalisme yang sering kita jumpai dan menjadipembahasan yang alot serta selalu menimbulkan tanda tanya besar dalam benak kita maupun dan merupakan pengkajian kita bersama. Pembahasan ini akan memakan waktu begitu lama untuk memahami dan mengaplikasan dalam kehidupan manusia tentang apa yang sebenarnya strukturalisme. Tentunya, tidak mudah untuk mengetahui hal itu karena kita harus memahami tokoh-tokoh dalam aliran strukturalisme tersebut. Dengan begitu, kita akan lebih mensentralkan pengkajian dalam mengetahui hakikat strukturalisme itu sendiri.
Strukturalisme disini sebagai proses membangun dalam berinteraksi satu sama lain dan mengembangkan kebudayaan mereka sendiri dengan tujuan sebagai reaksi terhadap evolusionisme positif dengan dengan menggunakan metode-merode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Terciptanya berbagai dialektika dan usaha-usaha tersebut, sehingga strukturalisme mulai dikembangkan oleh beberapa filsuf seperti Claude Levi-Strauss (linguistic perancis), Jacques Lacan (Psikoanalisa), Roland Barthes (Kritik sastra) dan filsuf-filsuf strukturalis yang lain. Oleh karena itu, strukturalisme tidak hanya digunakan untuk bahasa saja sebagaimana seorang filsuf yang berdasar pada prinsip-prisip Sausure, akan tetapi digunakan dalam bidang yang lain.
Perkembangan struktururalisme yang digunakan dalam berbagi bidang oleh beberapa filsuf mewujudkan pentingnya relasi-relasi dan komunikasi (social-komunis) yang terstruktur dalam kehidupan manusia. Relasi-relasi dan komunikasi yang inten serta continue mewujudkan berbagai akumulasi, revolusi serta evolusi dalam sebuah komunitas (polis). Usaha dalam membangun itulah yang dijadikan landasan oleh pemikir-pemikir dalam menganalisa realitas kehidupan. Tidak mudah untuk membentuk peradaban dalam kehidupan manusia, karena adanya beberapa kesulitan-kesulitan, kejadian yang tidak diharapkan, serta kejadian yang diluar dugaan kita.
Diantara faktor-faktor yang memajukan strukturalisme di dalam beberapa ilmu ialah diciptikannya semiotika (kombinasi pemikiran), ide-ide Sausure dalam Linguistik, ide-ide Levi-Strauss dalam Etnologi, dan L.S. Vygotsk dan Piaget dalam Psikologi, serta tampilnya metalogika dann metamatematika (Frege, Hillbert).
Mungkin kita akan lebih memahami tentang aliran strukturalisme dengan mendalami tokoh-tokoh strukturalisme serta pemikirannya, dan sejarah tokoh tersebut. Karena dengan mengkomparasikan dan menilik sejarah kembali dari beberapa tokoh, sehingga dapat menyimpulkan definisi baru dan pemahaman baru tentang stukturalisme. Secara struktur apa yang ada di dunia ini, tanpa adanya struktur barang kali kehidupan manusia tidak akan terarah. Sesutu yang terjadi di dunia ini bukan karena kebetulan, tapi sudah terstruktur sebelumnya. Marilah kita dalami dan pelajari beberapa tokoh yang mereformasi dan mengembangkan strukturalisme dalam hal lain.
1. Claude Levi-Strauss
a. Riwayat Hidup
Claude Levi-Strauss, dilahirkan di Brussel, Belgia, tahun 1908 dari orang tua Yahudi yang berkebangsaan Prancis. Tahun 1914 mereka pindah ke Versailles, Prancis. Ia belajar filsafat di Universitas Sorbonne. Tetapi pada waktu itu dalam rangka studi flsafat diberi kesempatan juga untuk mendalami karya-karya ilmu social (E. Durkheim, M. Mauss, dan lain-lain), karena antropologi budaya belum merupakan suatu spesialisasi akademis tersendiri. Ia memperoleh aggregation de philosophie (1932) dan untuk bebrapa waktu mengajar filsafat di salah satu Lycee. Tahun 1934 ia menjadi professor sosiologi di San Paolo, Brazil (1934-1937). Sementara itu bebrapa kali ia melakukan penelitian etnografis di pedalaman Brazil. Tehun 1938-1939 ia dapat mengikuti suatu ekspedisi ke daerah Indian di pendalaman brazil. Tahun 1939-1940 ia memnuhi wajib militernya di Prancis. Setelah kota Paris jatuh dalam tengan tentara Jerman, ia berhasil pindah ke luar negeri dan akhirnya sesudah singgah di beberapa tempat lain tiba di New York di mana ia menjadi dosen pada The new scholl of social research. Di situ ia bertemu dengan Roman Jacobson, perjumpaan yang sangat menentukan untuk karier ilmiah Levi-Strauss. Melalui Jacobson ia berkenalan dengan Linguistik modern dan menemukan kemungkinan-kemungkinannya untuk antropologi. Tahun 1945 ia mempublikasikan artikelnya “analisa structural dalam Liguistik dan antropologi” dalam majalah Word, organ dari The linguistic cirde of New York yang didirikan oleh Jacobson. Bersama Jacobson ia menulis juga suatu analisa structural tentang sajak penyair Prancis Baudelaire yang berjudul Les chat. Tahun 1947 ia pulang ke Prancis. Ia menjadi direktur studi pada Ecole pratique de hautes etudes (1950-1974) dan mencapai puncak kariernya dengan diangkat sebagai professor antropolog padaCollege de France (1959). Ia mendapat banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri, seperti Prix Paul Pelliot (1949), The Huxley memorial medal (1965), medali emas dari Centre national de larecherche scientifique (1968), penghargaan tertinggi di bidang ilmiah di Prancis, dan Hadiah Erasmus (1973). Tahun 1973 juga ia diterima sebagai anggota Academia Francaise. Dalam sejarahnya juga diceritakan, bahwa Levi-Strauss juga dipengaruhi oleh ketiga filsuf pada masa mudanya dan menentukan kehidupannya sebagai sarjana kemuadian, yaitu filsafat Karl Marx, Psikoanalisa Simund Freud, dan ilmu geologi. Inilah sedikit ulasan sejarah Levi-Strauss pada masa mudanya.
b. Karya-karya
Di antara karya-karya boleh disebut: La vie familial et sociale des Indiens Nambikwara (1948) (Hidup kelurga dan hidup sosial pada Indian-Indian Nambikwara); Les structurares elementaires de la parente (1949; edisi yang direvisi 1967) (Struktur-struktur elementer kekerabatan); Trietes tropiques (1955) (Daerah tropika yang menyedihkan) adalah otobiografinya yang menjadi sukses besar. BukuAntropologie structural (1958) (Antropologi structural) mengumpulkan pelbagai artikel dan publikasi kecil. Le totemisme aujourd’hui (1962) (Totemisme dewasa ini); La pensee sauvage (1962) (Pemikiran Liar). Studi besar tentang mitologi diberi judul umum My thologiques dan terdiri atas empat jilid tebal (1964; 1967; 1968, 1971); judul ini barangkali dapat diterjemahkan sebagai “Mitologi-mitologi” sebab dalam nama Prancis sengaja terdapat referensi pada kata “Logika” dalam bahsa inggris telah telah dipilih terjemahan: Introduction to a science of mythology. Antropologie structural deux (1973) (Antropologi Struktural Jilid Kedua) mengumpulkan lagi sejumlah karangan kecil. La voie des masques (1973) (Jalan Topeng-Topeng) mempelajari topeng-topeng dari kebudayaan-kebudayaan primitive dalam hubungan dengan mitologi mereka. Myth and meaning (1978) adalah buku kecil yang memuat ceramah-ceramah yang diberikan Levi-Staruss untuk Radio Kanada siaran berbahasa Inggris. Le regard elogne (1983) (Pandangan Jauh) merupakan kumpulan artikel-artekel yang sebagian besar mendalami tema-tema dari karya-karyanya yang lain.
Kiranya kita sudah ini cukup sebagai dasar pemikiran Levi-Strauss mulai dari perjalanan hidupnya untuk dijadikan bahan untuk kita analisa.perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sangat sangat mendominasi juga kepada pemikirannya. Dengan begitu kita bisa memahami pola pikir dari filsuf ini dengan mengaitkan riwayat hidup dan karya-karyanya sewaktu dia masih dalam pencarian kepribadiannya menjadi seorang filsuf Prancis pada saat itu dengan sebutan bapak strukturalisme Prancis.
c. Pemikiran-pemikiran Levi-Strauss
Perlu kita underlaine sebelum dia berikhtiar merealisasikan program secara sistematis pemikirannya Mauss, yaitu untuk memadukan antara sosiologi dengan mengikut sertakan ilmu bahasa dengan tujuan agar supaya lebih maju, yang terjadi sekitar 1920-an. Fonologi terutama ditandai tiga cirri yang ketiga-tiganya dapat dimanfaatkan dala ilmu antropologi yaitu sebagai berikut:
1) Bahasa seluruhnya merupakan suatu sistem tanda, demikian pun juga, unsusr-unsur bahasa yang disebut fonem-fonem merupakan suatu sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi.
2) Sistem itu dipelajari secara sinkonis, sebelum orang menyelami masalah-masalah diakronis.
3) Hukum-hukum Linguistik memperlihatkan suatu taraf tak sadar. Hukum-hukum tata bahasa misalnya diterapkan orang tanpa ragu-ragu. Padahal orang tidak mengenal hukum-hukum itu secara sadar. Itu berarti bahwa sistem bahasa dibentuk oleh “psike manusiawi” yang tidak reflektif dan tidak sadar.
Dalam karang Struktur-struktur elemeter kekerabatan, yang merupakan karang terbesar Levi-Strauss pertama kali memberikan perhatian dunia terpelajar internasional. Di situ ia berikhtiar menganalisa dan menjelaskan sistem-sistem kekerabatan primitif (krinship sistem) dengan menggunakan metode strukturalistik. Dia menyetarafkan antara kekerabatan dengan obyek Linguistik dengan argumen-argumen yang kuat, seakan kekerabatan dapat dianggap sebagai semacam bahasa. Kekerabatan dan perkawinanan merupakan sebuah sistem dan sistem itu terdiri atas relasi-relasi dan oposisi-oposisi. Seperti suami-istri, bapak-anak, saudara lelaki-saudara perempuan. Itu semua sama seperti bahasa, kekerabatan merupakan sebuah sistem komunikasi. Bahasa adalah sistem komunikasi, karena ada informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh individu kepada individu lain. Dan karena alasan klan-klan atau famili-famili atau grup-grup sosial lain tukar-menukar wanita, sebagaimana bahasa sebagai penukaran, komunikasi, dialog, demikian pun kekerabatan.
Dengan menerapkan metode-metode struktural dalam penyelidikan relasi-relasi kekerabatan, Levi-Strauss beranggapan dapat mencurahkan cahaya baru atau suatu masalah yang sudah lama dipersoalkan dalam antropologi, yaitu larangan Incest. Ada beberapa interpretasi dari Incest ini, namun Levi-Strauss menafsiri bahwa larangan Incest adalah sama universal seperti bahasa. beberapa cara yang diterapkan oleh ilmu antropologi dalam berusaha melarang Incest tersebut, diantaranya dengan menggunakan teori biologis/eugenetis (larangan itu mempunyai dasar alamiah, karena orang tua kerabat akan melahirkan keturunan yang tidak sehat), teori psikologis (orang yang dibesarkan tidak merasa daya tarik seksual satu sama lain) dan beberapa teori sosilogis seperti yang digunakan Durkheim dalam melarang Incest ini.
Dalam hal ini, Levi-Strauss mengambil itu suatu hal yang negatif, akan tetapi aspek yang negative dari fenomena positif. Sehingga dia mengambil sebuah kesimpulan dengan adanya perintah mengenai “eksogami” (menikah dengan wanita dari klan lain) yang mempunyai sebab akibat negative larangan terhadap “andogami” (menikah dengan wanita dari klan yang sama) yang menjadi dasar hubungan-hubungan sosial dan kultur pada umumnya ialah pertukaran (L’echange). Dengan demikian, Levi-Strauss dapat menerangkan larangan Incest yang dalam grup-grup sosial konkret tanpak dalam macam-macam bentuk sebagai perwujudan yang berlain-lainan dari struktur yang identik dan universal. Dalam pemikiran Levi-Strauss juga dikatakan dalam buku ini (pemikiran liar) 1962 bahwasanya tidak ada perbedaan antara “pemikiran liar” dan “pemikiran jinak”, antara dalam pemikiran masyarakat primitif dan pemikiran sekarang ini (modern). Pemikiran primitf tidak bersifat pra-logis, kalau dibandingkan dengan pemikiran modern sebagaimana pendapat yang dilontarkan oleh Lucien Levy-Bruhl, seorang filsuf dan sosiolog Prancis. Buku ini juga merupakan kritikan tajam kepada Sartre terhadap bukunya Kritik atas Rasio yang terbit dua tahun sebelumnya. Menurut Levi-Strauss, Sartre sebenarnya masih menganut pendapat tersebut. Tetapi harus ditekankan, pemikiran primitive maupun pemikiran ilmiah yang modern kedua-duanya berpikir logis. Hanya caranya berlainan. Perbedaannya menurut Levi-Strauss, kalau “pemikiran liar” bekerja pada taraf inderawi, merupakan pemikiran konkret. Sedangkan “pemikiran modern” merupakan pemikiran yang abstrak dan cara hitungnya pun berbeda. Sehingga dia memperlihatkan secara luas klasifikasi-klasifikasi yang tersusun dalam masysrakat-masyarakat primitif (menyangkut tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang dan lain-lain). Inti pemikiran dari Levi-Strauss ialah menciptakan orde atau tata susunan.
Levi-Strauss juga memecahkan problem yang sering muncul dalam ahli antropologi budaya, yaitu tentag totemisme. Menurutnya, totemisme sebagai sebagai sistem sosiu-religius yang terdapat di tempat-tempat yang berbeda (Australia, Afrika, dan Amerika) tanpa relasi satu sama lain. Totemisme hanya sebagai salah satu penerapan dalam pemikiran konkret yang dijalankan oleh masyarakat-masyarakat primitif. Totemisme juga merupakan suatu pendekatan teoritis yang pertama terhadap realitas di mana realitas-realitas di mana relasi-relasi konkret yang diamati yang diterapkan pada realitas itu sendiri.
Dengan adanya dua cara pemikiran yang berbeda ini, sehingga Levi-Strauss mampu menetukan bagaimana kerjanya psike manusiawi pada umumnya. Dengan demikian ia sampai pada pendiriannya mengenai une pensee sans sujet (pemikiran tanpa subyek). Dikatan, bahwasanya pemikiran tidak berasal dari suatu “subyek”. Berfikir adalah mengklasifikasi. Sudah menjadi kesepakatan dan diterima dalam seluruh tradisi filsafat barat: mulai dari Descartes sampai dengan Sartre bahwa subyek tidak mempunyai peranan. Dengan berpikir manusia hanya mempraktekkan struktur yang terdapat dalam realitas, struktur yang terdapat dalam benda-benda.
Sampailah pemikiran dari materialistik yang ekstrem tentang hidup psikis manusia. manusia merupakan sebagian dari kosmos atau realitas material yang tidak membuat lain daripada mencerminkan kosmos itu sendiri. Akibatnya, bagi Levi-Strauss pada akhirnya tidak ada perbedaan prinsipial antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan manusia, dua-duanya mempelajari hal yang sama.
Dalam buku Mythogique Levi-Strauss juga berusaha mewujudkan dan mencoba mengaitkan ke dalam pemikiran liar. Menurutnya, psike selallu dideterminasi oleh struktur-struktur tak sadar dalam segala pekerjaannya. Dan Levi-Strauss menginterpretasikan mitologi juga terdiri dari relasi-relasi serta oposisi-oposisi dan dengan cara demikian “pemikiran liar” barhasil menciptakan keteraturan dalam dunianya.
Dalam mengkaji mitos-mitos hauslah tidak melihat dari satu arah saja, tapi bisa dilihat dari beberapa arah. Kita bisa mengulas dan memulai pengkajian tersebut dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Dengan begitu kita akan tau apa saja yang harus kita cari dan kita gali. Sehingga sampailah pada kesetaraan dan keseimbangan dalam kehidupan dan menjadikan struktur itu (relasi-relasi) lebih sistematis.
2. Jacques Lacan
a. Riwayat Hidup
Jacques Lacan adalah salah satu tokoh dari strukturalisme yang menganggap Levi-Strauss telah meninggalkan psikoanalisa Freud sebagai satu-satunya sumber inspirasi bagi usahanya di bidang strukturalisme dan lebih memntingkan taraf tak sadar. Ia dilahirkan di Paris dan belajar ilmu kedokteran serta psikiatri di kota asalnya (1901-1981). Tahun 1932 ia meraih gelar “doktor dalam ilmu kedokteran” dengan disertai la psychose paranoque dans ses rapport avec la personalite (dicetak ulang tahun 1975) (Psikosa Paranoia dalam Hubungan dengan Kepribadian). Tahun 1936 ia member ceramah pada kongres ke-14 dari “Himpunan internasional untukpsikoanalisa” di Marienbad tentang teorinya yang disebut “fase cermin” ia menolak sikap emperistis dan sientestis, ia menentang bertambah pentingnya Ego psychology dikalangan mereka (Hartmann, Kris, Loewenstein dan mempersoalkan tendensi “medikalisasi” pada analisis-analisis Amerika. Dalam hal terakhir ia dekat dengan ikhtiar Freud sendiri dalam Masalah analisa awam (1927). Di Paris is mendirikan suatu himpunan baru Societe Francaise de Psychanalyse (1953). Tahun 1964 himpunan baru itu dibubarkan dan diganti dengan Ecole Freudienne de Paris (sekolah Freudian di Paris). Inilah sekilas sejarah perjalanan pada masa mudanya.
b. Karya-karya
Karya Lacan yang tebal berjudul Erits (1966) (Karangan-karangan) terdiri dari ceramah-ceramah yang diberikannya pada pelbagai kesempatan. Sejak tahun 1953, secara berkala ia memberikan seminar-seminar ia menarik semakin banyak peminat dan menjalankan pengaruh besar sekali atas kehidupan intelektual di Paris pada tahun 60-an dan 70-an. Seminar-seminar tersebut selalu direkam dan dengan persetujuan dan kerja sama tersebut selalu direkam dan dengan persetujuan dan kerja sama Lacan sendiri mulai diterbitkan sejak tahun 1975 dengan judul Le seminaire de Jacquea Lacan, dibawah pimpinan menantunya Alain Miller. Tahun 1974 terbit bukunya Television (Televisi). Sangatlah sulit untuk menemukan karya-karya Lacan karena sulit untuk dibaca dan dengan jelas ia menerangkan pemikirannya dengan cara lisan, sedangkan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (karya) sangat sulit untuk dipahami.
c. Pemikiran-pemikiran Jacques Lacan
Sejarah Lacan mengatakan bahwa Lacan sedikit banyak dipengaruhi oleh Psikonalisa Freud Hegel dan juga Heidegger. Dalam Spikonalisa Freud, ia memperlihatkan suatu decentrement (dalam bahasa Inggris telah diterjemahkan) pada manusia. ia memperkenalkan kita dengan kenyataan bahwa manusia “seakan-akan tergeser dari pusatnya”. “manusia tidak lagi tuan atau penguasa dalam rumahnya sendiri”, ini yang dikatakan Freud. Anggapan tersebut bukan sebuah revolusi dalam cara memandang manusia yang dimainkan oleh kesadaran dalam seluruh pemikiran Barat sejak Deskartes dan Lacan menjelaskan ketidaksadaran itu dalam cahaya penemuan-penemuan Sausure antara significant dansignifie, antara “penanda” dan “yang ditandakan”, juga dibuat landasan oleh Lacan. Bahasa (langue seperti yang dimengerti Sausure ) merupakan suatu sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang mempunyai prioritas terhadap subyek yang berbicara. Manusia tidak membuat sistem itu tapi sebaliknya takluk padanya. Menurut Lacan hal yang sama berlaku juga untuk ketidaksadaran. Ketidaksadaran semacam Logos yang mendahului manusia perseorangan.
Lacan juga membahas ketidaksadaran dalam konteks percakapan psikoanalitis atau percakapan seorang psikoanalis sama pasiennya atau analisannya. Merupakan pendapat Lacan akan hal itu ketidaksadaran mempunyai struktur yang sama seperti bahasa. Ia juga sependapat dengan Freud bahwa manusia “telah tergeser dari pusatnya”.Dalam percakapan psikoanalitis subyek tidak berbicara, tetapi dibicarakan: le sujet y est parle plutot qu’il ne parle (Ecrits, hlm. 280). Bukan saya yang berbicara; ada yang bicara dalam diri saya (it speeks in me). Ketidaksadaran merupakan le discours de l’Autre (diskursus dari yang Lain) (Ecrist, hlm. 379). Dari bebrapa uraian di atas, sudah jelas bahwa Lacan tidak mempercayai dengan adanya peran subyek, oleh karena itu ia beranggapan ada orang lain dalam diri manusia.
3. Roland Barthes
a. Riwayat Hidup
Tokoh ini yang memainkan peran penting dalam aliran strukturalisme pada tahun 60-an dan 70-an di Paris (1915-1980). Ia dilahirkan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne serta Paris. Dan ia mempelajari sastra dan klasik (Yunani dan Romawi) di Universitas Sorbonne, ia lama berobat di beberapa sanatoria (1942-1947). Ia mengajar bahasa dan sastra Prancis di Bukarest (Rumania) dan Kairo (Mesir). Sesudah kembali di Prancis ia bekerja untuk Centre national de recherché scientique (Pusat rasional untuk penelitian ilmiah) dan menulis artikel-artikel tentang sastra. Dari tahun 1960 ia menjadi asisten dan kemudian “direktur studi” dari seksi keenam Ecole pratique deshautes etudes. Pada tahun 1976 ia diangkat sebagai professor untuk “semiologi literer” di College de Frauce. Tahun 1980 ia meninggal pada umur 64 tahun, akibat ditabrak mobil di jalanan Prancis sebulan sebelumnya.
Roland Barthes dipengaruhi oleh para filsuf yang menandai zamannya, seperti misalnya eksistensialisme, marxisme, dan strukturalisme, sehingga pemikirannya menentang segala macam kontinuitas serta kesatuan dan sebaliknya menekankan diskontinuitas serta pluralitas.
b. Karya-karya
Karya pertma kali ia tulis, dengan judul Le degree zero de L’ecreture (1953) (Nol derajat di Bidang Menulis), dengan karyanya ini ia berpendirian sendiri dan menempuh jalan hidupnya dengan tidak bergantung dengan siapapun. Dalam buku ini menunjukkan pemikirinnya pada kritikan atas kebudayaan borjuis. Dalam hal ini sejalan dengan Sartre dan beberapa Marxis Prancis pada waktu itu. Kemudian menulis karya lagi dengan judul Mythologies pada tahun 1957 (Mitologi-Mitologi), karya yang ditulis ini menganalisa data-data kultural yang dikenal umum seperi Citroen DS, balap sepeda Tour de France, reklame dalam surat kabar dan lain-lain sebagai gejala masyarakat borjuis dan ia juga berusaha memperlihatkan ideologinya. Dikatakan juga dalam sebuah sejarah tahun 1956 ia membaca buku Saussure Kursus tentang Linguistik Umumdan mulai menyadari kemungkinan-kemungkinan untuk menerapkan semiologinya atas bidang-bidang lain. Pemikirannya bertentangan dengan Saussure, Barthe beranggapan bahwa semiologi termasuk linguistik dan tidak sebaliknya. Pada tahun 1964 juga mengarang dalam buku kecil dengan judul Element de semiologie. (Beberapa Saussure Semiologi). Buku lain juga dikarang oleh Barthes yaitu System de la mode (Sistem Mode) pada tahun 1967, merupakan suatu percobaan metode analisa struktural atas mode pakaian wanita. Diantara buku-buku Barthes yang lain bisa disebut juga L’empere des signes (1970) (Kekaisaran Tanda-Tanda), tentang Jepang, suatu Negara yang banyak dikagumi oleh Barthes dan strukturalisme pada umumnya. Ia juga menulis otobiografinya dengan judul Roland Barthes par Roland Barthes (1979) (Roland Barthes oleh Roland Barthes). Buku ini ditulis dengan menggunakan orang ketiga (“ia” atau juga “RB). Inilah sedikit ulasan mengenai karya-karyanya sewaktu masih menjadi filsuf hingga berkembang dan menjadi rujukan para pemikir sekarang.
c. Pemikiran-Pemikiran Roland Barthes
Pemikiran-pemikirannya tidak jauh dari beberapa filusf yang menjadi pengaruh dalam hidupnya. Seperti halnya Barthes mengikuti pendapat E. Benveniste, ahli linguistik Prancis besar yang berasal dari Libanon. Benveniste menekankan bahwa sekolompok tanda baru berarti bila dapat dibahasakan. Karena itu bahasa mempunyai perioritas di atas semua sistem tanda-tanda yang lain. Dalam karang yang telah dijelaskan di atas dalam buku yang berjudul Sistem Mode, Barthes memperlihatkan bahwa dibelakangnya terdapat suatu sistem yang mengatur kehidupan manusia dalam berinteraksi satu dengan yang lainya.
Berthes mempersoalkan pandangan tradisional, karena menurut Balzac sering dibandingkan dengan melukis, akan tetapi Barthes memprlihatkan bahwa realisme Balzac itu sebetulnya tidak melukiskan kehidupan, tetapi hanya pandangan-pandangan yang sudah fixed tentang kehidupan. Ia melukiskan steroip-steroip tentang kehidupan. Dengan demikian Barthes menganggap realisme terdiri bukan atas meniru yang real, melainkan atas meniru suatu tiruan dari yang real. Sehingga Barthes mulai penyelidikannya dengan membagi buku Sarrasine atas yang disebutnya 561 lexies yang semua diberi nomor. Istilah lexie dipergunakan untuk menunjukkan “satuan bacaan”. Ada Lexie yang terdiri dari beberapa kata dan ada Lexie yang terdiri dari beberapa kalimat. Setelah teks dipotong-potong menjadi satuan-satuan itu dapat dikombinasikan satu dipertentangkan. Untuk itu ia menggunakan lima kode: kode hermeneutis dan aksional, kode semantik dan simbolis, dan akhirnya kode referensial. Kode terahir misalnya menjadi relasi-relasi dengan realitas di luar teks.
4. Louis Althusser
a. Riwayat Hidup dan Karya-karya
Prancis disaat Negara Barat banyak yang memusatkan perhatiannya pada Maxisme, bukan saja di bidang politik (Pracis sudah lama mempunyai Partai Komunis yang kuat) melainkan juga dalam kalangan intelektual. Terutama di awali sejak Perang Dunia II kaum cendekiawan Prancis merasa tertarik akan Filsafat Karl Marx. Sebelum kita mempelajari pemikiran Althusser, terlebih dahulu harus mengetahui terlebih dahulu keterkaitannya dengan strukturalisme. Walaupun ia menolak nama “struturalis” namun tidak dapat disangkal bahwa ada persamaan tertentu antara beberapa pikiran Althusser dan prinsip-prinsip dasar dalam strukturalisme.
buku-buku karangan yang ditulis oleh Althusser juga harus kita pelajari, untuk mengetahui bagaimana hubungan Althusser dengan strukturalisme. Seperti buku dengan judul Pour Marx (1965) (Demi Marx) dan Live le Capital (1965), dua jilid (Membaca Das Kapital). Buku yang terakhir ditulis bekerja sama dengan orang lain. Dan perlu dikaji lagi bahwa terbitnya kedua buku ini persis ketika strukturalisme pada puncaknya, inilah yang membuktikan keterkaitan antara karya-karyanya dengan kemajuan strukturalis. Sekita itu, pemikirannya dikaitkan dengan strukturalisme. Sebagaimana Lacan membaca dan menginterpretasikan freud, dan juga Althusser malakukan hal yang sama pada Marx.
b. Pemikiran-Pemikiran Louis Althusser
Pemikiran Althusser bertentangan dengan pemikiran tradisional, karena ia menganggap bahwa Marx kelihatan keretakan epistemologis, suatucoupure epistemologique. Keretakan itu berlangsung sekitar tahun 1845-1850. Hal itu menjadi kebiasaan membagikan karya-karya Marx ke dalam dua kelompok, yaitu karya mudanya dan karya pada waktu matangya sehingga menimbulkan definisi Marx Tua dan Marx Muda. Asumsi-asumsi orang menganggap karya mudanya diperdalam dan dikembangkan pada masa matangnya. Dengan kata lain, karya-karya masa mudanya dengan dasar pengolahan teknis (berdasar ilmu ekonomi) dari pandangan manusia pada masa mudanya. Akan tetapi menurut Althusser kontinuitas semacam itu tidak ada. Antara kira-kira tahun 1845-1850.
Ia mengatakan Marx sudah berpaling dari pendapat-pendapat terdahulu. Sampai saat itu Marx melukiskan suatu pandangan humanistik. Dalam konteks itu kerap kali ia menggunakan konsep-konsep seperti: subyek, kodrat manusiawi, makna, aliensi, dan sejarah. Dengan demikian, ia meneruskan pendirian antropologis dari Kant, Hegel, Fiche, dan Feuerbach. Tapi dengan berpaling dari pemikiran humanistik ini Marx menghadapi suatu problematik yang sama sekali baru. Dan bagi Althusser, itulah permulaan filsafat Marx memakai suatu terminology baru. Konsep-konsep yang dipergunakan sekarang adalah konsep yang boleh disebut “ilmiah” obyek, bentuk, struktur dan sebagainya. Dapat dipahami bahwa menurut Althusser buku yang berjudul Das Kapital mulai menjadi sebuah reformasi dalam perkembangan strukturalisme pada tahun 1850 dan memuat ajaran Marx yang sebenarnya.
Kalau sekarang ilmu-ilmu manusia seperti lingustik, psikoanalisa dan antropologi telah memberitahuakan kepada kita bahwa “manusia sudah tergeser dari pusatnya” maka menurut Althusser kita harus membaca Marx juga dalam cahaya itu. Dan hal itu memungkinkan, karena tujuan Marx dalam Das Kapital adalah memperlihatkan bahwa manusia merupakan produk dari struktur-struktur sosio-ekonomis. Syarat-syarat manusia “dari luar”. Manusia tidak merupakan subyek otonom dari ekonominya alat-alat konseptual yang cocok dengan tujuan itu. Juga dalam Das Kapital masih terdapat sisa-sisa dari pandangan humanistis. Justru karena itulah filsafat Marx harus diinterpretasikan kembali. Dan lagi Althusser interpretasi serupa itu baru sekarang menjadi mungkin.
5. Michel Foucault
a. Karya-karya
“Epistemologi” merupakan sebuah istilah yang sudah lazim dipakai di Prancis, refleksi filosofis tentang kodrat dan sejarah ilmu pengetahuan. Michel Foucault juga menjalankan hal ini secara reflektif pada tahun 1926-1984 dalam bukunya Les mots et Les choses. Une arccheologie des sciences humaines (1966). (Lata-kata dan Benda-benda. Sebuah Arkeologi tentan Ilmu-ilmu Manusia). pemikiran Foucault juga sebagai keseluruhan yang akan dibicarakan secara panjang lebar. Ia sendiri dengan tegas mengungkapkan dan tidak mau kalau diklaim aliran strukturalisme. Tetapi juga tidak bisa mengelakkan waktu terbitnya buku dengan judul Kata-kata dan Benda-benda tahun 1966, tepatnya pada masa kejayaan strukturalisme. Buku ini disambut sebagai segala gejala lain dari strukturalisme yang sama. Malah Foucault dianggap sebagai strukturalis yang paling radikal. Dan memang mempunyai alasan maupun tema yang jelas mendekatkan Foucault dengan strukturalisme.
Buku yang ditulis dengan judul Kata-kata dan Benda-benda, dengan memberi perhatian khusus kepada strukturalisme. Inilah yang menjadikan kegemparan dalam berbagai tokoh-tokoh pemikir dalam berbagai kalangan, sehingga menyebabkan asumsi-asumsi yang menganggap banyak terangkan lagi, namun banyak dikatakan tetapi sedikit saja dibuktikan. Buku ini yang membuat ia populer dan sukses besar (sebetulnya sangat mengherankan, melihat derajat kesulitannya) dan dianggap sebagai salah satu karya strukturalistik yang sangat penting. Oleh karena itu juga, ia dianggap sebagai salah satu aliran strukturalis.
b. Pemikiran Foucault
Pemikiran Foucault salah satunya adalah tentang kata episteme sebagaimana yang digunakan oleh bangsa Yunani ini berarti “Pengetahuan”, tetapi Foucault digunakan dalam arti khusus. Menurut dia pula, tiap-tiap zaman mempunyai pengandaian-pengandaian tertentu, prisip-prinsip tertentu, syarat-syarat kemungkinan tertentu, cara-cara pendekatan tertentu. Kata episteme digunakan oleh Foucault untuk menunjukan semua pengandaian itu sendiri. Setiap zaman mempunyai suatu episteme tertentu yang merupakan landasan dan fundamen epistemologis bagi zaman itu.episteme itu juga menentukan cara ilmu pengetahuan akan dijalankan. Episteme yang tidak mareformasikan terhadap Undang-undang dalam sebuah Negara, Foulault berusaha menggalin episteme-episteme yang meneruskan pelantaian S2. Dengan usahanya Foucault menentukan pelbagai zaman. Seluruh usaha inilah yang dimaksudakan dengan kata “arkeologi” yang tampil saling tidak ada yang menolong, karya tersebut dibingungkan yang dalan resisten dalam pencarian ketuhanan.
Pada abad ke 16 ia juga menggunakan Epistem pada pelbagai bidang dengan menelami penyelidikan ilmiah dan memasukkan ke dalam tiga lapangan, diantaranya pekerjaan (analisa uang serta kekayaan) dan bahasa (gramaire generale; filologi; linguistik). Foucault menganggap ilmu pengetahuan hanya merupakan satu gejala saja yang dijumpai dalam suatu periode kultural tertentu. Sekilas juga ia menyinggung juga gejala lain (seni lukis, kesusasteraan yunani, dan filsafat). Ia memilih ketiga lapangan tersebut senagai jalan masuk ked ala episteme atau lapisan dasar yang menetukan periode kultural tertentu.
Foucault memperiodekan masa modern (Renaissance) kedalam tiga periode dan masing-masing perode mempunyai hubungan yang berlain-lainnan antara benda-benda dan kata-kata. Beberapa periode harus kita analisa untuk memahami pemikirannya. Zaman pertama adalah abad 16(Renaissance), ketika itu benda-benda dan kata-kata terdapat bersama-sama (umpamanya, dunia dianggap bagian sebuhah kitab yang dapat dibaca). Istilah kunci yang diungkapkan dalam menyingkatkan episteme dala zaman itu adalah ressemblance (Inggris: ressemblance) atau “kemiripan”. Zaman kedua meliputi abad ke-17 dan ke-18 (zaman klasik). Ketika itu kata mulai melepaskan diri dari benda-benda. Istilahepisteme menyingkatkan pada waktu adalah reoresentation (Inggris: representation) atau “pembayangan”. Pada awal abad ke-19 timbullah sesuatu yang baru. Dalam zaman itu yang meliputi abad ke-19 da n ke-20 (zaman baru) benda-benda mempunyai suatu orde atau tata susunan sendiri yang dikuasai oleh hukum-hukum intern. Sifat khas zaman itu adalah pentingnya “perkembangan”, “evolusi” dan “kontinuitas historis”. “Manusia” juga mempunyai pemikiran tersendiri pada abad ke-19 tersebut, sehingga manusia menjadi pusat pengetahuan; dan segala pengetahuan bersifat antropologis dan humanistik. Pendirian Faucault yang maskyhur adalah “Kematisan Manusia” (lamort de L’homme). Setelah “Kematian Allah” diproklamasikan, maka Foucault meramalkan “Kematian Manusia”.
Foucault menganggap ilmu pengetahuan tidak seperti halnya para pemikir-pemikir lainnya. Nagi Foucault, biologi, ekonomi, dan linguistik tidak terhitung ilmu pengetahuan manusia itu, karena obyeknya bukanlah “manusia”ilmi biologi mempelajari kehidupan pada umumnya. Sedangkan ekonomi dan linguistik menyelidiki hukum-hukum alam. Setelah itu, muncullah ilmu baru yaitu psikonalisa dan antropologi budaya. Tetapi juga dua ilmu itu tidak mengambil “manusia” sendiri sebagai obyek kajiannya. Psikonalisa membicarakan ketidaksadaran, bukan untuk menghilangkan ketidaksadaran itu, melainkan untuk mengakui ketidaksadaran sebagai suatu sistem yang tetap menguasai manusia. Antropologi budaya, disini dimaksudakan adalah Levi-Strauss sebagai tokohnya. Membahas kebudayaan-kebudayaan yang tidak diketahui sejarahnya dan memperlihatkan struktur-struktur tetap yang menentukan kebudayaan-kebudayaan itu. Akibatnya psikoanalisa dan antropologi tidak menguraikan “manusia”, melainkan justru meleburkan mengenai “manusia”.
Jadi, yang dimaksudkan ilmu pengetahuan manusia menurut Foucault adalah psikologi, sosiologi, dan studi mengenai kesusasteraan serta mitologi. Ia menerangkan juga bahwa mereka makin cenderung mencari modelnya pada biologi, ekonomi dan linguistik. Dengan maksud lain, manusia adalah sebagai sumber otonom dari tingkah lakunya sudah hilang. Manusia ssudah tidak lagi sebagai titik pusat dan pada manusia terdapat suatu pemikiran dari luar.
B. Semiotika dan Strukturalisme
Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis model lingusitik Saussure. Strukturalis bertujuan untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian sistem tanda sebagai bahasa seperti yang dilakukan Lévi-Strauss dan mitos, keteraturan hubungan dan totemisme, Lacan dan alam bawah sadar; serta Barthes dan Greimas dengan grammar pada narasi. Mereka melakukan suatu pencarian untuk suatu struktur yang tersembunyi yang terletak di bawah permukaan yang tampak dari suatu fenomena. Social Semiotics kontemporer telah bergeser di bawah concern para strukturalis yang menemukan relasi internal dari bagian-bagian di antara apa yang terkandung dalam suatu sistem. Melakukan eksplorasi penggunaan tanda-tanda dalam situasi tertentu. Teori semiotik modern suatu ketika disatukan dengan pendekatan Marxist yang diwarnai oleh aturan ideologi.
Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure, strukturnya adalah bahasa. Kesemuanyamendahului subyek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan1.
Strukturalisme terutama berkembang sejak Claude Levy-Strauss Hubungan antara bahasa dan mitos menempati posisi sentral dalam pandangan Lévi-Strauss tentang pikiran primitif yang menampakkan dirinya dalam struktur-struktur mitosnya, sebanyak struktur bahasanya. Mitos biasanya dianggap sebagai ‘impian’ kolektif, basis ritual, atau semacam ‘permainan’ estetika semata, dan figur-figur mitologisnya sendiri dipikirkan hanya sebagai wujud abstraksi, atau para pahlawan yang disakralkan, atau dewa yang turun ke bumi sehinggamereduksi mitologi sampai pada taraf semata sebagai ‘mainan anak-anak’, serta menolak adanya relasi apapun dengan dunia dan pranata-pranata masyarakat yang menciptakannya.
Perhatian Lévi-Strauss terutama terletak pada berkembangnya struktur mitos dalam pikiran manusia, baik secara normatif maupun reflektif, yaitu dengan mencoba memahami bagaimana manusia mengatasi perbedaan antara alam dan budaya. Tingkah laku struktur mitos yang tak disadari ini membawa Lévi-Strauss pada analisis fonemik, di mana berbagai fenomena yang muncul direduksi ke dalam beberapa elementer-struktural dasar, namun dengan satu permasalahan yang mendasar:
Di satu sisi tampaknya dalam mitos apa saja mungkin terjadi. Tak ada logika di sana, tak ada kontinuitas. Karakteristik apapun bisa disematkan pada subjek apa saja ; setiap relasi yang mungkin bisa saja ditemukan. Namun di sisi lain, kearbitreran penampakan ini dipungkiri oleh keserupaan yang mengejutkan di antara mitos-mitos yang dikumpulkan dari berbagai wilayah yang amat luas. Jika muatan dari mitos bersifat kontingen, bagaimana kita menjelaskan suatu fakta bahwa mitos-mitos di seluruh dunia tampak serupa?
Mitos, menurut Levi-Strauss, memiliki hubungan nyata dengan bahasa itu sendiri karena merupakan satu bentuk pengucapan manusia sehingga analisisnya bisa diperluas ke bidang linguistik struktural. Namun tentu saja, analogi seperti ini tidaklah eksak dan mitos tidak bisa dengan begitu saja disamakan dengan bahasa sehingga sekaligus pula harus ditunjukkan pula perbedaannya melalui konsep Saussure mengenai langue dan parole, struktur dan kejadian individual.
Versi-versi individual yang berbeda-beda dalam tiap mitos, yaitu aspek parole-nya, diturunkan dari dan memberikan kontribusi pada struktur dasar langue-nya. Sebuah mitos, secara individual, selalu dikisahkan dalam suatu waktu: ia menunjuk pada kejadian-kejadian yang dipercaya begitu saja pernah terjadi di waktu lampau, namun pola spesifik atau strukturnya dikatakan sebagai sesuatu yang kekal dan ahistoris: ia merangkum mode penjelasan tentang kekinian dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekaligus masa depan.
Maka, setiap kali mitos dikisahkan kembali, ia menggabungkan elemen-elemen langue dan parole-nya, dan dengan begitu mentrandensikan keduanya sebagai penjelasan trans-historis dan transkultural atas dunia. Tidak seperti puisi, mitos tak terpengaruh oleh penerjemahan maknanya: penggunaan bahasa atau aspek linguistik yang paling rendah sekalipun cukup untuk mengungkapkan nilai mitikal dari mitos. Mitos merupakan bahasa, yang bekerja pada suatu tingkat di mana makna terlepas dari tataran linguistiknya.
Berdasarkan anggapan ini, Lévi-Strauss memformulasikan dua proposisi dasar dalam hubungannya dengan mitos:
Makna dari mitologi tidak dapat muncul dalam elemen-elemennya yang terisolir, tetapi haruslah melekat dalam suatu cara elemen-elemen itu dikombinasikan, dan punya peran potensial bagi sebuah transformasi yang melibatkan kombinasi seperti ini. Bahasa di dalam mitos memperlihatkan ciri khasnya yang spesifik: ia menguasai tataran linguistik biasa.
Apa yang ingin coba ditangkap Lévi-Strauss di sini adalah sense tentang adanya interaksi antara dimensi sinkronik dan diakronik, antara langue dan parole dalam mitos, sesuatu yang lebih dari sekadar kisah yang sedang diceritakan. Sebuah mitos selalu mengandung keseluruhan versinya, dan ia mengatakan bahwa mitos itu bekerja secara simultan pada dua sumbu, seperti halnya dalam partitur orkestral, untuk membangkitkan paduan nada dan harmoni.
Di sisi lain, Lévi-Strauss percaya bahwa ia telah menemukan sebuah metode analisis yang melengkapi aturan-aturan formasi, untuk memahami perpindahan dari satu varian mitos ke varian yang lain. Dalam prosesnya, agen-agen mediasi dan validasi bekerja mengatasi realitas kasar dan mentransformasikannya ke dalam bahasanya sendiri. Di sini, mitos muncul sebagai sebuah ‘perangkat-logika’ yang berfungsi menciptakan ritus-perbatasan untuk mengatasi realitas yang saling beroposisi.
Pada titik inilah usaha Lévi-Strauss untuk menemukan aspek langue mitos dan memisahkannya dari parole dengan melakukan analisis fonemik atasnya mencapai batas-batas terjauh dalam memahami bagaimana mitos dikonstruksi oleh masyarakat lampau. Tetapi Lévi-Strauss terpukau dan berhenti di tingkat struktur yang secara rigid memisahkan antara langue dengan parole sedemikian sehingga, baginya, di balik struktur tak ada apapun lagi. Kenyataan bahwa banyak mitos di dunia sangat mirip disimpulkannya dengan sederhana disebabkan oleh adanya aturan-aturan transformasi arbitrer yang menciptakan varian mitos. Kearbitreran ini dimungkinkan karena, bagi Lévi-Strauss, satu-satunya yang kokoh hanyalah mode-mode operasi yang bekerja di dalam struktur. Pemeriksaannya terhadap langue mitos tidak membuka gagasan lebih jauh mengapa muncul ragam-ragam yang unik padanya. Padahal struktur mitos hanyalah penjelasan bahwa ia adalah ‘bahasa khusus’ yang mesti dicari logos di balik langue-nya.
Dalam sebuah mitos suku-suku di Amerika Utara yang mengisahkan tentang Angin Selatan yang jahat karena begitu kencang dan dingin sehingga bila angin ini berhembus manusia tidak dapat beraktivitas secara normal. Demikianlah hingga semua makhluk hidup berusaha menangkap dan menjinakkannya. Pemburu yang berhasil adalah ikan skate yang kemudian menegosiasikan pembebasan angin dengan syarat bahwa ia diijinkan untuk berhembus hanya pada hari-hari tertentu secara berganti-ganti, sehingga meninggalkan daerah itu pada saat manusia dapat bepergian normal. Lévi-Strauss menskemakan mitos tersebut dengan oposisi biner antara alam yang ramah terhadap manusia dengan alam yang bermusuhan, yaitu kehadiran angin dan ketidakhadiran angin, dan melihat aspek yang sama terhadap ikan skate pada posisi manusia memandang ikan tersebut, yaitu bila dilihat dari samping ia seperti segaris pipih yang nyaris tiada sedangkan dari atas tampak sangat besar. Ia menyatakan bahwa ketika orang Indian menjadikan ikan skate sebagai ‘tokoh pendamai’ pada masa transisi kedua kondisi alam tersebut sesungguhnya mereka tengah mengkonkretkan peranan mereka dalam menata alam. Logika konkrit ini dalam pandangan Lévi-Strauss menunjukkan demikian mudahnya masyarakat lampau menetapkan suatu kesamaan antara spesies-spesies alam dengan segolongan masyarakat.
1. Structuralist Constructivism
Pierrre Bourdieu mengembangkan aliran constructivist structuralism atau structuralist constructivism yang mengacu pada struktur-struktur objektif, terlepas dari kesadaran dan keinginan pelaku-pelaku, yang mampu mengarahkan dan sekaligus menghalangi praktik-praktik atau representasi mereka. Dengan menggunakan istilah konstruktivisme, Bourdieu menyatakan bahwa terdapat genesis sosial dari skema-skema persepsi, pemikiran, dan aksi, serta bagian lain dari struktur sosial.
Bourdieu meletakkan konspetualisasi pemikirannya melalui aspek-aspek habitus dan arena (champ). Kedua konsep ini didukung oleh sejunlah konsep antara lain : modal (capital), praktik sosial (practique sociale)], pertarungan (lutte) dan strategi (strategie). Salah satu ajaran Bourdieu dalam hubungannya dengan praktik penelitian adalah penekanan pentingnya penelitian lapangan. Arena dan habitus bukanlah konsep yang dapat diterapkan hanya dengan duduk di belakang meja. Keduanya merupakan konsep yang baru bermakna jika digunakan di lapangan.
Dalam praktik penelitian, Bourdieu mengajarkan tiga langkah yang saling terkait dalam upaya mengenali dan menganalisis arena. Pertama, kita harus menganalisis posisi arena dalam hubungannya dengan arena kekuasaan. Dengan demikian, kita menemukan bahwa suatu hal merupakan bagian dari kekuasaan. Kedua, kita harus menetapkan struktur objektif hubungan-hubungan antara posisi-posisi yang dikuasai oleh pelaku dan institusi yang berada dalam persaingan di dalam arena ini. Ketiga, kita harus menganalisis habitus para pelaku, sistem-sistem kecenderungan yang berbeda yang diperoleh melalui internalisasi sesuatu yang ditentukan menurut kondisi sosial ekonomi, yang berada dalam suatu jalur yang didefinisikan di dalam arena yang dianggap memberikan kesempatan bagi pelaku untuk mengaktualisasikannya
Bourdieu memperkenalkan metodologi, yang disebut generative structuralism, menggambarkan suatu cara berpikir dan kiat dalam mengajukan pertanyaan. Dengan metode itu Bourdieu menggambarkan, menganalisis, dan memerikan genesis persona tertentu, struktur sosial, dan kelompok. Ia mengajukan suatu teori analisis dialektis terhadap kehidupan praktis. Perspektif semacam itu menyuguhkan kemampuan untuk menunjukkan interplay antara praktik ekonomi personal dengan ?dunia eksternal? dari sejarah kelas dan praktik sosial. Tugas itu harus menggunakan modus berpikir relasional dan melampaui oposisi artifisial antara struktur objektif dengan representasi subjektif
Strukturalisme memiliki asumsi bahwa dalam suatu fenomena terdapat konstruksi tanda-tanda. Penelitian dengan strukturalisme mensyaratkan kemampuan memandang keterkaitan inner structure agar mampu memberi makna yang tepat pada fenomena yang tengah menjadi studi. Dalam perkembangannya strukturalisme memasuki berbagai ranah dalam disiplin ilmu dan berbagai aspek kehidupan. Perkembangan langsung dari strukturalisme adalah fungsionalisme yang melihat relasi sistemis menjadi relasi fungsional.
2. Semiotika Linguistik Struktural
Roman Jacobson, salah satu ahli linguistik yang meneliti secara serius pembelajaran dan fungsi bahasa, memberi penekanan pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor retoris (kesamaan) dan metonimia (kesinambungan). Bagi Jacobson, bahasa memiliki enam macam fungsi, yaitu:
a. fungsi referensial, pengacu pesan;
b. Fungsi emotif, pengungkap keadaan pembicara;
c. Fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak;
d. fungsi metalinguistik, penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan;
e. Fungsi fatis, pembuka, pembentuk, pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak; dan
f. fungsi puitis, penyandi pesan
Langkah-langkah analisis struktural atas fonem yang dilakukan Jacobson antara lain : (a) mencari distinctive features (ciri pembeda) yang membedakan tanda-tanda kebahasaan satu dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada-tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut ; (b) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah, sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain; (c) merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah kebahasaan mana?dengan distinctive features yang mana?yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainnya ; (d) menentukan perbedaan-perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis, yakni perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan
3. Metasemiotika
Louis Hjelmslev adalah tokoh linguistik yang mengembangkan semiotik pasca Saussure. Hjelemslev mengembangkan sistem dwipihak (dyadic system) yang merupakan ciri sistem Saussure. Ia membagi tanda ke dalam (expression) dan (content), dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure. Namun, konsep tersebut dikembangkannya dengan menmabhakn bahwa baik (expression) maupun content mempunyai komponen form dan substance sehingga terdapat (expression form) dan content form di satu pihak; serta (expression substance) dan (content substance) pada pihak lain.
Maka, dengan peluasan ini, diperoleh gambaran bahwa sebelum _expression form terbentuk, terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui _expression substance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam _expression form tersebut. Demikian pula halnya dengan content form yang dari content substance diberikan batas-batas pada bahan tanpa bentuk.
4. Semiologi dan Mitologi
Berbicara semiotika dan mitologi, maka kita tidak dapat melepaskan dari nama Roland Barthes. Dalam pembahasan mengenai semiotika, Barthes mengemukakan asumsi bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.
Apakah anda menemukan atau merasakan kesalahan pada tulisan di atas? Jika anda cermat, akan anda temukan adanya kesalahan pada penggunaan font untuk tulisan-tulisan tersebut. Ketika kita melihat pada konotasi kita akan melihat pada kedalaman makna yang berakar jauh di dalam budaya kita.
Konotasi tanda menjadi partikular ketika kita melihat pada penggunaan tanda dalam periklanan. Sebuah foto mengenai mobil secara pasti bisa kita rujukkan pada petanda mobil dalam dunia riil, tetapi juga berkonotasi pada kekuatan, kebebasan, modernitas, dll.
Iklan A Mild di atas terdapat gambar kursi dan tulisan ?Kalo engak dibersihin KUTU BUSUKNYA Enggak bakalan PERGI!. Kursi di sini tidak secara sederhana bisa kita pahami sebagai tempat duduk. Namun, merupakan penanda yang merujuk pada kelas sosial atau jabatan tertentu. Terutama ketika kemunculan iklan ini di tahun 2004, hampir berbarengan dengan pemilihan wakil rakyat yang duduk di DPR/MPR. Inilah yang dijelaskan oleh Roland Barthes sebagai second-order of signification.
second-order of signification selanjutnya bisa kita sebut sebagai konotasi. Menggunakan konsep inilah Barthes menjelaskan mengenai mitologi. Salah satu contoh yang terdapat dalam bukunya (Mythologies, 1957) adalah foto seorang prajurit berkulit hitam sedang memberi hormat pada bendera Perancis.
5. Semiotika dan Post-strukturalisme
Istilah post-strukturalisme sebenarnya jarang digunakan. Post-strukturalisme sebenarnya lebih ditujukan pada munculnya pemikiran-pemikiran yang mengembangkan strukturalisme lebih jauh. Beberapa yang dikategorikan post-struktralis antara lain Jacques Lacan, Jacques Derrrida. Michel Foucault sempat dikategorikan sebagai post-strukturalis namun kemudian orang menggolongkan sebagai beyond struktutralis.
Jacques Lacan memunculkan konsep bahwa nirsadar adalah ranah yang terstruktur layaknya bahasa. Konsep ini berbeda dari Freud yang menganggap bahwa nirsadar berisi hal-hal instingtif. Lacan bahkan melihat bahwa nirsadar hadir bersama dengan bahasa. Lacan melihat bahasa adalah suatu sistem pengungkapan yang tak pernah mampu secara utuh menggambarkan konsep yang diekspresikannya.
Ada cermatan bahwa pada kenyataannya, sistem linguistik berada di luar manusia yang menjadi subjek. Pemakai bahasa terpisah secara radikal dari sistem tanda. Ada jarak lebar antara apa yang mereka rasakan dan bagaimana sebuah sistem kebahasaan memungkinkan seorang pemakai bahasa memanfaatkan untuk mengekspresikan perasaan tersebut.
Semisal, laki-laki yang ingin mengekspresikan kecantikan seorang gadis. Mungkin dia akan mengatakan ?Kau secantik bidadari?. Namun, tetap saja terdapat hal yang tidak terekspresikan. ?Bidadari? hanyalah tanda yang dianggap mewakili namun sebenarnya meredusir perasaan abstrak si laki-laki terhadap kecantikan si gadis.
Bagi Lacan, hal itu merupakan faktor penting yang menunjukkan bahwa manusia sebagai subjek, pertama-tama terpisah dari piranti-piranti representasi, namun pada saat bersamaan, keberadaan dirinya sebagai subek juga dibentuk oleh piranti-piranti tersebut.
Oleh lacan, algoritma atau diagram Saussure tentang petanda/penanda digunakan untuk menunjukkan pengandaian-pengandaian yang dibuat kaum strukturalis mengenai hubungan manusia dengan tanda. Menurut Lacan, yang primer justru konsep (petanda) dan karena itu berda di atas diagram. Sementara entitas (penanda) yakni yang sekunder, berada di bagian dasar diagram.
Sebuah ide dapat berdiri sendiri, lepas dari segala bentuk mediasi. Anak hanya dapat menangkap gagasan tentang ?anjing? setelah orang tuanya (others) menjelaskan bahwa makhluk yang dia tanyakan itu bernama ?anjing?. Anak dapat memahami konsep ?anjing? karena ?anjing? memang telah hadir sebelumnya sebagai elemen bangunan besar langue yang mendahului kelahiran bayi sebagai individu.
Jika ketaksadaran terstruktur layaknya bahasa, maka menjadi masuk akal untuk mengklaim bahwa linguistik dan semiotik adalah hal penting yang dapat kita gunakan untuk memahami ketaksadaran. Lacan menempatkan isi ketaksadaran sebagai penanda (signifiers); proses primer ketaksadaran diletakkan pada ekspresi dan distorsi dirinya sendiri (dalam Freud: Condensation dan Displacement; sedangkan Lacan menggunakan istilah yang sama dengan Roman Jacobson: Metaphor dan Metonymy)
Verdichtung (condensation) adalah struktur superimposisi dari penanda yang menjadi karakterisktik metaphor. Verschiebung (displacement) menunjukkan signifikansi transfer yang sama seperti yang ditemui pada metonymy. Kita terbiasa mengkaitkan metafor dengan ungkapan yang berbau puitis, menimbulkan emosi. Metafor sendiri berarti ?menembus? makna linguistik. Jacobson menjelaskan gejala pemaknaan ini sebagai hasil dari asosiasi pada tatanan paradigmatik
Kalau metafor bekerja atas dasar hubungan paradigmatik, metonimi bekerja atas dasar hubungan sintagmatik. Kalau metafor banyak dijumpai dalam puisi, metonimi dalam prosa. Kalau metafor lahir dari kesadaran kita untuk menghubungkan (mengasosiasikan), maka metonimi berasal dari kesadaran untuk menggabungkan (mengombinasikan). Metonimi menghasilkan makna dari hasil hubungan logis, sementara metafor melalui kekuatan imajinasi.
Hubungan metaforik muncul karena ?dengan adanya kekuatan represi, suatu signifier diganti dengan signifier baru?. Signifier yang pertama akan berubah menjadi signified sejauh signifier pengganti ?stands in place of the previous signifier and represents it?. Hubungan metaforik ini (yang menghasilkan kesadaran, makna, atau ide) menjadi begitu kuat ketika terkait dengan hubungan signifiers atau meaning yang masih berada dalam status unconscious
Roman Jacobson mendefinsikan pole of selection atau similaritas sebagai metaforik, dan pole of combination atau kontiguitas sebagai metonimik. Jacobson mengklaim keduanya adalah hal penting bagi pemaknaan bahasa. Metaphor adalah alien bagi similarity disorder sedangkan Metonimi bagi contiguity disorder. Lacan menjelaskan bahwa bahasa tak pernah mendapat tempat pada tataran real. Tidak berhubungan atau represen dalam tataran real. Bahasa menandai bukan untuk mengekspresikan pemikiran atau menggambarkan realitas, tetapi lebih pada upaya mengonstitusi subyek sebagai suatu secara historis dan geografis, dan secara kultural mengarah pada spesifikasi proses menjadi. Bahasa memiliki kapabilitas untuk memposisikan subjek sebagai social being karena bahasa sendiri mengandung sistem yang mempredasi semua subjek dan harus diasumsikan oleh setiap subjek secara individual. Bahasa adalah hanyalah sistem referensi yang merujuk pada kategori dan istilah yang dimiliki seseorang
Agar dapat menentukan tempatnya di dunia, seorang anak harus terlebih dulu menetapkan posisi tertentu dalam bahasa. Agar dapat menjadi subjek dan dapat merujuk dirinya dalam dunia sosial, seseorang harus masuk wilayah piranti-piranti penandaan yang telah tersedia sejak dia belum lahir dan kemudian belajar menggunakannya. Dalam pengertian ini, lacan melihat bahwa subjek manusia didominasi oleh penanda, atau lebih tepat lagi, perbedaan-perbedaan dalam langue.

Berikutnya, Lacan menawarkan diagram versi baru diagram tanda, yaitu:
Manusia masuk dan terlibat dalam bahasa. Di sini manusia terlibat dalam dunia subjektivitas, ia terpintal dalam jaring-jaring penandaan Tanda tidak dengan sendirinya menjadi lengkap saat petanda mulai membaur ke dalam penanda. Sebaliknya, tanda tersusun atas dua wilayah yang berbeda dan tak pernah bertemu.
Wilayah ?S? besar adalah penanda dan tempat beroperasinya penandaan kebudayaan. Sedangkan wilayah ?s? kecil adalah dunia-dalam (inner-world) yang tak terpahami dan tak dapat diekspresikan melalui penandaan. Sebuah garis yang tak bisa ditembus memisahkan keduanya. Tidak ada bauran secara vertikal antara petanda dan penanda. Bauran berlangsung secara horizontal, yakni penanda terus berpendar-pendar di bawah petanda yang terus berubah-ubah.
6. Semiotika dan Dekonstruksionism
Jacques Derrida menolak pemaknaan tentang pemaknaan tanda yang dianggap sebagai proses murni dan sederhana. Derrida menawarkan suatu proses pemaknaan dengan cara membongkar (to dismantle) dan menganalisis secara kritis. Bagi Derrida hubungan antara penanda dan petanda mengalami penundaan untuk menemukan makna lain atau makna baru. Makna tidak dapat terlihat dalam satu kali jadi, melainkan pada waktu dan situasi yang berebda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula. Proses dekonstruksi ini bersifat tidak terbatas.
Derrida mengemukakan bahwa nilai sebuah tanda ditentukan sepenuhnya oleh perbedaannya dengan tanda-tanda lain yang terwadahi dalam konsep differance. Namun, konsep tersebut juga menegaskan bahwa nilai sebuah tanda tidak dapat hadir seketika. Nilainya terus ditunda (deferred) dan ditentukan-bahkan juga dimodifikasi- oleh tanda berikutnya dalam satu aliran sintagma.
Derrida mengambil contoh sintagma sebuah lagu Inggris : Ten green botles standing on a wall. Saat membaca dari kiri ke kanan, berawal dari kata ten (sepuluh) yang ditransformasi menjadi ? Sepuluh apa? ?jawabnya : ? sepuluh X berwarna hijau ?berikutnya pertanyaan ? sepuluh apa? ? dimodifikasi menjadi ? sepuluh botol hijau? disini terlihat konstruksi makna yang berlangsung secra timbal balik. Jika sintakma di perluas menjadi ten green botles standing on a wall, maka berlangsunglah modifikasi tahap berikutnya. Kini ? sepuluh botol hijau ? disertai pula informasi tambahan ? diatas dinding ? (standing on a wall) seingga jawaban terhadap pertanyaan ? sepuluh apa? ? tertunda lagi. Saat membaca kata terakhir,yaitu ? Dinding ?( wall) maka kata ? dinding? bukan lagi tanda yang berdiri sendiri. Karena ? dinding ? tersebut adalah ? Dinding ? yang diatasnya terpajang sepuluh botol bir.
Coba kita perhatikan lagu Nuansa Bening yang dinyanyikan oleh Keenan Nasution dari Gank Pegangsaan. Lagu yang populer di era 1970-an ini dapat kita hadirkan sebagai contoh dari dekonstruksi. Bahwa kata-kata adalah rantai penanda yang artinya terus berkembang.
Derrida membangun teorinya bertolak dari kritik terhadap pemikiran bahasa Husserl. Bagi Derrida, bahasa bersifat memenuhi dirinya sendiri (self-sufficient) dan bahkan terbebas dari manusia. Derrida melihat bahwa bahasa bersumber dari tulisan (Ecriture/Writing). Tulisan adalah bahasa yang secara maksimal memenuhi dirinya sendiri karena tulisan menguasai ruang secara masksimal pula. Sebagai bahasa tulisan tidak terdapat dalam pikiran manusia tetapi konkrit di atas media. Tulisan terlepas dari penulisnya begitu ia berada di ruang halaman, sedangkan ketika dibaca, tulisan langsung berkaitan dan terbuka untuk dipahami oleh pembacanya. Jadi bahasa yang sebenarnya adalah tulisan, bukan suara
Dekonstruksi merupakan koreksi terhadap pemikiran konstruksi sosial berkaitan dengan interpretasi terhadap teks, wacana, dan pengetahuan masyarakat. Dekonstruksi kemudian melahirkan tesis-tesis keterkaitan antara kepentingan (interest) dan metode penafsiran (interpretation). Dalam dekonstruksi, kepentingan tertentu selalu mengarahkan pada pemilihan metode penafsiran. Sebagian pemikiran Derrida sejalan dengan pemikiran Habermas bahwa terdapat hubungan strategis antara pengetahuan manusia dengan kepentingan, meski tidak dapat disangkal bahwa yang terjadi bisa pula sebaliknya, yakni bahwa pengetahuan adalah produk kepentingan.
C. Strukturalisme dan Poststrukturalisme
Para strukturalis seperti Claude Levi-Struss, atau setidaknya para pemikir yang sejalan dengan pemikiran strukturalisme, misalnya Max Weber, Emile Durkheim, dan Ferdinand de Soussaure memiliki berbagai pandangan mengenai relasi fenomena sosial. Levi-Strauss mengkonsepkan oposisi biner pada struktur kesadaran manusia yang yang membentuk transformasi antara struktur nirsadar (unconsciouss structure) dalam pikiran manusia yang memepengaruhi struktur permukaan (surface structure). Weber dalam hipotesisnya menyatakan bahwa ada makna yang tunggal atau yang sama yang merupakan produk kesepakatan. Durkheim beranggapan bahwa fakta sosial terbentuk dari suatu kesadaran kolektif.
Soussaure memastikan bahwa ada hubungan yang jelas antara signified dan signifier. Selain para strukturalis, Marx dan Marxis menyatakan bahwa ekonomilah sebagai base-structure yang telah mempengaruhi super-structure seperti politik, budaya, sosial. Bila dirangkum pandangan dari para strukturalis dan Marxis tersebut, maka dinyatakan bahwa terdapat komunikasi satu arah dengan pemaknaan tunggal yang membentuk fenomena sosial. Kebenaran dipandang bersifat univokal. Strukturalisme lebih tertarik untuk berbicara tentang praktek-praktek penandaan dimana makna merupakan produk dari struktur atau regularitas-regularitas yang dapat diramalkan yang terletak di luar jangkauan manusia (human agents). Sebagaimana ditunjukkan Chris Barker (2000), strukturalisme sebenarnya bisa dilacak kembali pada karya-karya Emille Durkheim yang menolak anggapan empirisis bahwa pengetahuan merupakan derivasi langsung dari pengalaman.
Tetapi strukturalisme yang dikenal sekarang adalah strukturalisme Ferdinand deSaussure dan Levi-Strauss yang menjelaskan bahwa produksi makna merupakan efek dari struktur terdalam dari bahasa, dan kebudayaan bersifat analog dengan struktur bahasa, yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner: hitam-putih, baik-buruk, lelaki-perempuan dan lain sebagainya. Dalam konteks pengabaian human agents, strukturalisme bersifat antihumanis. Konsep strukturalisme tentang kebudayaan lebih memusatkan perhatiannya pada sistem-sistem relasi dari struktur-struktur yang mendasari sesuatu (umumnya bahasa) dan aturan-aturan bahasa yang memungkinkan terjadinya makna. Sementara menurut Williams (1980), teks hanyalah bagian dari cara berpikir yang diproduksi oleh perubahan kondisi-kondisi sosial dan ekonomi. Kata Williams, “Kita harus berhenti dari prosedur umum untuk mengisolir objek dan kemudian menyelidiki komponen-komponennya. Sebaliknya kita harus menyelidiki praktek-praktek dan kemudian kondisi-kondisinya”.
Jika kulturalisme menekankan sejarah, maka strukturalisme justru menekankan pendekatan sinkronik, relasi-relasi struktur dianalisa dalam potongan-potongan peristiwa yang bersifat khusus. Di sini strukturalisme sangat menekankan aspek kekhususan kebudayaan yang tidak bisa direduksi begitu saja ke dalam fenomena lainnya. Dan jika kulturalisme memfokuskan diri pada interpretasi sebagai jalan untuk memahami makna, maka strukturalisme justru menegaskan perlunya sebuah ilmu tentang tanda yang bersifat objektif. Pandangan strukturalisme tentang makna yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner, sama dengan mengatakan bahwa makna bersifat stabil. Kestabilan makna inilah yang menjadi pusat serangan pascastrukturalisme atas strukturalisme.
Tokoh-tokoh utama poststrukturalisme, seperti Derrida dan Foucault, menyatakan bahwa makna tidaklah stabil, ia selalu dalam proses. Makna tidak bisa dibatasi dalam satu kata, kalimat atau teks khusus, tetapi ia merupakan hasil dari hubungan antarteks: intertektualitas. Sama seperti strukturalisme, poststrukturalisme juga bersifat antihumanis. Derrida (1976) menyatakan bahwa kita berpikir hanya dengan tanda-tanda, tidak ada makna asli yang bersirkulasi di luar representasi. Dan Foucault menyatakan (1984) menyatakan bahwa manusia hanyalah produk dari sejarah. Dalam hal politik kebenaran, setiap masyarakat dianggap memiliki rezim kebenaran.
Rezim kebenaran tersebut berupa (a) tipe wacana yang diterima dan membuatnya berfungsi sebagai kebenaran, (b) mekanisme untuk memudahkan pembenaran dan penyalahan, (c) alat sanksi, (d) teknik dan prosedur untuk mengkomposisikan nilai. Berkaitan dengan politik kebenaran tersebut, posmodernisme mengajukan kritiknya bahwa kebenaran bukanlah berasal dari base-structure ataupun super-structure, melainkan dari perbincangan / wacana yang berkembang dalam masyarakat yang selanjutnya membenarkan ataupun menyalahkan. Proses pendisiplinan atau rutinisasi yang bertujuan menciptakan wacana ataupun transmisi pengetahuan, tidak hanya dilakukan oleh institusi-institusi saja melainkan juga melalui wacana atau perbincangan yang terjadi secara umum dan meluas dalam masyarakat. Dengan demikian maka konsep apparatus yang dikemukakan oleh Althusser menjadi tidak relevan lagi. Sebagai contoh : rakyat takut kepada negara padahal negara tdak lagi menakuti rakyatnya. Foucault menyebutnya sebagai diskontinuasi fungsi. Total dominasi tersebut terus bergerak dan pada gilirannya mengalami kontekstasi sehingga tak ada kesepakatan makna yang pasti.
D. Analisa Isi
Dalam analisa disini perlu catatan-catatan pendting yang harus diunderlaine, dari berbagai tokoh. Pada awalnya, seperti yang telah diulas dalam pendahuluan, bahwa struturalisme di latar belakangi oleh aliran linguitik yang dimotori oleh filsuf F. Desaussure, sehingganya dari bebrbagai kalangan tokoh menjadikan prinsip-prinsi Sauusure sebagai dasar berfikir mereka. Cuman yang lebih penting dari berbagi pemikiran tokoh, tokoh disana bertujuan mewujudkan sebuah paradigma baru yang intinya hanya satu yaitu untuk membangun sebuah Negara (polis) yang dikenal pada masyarakat Yunani dulu.
Salah satu tokoh dalam strukturalisme seperti Levi-Straus (antropologi budaya), menjadi bapak strukturalisme Prancis karena ia sangat luas dalam pengkajian-pengkajian dalam alian ini. Jadi yang di pentingkan dalam strukturalisme menurut prespektif filsuf ini adalah adanya interaksi yang sistematis, sehingganya menciptakan ralasi-relasi dan oposisi-oposisi serta menjadi sistem yang disepakati oleh suatu komonitas. Karena menurut ia tanpa adanya hal itu, apa yang menjadi cita-cita ataupun perwujudan sebuah Negara tidak akan dapat direalisasikan sebagaimana harapan kita bersama.
Kembali kepada sejarah filsuf bahwa ia (Levi-Strauss) sangat dipengaruhi oleh Marcel Mauss, seorang ahli ilmu sosial, makanya sudah jelas sedikit banyak ia juga akan lebih mementingkan dalam kehidupan manusia adanya sebuah relasi dan sistem yang mengatur kehidupan mereka, naik secara individual maupun secara komunitas. Banyak sekali Negara yang selalu menyimpang dari landasan dan ideologi bangsanya, sehingga untuk mewujudkan cita-cita bangsa sangat sulit. Itu semua karena tidak adanya sebuah sistem yang mengatur dalam setiap organ. Logikanya adalah sebuah Negara yang sudak teetata rapi mulai dari sistem maupun hukum-hukum belum tentu dapat menjalankan secara stabil, ada saja yang selalu menjadi penghambat kemajuan Negara apalagi yang tidak ada sistem mapun huku-hukumnya sama sekali. Dari itu semua, akan di dapat hal-hal yang tidak di inginkan dalam Negara.
Lacan juga menggap bahasa adalah sebuah sistem yang selalu mendorong manusia melakukan apapun, karena ia menganggap bahwa dalam diri manusia ada oranga lain yang mengendalikannya, maka ia juga beranggapan ketidaksadaran itu hal yang dominan dalam diri manusia. Maka dari itu, ia meyakini tidak adanya suyek dalam diri manusia, sehingga logoslah yang mendahului dari segalanya. Sedangkan yang membentuk sebuah realitas itu merupakan penampakan dari ide, seperti halnya yang terjadi pada zaman Yunani ide sangatlah di dewa-dewakan oleh semua polis pada saat itu.
Anggapan-anggapan yang telah dilontarkan oleh Lacan menunjukkan, bahwa ia sangat tidak percaya dengan adanya peran subyek sebagai satu-satunya yang mampu untuk mereformasi kehidupan. Karena dalam strukturalisme yang dipandang oleh Lacan adalah komunikasi inten dan cotinoue, maka akan mampu untuk menyatilkan perubahan-perubahan dalam sebuah Negara maupun komunitas.
Kemudian seperti filsuf selanjutnya lebih memetingkan bagaimana yang mengatur dan mensentralkan kehidupan manusia terhadap interaksi dan hubungan yang dilandaskan kepada sistem utama dalam sturktur itu sendiri. Karena kalau sebuah struktur sudah terorganisir oleh sistem-sistem, maka otomatis manusianya akan lebih berjalan dengan harapan strukturnya. Oleh karena itu, struktur sangat dibutuhkan dalam organ-organ apapun demi menjaga keeksisan dan komitmen bersama.
Sistem dalam sebuah struktur menjadi keharusan, karena ada sedikit perbedaan antara sistem yang duhulu dengan sekarang, sebagaimana yang dijelaskan oleh Barthes, bahwasanya pemikiran tradisional dengan sekarang berbeda malah jauh berbeda. Karena sekarang dilator belakangi oleh revolusi industri, kemajuan teknologi beserta pengaruh-pengaruh lain dengan datangnya modernisasi ilmu pengetahuan. Dengan begitu pemikiran sekarang lebih cenderung kepada hal-hal yang riel atau konkret, daripada hal yang abstrak (tidak pasti). Keabstrakan itulah yang membuat manusia tidak percaya dengan pemikiran-pemikiran tradisional.
Foucault juga beranggapan tentang strukturalisme, ia menganggap bahwa tiap-tiap zaman atau peiode mempunyai ketentuan-ketentuan, syarat-syarat maupun cara sendiri dalam mengatur sebuah komunitasnya. Adanya sistem yang terdapat di daerah-daerah dan berbeda-beda, juga menjamin pada kemajuan negaranya. Karena hal yang paling fundamental dalam Negara (Polis) adalah bagaimana ia mengolah dan mempunyai prinsip-prinsip sendiri untuk diarahkan kemana negaranya. Ia menekankan, bahwasanya tiap orang tidak boleh hanya ikut-ikutan dengan pendirian atau prinsip orang lain. Seperti Negara yang hanya meniru Negara lain untuk mewujudkan reformasi demi kesejahteraan Rakyatnya, maka kesejahteraan tersebut tidak akan utuh, karena tidak mempunyai dasar-dasar dalam membangun negaranya sendiri.
Kita akan mengerti bagaimana strukturalisme yang sesungguhnya, bahwa dalam realitas social terikat dengan relasi-relasi dan oposisi yang membentuk sistem, sehingga sistem tersebut disepakati dan menjadi hukum bersama yang telah disepakati. Sistem dengan Negara merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan, Negara tanpa adanya sistem maka akan amburadul. Dan juga tidak mungkin ada sistem kalau tidak ada Negara yang akan dijalankan.
Sistem dalam sebuah Negara akan mengatur bagaimana jalannya sebuah struktur, sehingga akan menjadi Negara yang sesuai dengan keinginan atau visi dari sebuah Negara tersebut. Dengan begitu dapat kita pahami dari beberapa flsuf, bahwasanya strukturalisme merupakan bagian yang mengatur dari relasi-relasi maupun oposisi-oposisi dalam Negara.
Satu hal lagi yang sangat penting strukturalisme adalah upaya untuk mensentralisasikan sebuah keinginan dan tujuan dari beberapa oaring yang sudah tertuang menjadi sebuah visi. Oleh karena harus kita gunakan dan aplikasikan dalam keseharian kita untuk bisa mengendalikan dunia yang dibentuk oleh budaya manusia.



0 Response to "STUKTURALIS (MAKALAH)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel