badge DENGAR DAN AMBILLAH PELAJARAN, BUKAN MELIHAT SIAPA YANG MENGATAKAN | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , , » DENGAR DAN AMBILLAH PELAJARAN, BUKAN MELIHAT SIAPA YANG MENGATAKAN

DENGAR DAN AMBILLAH PELAJARAN, BUKAN MELIHAT SIAPA YANG MENGATAKAN

Advertisement

            Dalam kontek hidup bermasyarakat, sudah sepatutnya kita sebagai makhluk sosial untuk saling mengingatkan, saling nasehat menasehati, apalagi dalam kontek agama, ini telah jelas “Ad-Dinul Nasihah” agama itu saling nasehat menasehati. Namun meskipun demikian banyak juga dari kalangan orang-orang hanya menerima nasehat dari orang-orang yang di anggap lebih tinggi darinya, baik itu pangkat, jabatan, ataupun ilmu pengetahuan. Padahal dalam agama telah nyata di jelaskan “Unzur Ma Qala Wa La Tanzur Mang Qala” lihatlah apa yang di katakana, bukan melihat siapa yang mengatakan. Jika kita memahami arti dari kalimat ini, maka kita tidak akan mengabaikan setiap nasehat, meskipun nasehat itu berasal dari anak kecil, atau bahkan sangat kecil.

Dalam kehidupan dewasa ini tentunya banyak orang tidak mampu lagi nasehat menasehati, sebenarnya bukan tidak mampu, tapi tidak mau, lebih tepatnya, sebab banyak orang yang begitu mudah mengabaikan setiap nasehat, dari sebab itu cerama agama menjadi salah satu ajang nasehat-menasehati untuk banyak kalangan, terutama kepada kalangan yang tidak mau mengikuti pengajian, sebab di era sekarang pengajian sepi, bahkan begitu sepi, tapi berbeda halnya jika di adakan ceramah agama, banyak orang akan berbondong-bondong mendengarkannya, meskipun yang mereka ingin dengarkan hanya “kelucuan” atau “nyanyi” tapi itu jauh lebih baik, karena mereka masih mau menderngarkan, sebab secara tidak langsung terdapat beberapa nasehat dan ilmu yang mereka dapatkan meski tanpa di sengaja.

            Dari sebab itu, di era modern ini, perbanyaklah ceramah-cerama agama di setiap acara, misalkan di walimah, ta’ziyah, syukuran, dan lain sebagainya, sebab di situlah bnyak dari kalangan sekarang bisa tahu mengenai agama. Memang pada dasarnya bukan ceramah/nasehat yang dapat merubah seseorang, namun itu bentuk dari rasa kepedulian kepada sesama makhluk, meski pada hakikatnya tiada seorang manusiapun mampu memasukkan hidayah ke dalam hati manusia yang lain, melain hanya Allah semata yang dapat memasukkan hidayah ke dalam hati ciptaannnya, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qashah ayat 56:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tapi Allah lah yang memeberi petunjuk kepada orang yang Ia kehendaki, dan Ia lebih mengetahui orang-orang yang menerima petunjuk.”

            Dari ayat di atas jelaslah hanya Allah semata yang dapat memberi pentunjuk kepada manusia. Bahkan seorang nabi/rasul sekalipun tidak dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang iya kasihi.

            Jika kita melihat asbabun nuzul ayat ini, ayat ini turun ketika seseorang yang sangat menyayangi rasul dan di sayangi oleh rasul meninggal, yaitu paman rasul. Ketika meninggal paman rasul yang termasuk dalam salah satu pembesar quraisy hanya mengucapkan kalimah Tauhid, namun tidak mengucapkan kalimat Rasul, karena beliau malu, sebab nabi Muhammad merupakan keponakannya.

            Pada saat itu rasul bersedih, lalu Allah menurunkan ayat di atas untuk menghibur rasul, dan untuk menghilangkan rasa bersalah kepada orang yang Ia sayangi.

            Meskipun demikian, tidak ada manusia yang dapat memasukkan hidayah ke dalam hati manusia lain, kita tetap wajib berusaha memberikan nasehat, apalagi kepada karabat, saudara, kolega, dan anak, tetap berusaha semampu kita. Sebagaimana orang aceh berkata: “menyoe jet ta peulaku, oen leubu jet keu asoe kaya, Menyoe hanjeut ta peulaku aneuk tengkue jet keu beulaga” artinya, jika kita mampu mendidik dan menasehati secara baik dan benar, maka InsyaAllah, Allah akan memberi petunjuk, dan mudah-mudahan dia menjadi orang yang berguna di dunia dan di akhirat. Maka dari itu jadilah pendidik yang baik, apalagi perempuan, Ibu, sebab Ibu adalah sekolah pertama bagi anak, jadi carilah seorang Istria tau Ibu yang paham tentang agama, agar dia mampu mendidik anak sehingga menjadi anak yang shaleh, yang akan senantiasa berdoa untuk orang tuanya.
Ceramah agama
Wassalam

Semoga bermanfaat

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close