badge Menerima Segala Kemungkinan Pilkada, Demokrasi; Suara Terbanyak; Suara Tuhan | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , » Menerima Segala Kemungkinan Pilkada, Demokrasi; Suara Terbanyak; Suara Tuhan

Menerima Segala Kemungkinan Pilkada, Demokrasi; Suara Terbanyak; Suara Tuhan

Advertisement

Pasca PILKADA serentak yang dilakukan di seluruh Indonesia secara Demokrasi tahun 2017 yang dilaksanakan di 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota, kita sebagai rakyat harus tetap berdada lapang, menerima segala kemungkinan dan mematuhi siapapun yang terpilih dan menjadi pemimpin, baik itu tingkat provinsi atau kabupaten. Meskipun yang terpilih bukanlah pemimpin yang kita usung, sebab dalam sistem demokrasi, suara terbanyak adalah suara Tuhan, jadi siapapun yang menjadi pemenang, dialah pilihan Rakyat, terserah bagaimanapun Prosesnya, Pemilik Suara terbanyak tetaplah pemenang, karena itu adalah Pilihan Rakyat (The Public Choice).
Meskipun merasa kecewa karena pemimpin yang kita usung kalah, namun kita juga harus tetap menerima pemimpin yang di usung orang lain yang nyatanya mendapatkan suara lebih banyak daripada pemimpin yang kita pilih, karena pada dasarnya siapapun yang terpilih itulah pemimpin kita dan kita wajib mematuhinya (Ulil Amri Minkum) begitulah dalam Al-Qur’an di sebutkan, dimana kata Ulil Amri di sandingkan dengan Allah dan Rasul, yang menjelaskan kita Wajib mematuhinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (Pemimpin) di antara kamu.
(An-Niza; 59)
Adapun perkara pemimpin yang terpilih merupakan sosok pemimpin yang menurut beberapa orang adalah pemimpin yang tidak memenuhi kriteria sebagai pemimpin atau mungkin kata “Zalim” disandingkan dengannya, maka itu kembali lagi kepada keadaan masyarakat itu sendiri, karena pada dasarnya Pemimpin adalah sebagaimana Rakyatnya, Jika Rakyat Masih Bergelimangan pada Dosa dan Kemunafikan, jangan harap mendapatkan pemimpin yang baik, jujur, amanah, dan bukan pemakan uang rakyat.
“Hakikat pemimpin dalam pandangan Islam adalah cerminan rakyatnya. Pemimpin sebuah negeri akan diberikan sesuai dengan keadaan dan ahklak rakyat dalam negeri itu. Apabila rakyat dalam sebuah negeri baik, maka pemimpin yang akan memegang tampuk kekuasaan mereka adalah orang baik-baik. Sebaliknya, apabila rakyat dalam sebuah negeri berakhlak tercela, maka Allah Swt akan mengirim kepada mereka pemimpin yang buruk.” (Tgk H Nuruzzahri/ Waled NU Samalanga; Nasehat Untuk Kita yang Menang dan Kalah Pilkada)

Dengan demikian dapatlah kita pahami bahwa pemimpin yang terpilih bukanlah semata-mata karena pemimpin itu sendiri tapi juga tergantung pada keadaan rakyatnya, dimana terdapat hubungan yang berkesinambungan antara masyarakat dengan pemimpin yang terpilih, jika hitam maka hitam, jika putih maka akan putih pula.
Dalam menyikapi hal tersebut, yang dapat dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat adalah selain berdoa agar dipimpin oleh pemimpin yang baik, juga berdoa agar menjadi pribadi yang lebih baik, karena begitu munafik rasanya jika kita ingin dipimpin oleh pemimpin yang baik sedangkan kita masih saja bergelimangan pada dosa.

Allah Swt Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, itulah sebabnya Allah tidak akan memberikan pemimpin yang baik untuk orang-orang yang tidak baik, karena setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas kepemimpinannya, sebagaimana dalam Hadist Rasul Menjelaskan:
“Kullukum Ra’in wa Kullu Ra’in Mas ulun An Ra’iyatihi”
Setiap Kamu Itu Pengembala, dan Setiap Pengembala akan dipertanggung jawabkan akan gembalaannya. (Al-Hadist)
Pengembala disini berarti pemimpin sedangkan gembalaan itu berarti rakyat yang di pimpin, dimana pemimpin bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya, atas dasar itu setidaknya kita paham kenapa pemimpin yang baik tidak ditakdirkan kepada rakyat yang tidak baik ???


Menyikapi Kekalahan
Dalam sebuah pertandingan tentunya kekalahan dan kemenangan adalah keniscayaan, kita semua paham benar akan hal itu, namun mirisnya rasa kecewa yang terlalu besar kadang membuat kita mencerca pemenang, dengan atau tanpa alasan, hingga terjadi adu mulut, adu argument, dan membuat suasana semakin panas dan mencekam, hal yang berlarut dan berdampak negative bagi kita semua.
Sebagai seorang muslim sejati, tentunya kita paham betul arti bersyukur dan menerima segala kemungkinan yang terjadi, sebab kadang kita menginginkan sesuatu hal, namun tali takdir malah memberikan sesuatu yang kita butuhkan bukan sesuatu yang kita inginkan, begitulah cara takdir menentukan jalan kehidupan. Maka dari itu sepatutnya kita menerima sebuah kekalahan dan mensyukuri sebuah kemenangan, karena dalam Pilkada ini siapapun yang terpilih dialah pemimpin kita, saat kita tidak wajib memilih dia namun saat dia memimpin kita tetap wajib mematuhinya.
Dan beberapa Contoh kekalahan yang tidak layak di tiru namun terjadi di lingkungan kita, Seperti halnya kekecewaan tim yang kalah di salah satu kabupaten, hingga beberapa dari mereka melampiaskan semua kekecewaan itu pada penyebutan atau Mem-Plesetkan nama Kabupatennya, dengan Menyandingkan Gelar Uang pada Kabupatennya sendiri tanpa merasa malu, karena mereka berpendapat bahwa kemenangan salah satu kandidat dimotori oleh Uang.
Hingga akhirnya ke-Latahan yang mereka lakukan berdampak sangat negative bagi seluruh masyarakat kabupaten tersebut, seluruh masyarakat kabupaten tersebut menanggung malu atas Ke-Latahan anak-anaknya, dimana kabupaten lain menilai bahwa keangkuhan masyarakat Kabupaten tersebut yang “Menuhankan Uang” atau dengan kata yang lebih kasar lagi Suaranya Dapat dibeli dengan Uang, bahkan dengan nominal yang tidak seberapa, Ratusan.

Kubu Pemenang
Untuk Kubu Pemenang selayaknya bersyukur atas kemenangan yang diperoleh oleh Paslon dukungannya, dan tentunya terutama sekali berterima kasih pada Sang Pemberi Kemenangan, sebab tanpa Kudrah dan Iradahnya Kemenangan itu tidak akan pernah terjadi.
Begitu pula halnya dengan paslon yang menang agar sudi kiranya jangan pernah menyombongkan diri, jangan sampai kemenangan itu menjadi bumerang yang diciptakan untuk membinasakan diri sendiri, karena sebuah kesombongan akan menghancurkan apapun, sebab pada dasarnya kesombongan adalah milik Iblis, dan karena itu pula mereka dikeluarkan dari Surga.
Selain mensyukuri kemenangan ini, rasa terima kasih juga patut di sampaikan kepada seluruh pendukung paslon. Baik itu partai politik pengusung, keluarga, jaringan sosial, jaringan keagamaan, maupun simpatisan lainnya yang sudah menghabiskan banyak tenaga, pikiran, bahkan bantuan, baik itu moril atau materil untuk kesuksesan paslon tersebut. Karena dengan bantuan mereka, paslon tersebut dapat mengalahkan paslon-paslon lainnya, baik itu dengan memahami peta kekuatan massa, atau mendapatkan jurus pamungkas di akhir pertandingan menjelang Full Time.
Setelah Bersyukur dan Berterima Kasih, ada hal lain yang harus segera dirancang sematang mungkin, yaitu tentang visi dan misi yang telah dikemukakan dan juga pada janji-janji yang telah diberikan, jangan sampai kemenangan ini membuat buta dan tuli akan misi dan janji yang telah diberikan, jangan sampai PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) kembali lagi terulang menjadi (PILKADAL) Para Pemenang Yang Berhati Kadal, begitulah sebut mereka pada kekecewaan akan Paslon Usungannya terdahulu.
Semoga dengan terpilih pemimpin baru dapat mensejahterakan Masyarakat di semua lapisan, tak hanya keluarga, kolega, atau istri muda mereka saja. TMA

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close