badge KERAJAAN LAMURI ATJEH: KERAJAAN YANG TERLUPAKAN (3 VERSI SEJARAH) | Ukhwah Asyifusyinen
Home » » KERAJAAN LAMURI ATJEH: KERAJAAN YANG TERLUPAKAN (3 VERSI SEJARAH)

KERAJAAN LAMURI ATJEH: KERAJAAN YANG TERLUPAKAN (3 VERSI SEJARAH)

Advertisement
Kesultanan Lamuri
1. Sejarah
Data tentang sejarah berdirinya Kesultanan Lamuri masih simpang siur. Data yang pernah dikemukakan sejumlah orang tentang kesultanan ini masih bersifat spekulatif dan tentatif. Tulisan ini masih sangat sederhana dan bersifat sementara karena keterbatasan data yang diperoleh.
Secara umum, data tentang kesultanan ini didasarkan pada berita-berita dari luar, seperti yang dikemukakan oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut asing (Arab, India, dan Cina) sebelum tahun 1500 M. Di samping itu, ada beberapa sumber lokal, seperti Hikayat Melayu dan Hikayat Atjeh, yang dapat dijadikan rujukan tentang keberadaan kesultanan ini.
Data tentang lokasi kesultanan ini juga masih menjadi perdebatan. W. P. Groeneveldt, seorang ahli sejarah Belanda, menyebut bahwa kesultanan ini terletak di sudut sebelah barat laut Pulau Sumatera, kini tepatnya berada di Kabupaten Aceh Besar. Ahli sejarah lainnya, H. Ylue menyebut bahwa Lambri atau Lamuri merupakan suatu tempat yang pernah disinggahi pertama kali oleh para pedagang dan pelaut dari Arab dan India. Menurut pandangan seorang pengembara dan penulis asing, Tome Pires, letak Kesultanan Lamuri adalah di antara Kesultanan Aceh Darusalam dan wilayah Biheue. Artinya, wilayah Kesultanan Lamuri meluas dari pantai hingga ke daerah pedalaman.
Menurut T. Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa kesultanan ini berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. H. M. Zainuddin, salah seorang peminat sejarah Aceh, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga. Peminat sejarah Aceh lainnya, M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di dekat Kampung Lam Krak di Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Berdasarkan sejumlah data di atas, sejarah berdirinya dan letak kesultanan ini masih menjadi perdebatan di kalangan pakar dan pemerhati sejarah Aceh. Namun demikian, dapat diprediksikan bahwa letak Kesultanan Lamuri berdekatan dengan laut atau pantai dan kemudian meluas ke daerah pedalaman. Persisnya, letak kesultanan ini berada di sebuah teluk di sekitar daerah Krueng Raya. Teluk itu bernama Bandar Lamuri. Kata “Lamuri” sebenarnya merujuk pada “Lamreh” di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya). Istana Lamuri sendiri berada di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama Kandang Aceh.
Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kesultanan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-IX M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi. Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan.
Menurut Prasasti Tanjore di India, pada tahun 1030 M, Kesultanan Lamuri pernah diserang oleh Kerajaan Chola di bawah kepemimpinan Raja Rayendracoladewa I. Pada akhirnya, Kesultanan Lamuri dapat dikalahkan oleh Kerajaan Chola, meskipun telah memberikan perlawanan yang sangat hebat. Bukti perlawanan tersebut mengindikasikan bahwa Kesultanan Lamuri bukan kerajaan kecil karena terbukti sanggup memberikan perlawanan yang tangguh terhadap kerajaan besar, seperti Kerajaan Chola.
Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kesultanan Lamuri merupakan tempat pertama kali yang disinggahi oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut yang datang dari India dan Arab. Ajaran Islam telah dibawa sekaligus oleh para pendatang tersebut. Berdasarkan analisis W. P. Groeneveldt, pada tahun 1416 M semua rakyat di Kesultanan Lamuri telah memeluk Islam. Menurut sebuah historiografi Hikayat Melayu, Kesultanan Lamiri (maksudnya adalah Lamuri) merupakan daerah kedua di Pulau Sumatera yang di islamkan oleh Syaikh Ismail sebelum ia mengislamkan Kesultanan Samudera Pasai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri jelas merupakan salah satu kerajaan Islam di Aceh.
Menurut Hikayat Atjeh, salah seorang sultan yang cukup terkenal di Kesultanan Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Konon, ia adalah moyang dari salah seorang sultan di Aceh yang sangat terkenal, yaitu Sultan Iskandar Muda. Pada akhir abad ke-15, pusat pemerintahan Kesultanan Lamuri dipindahkan ke Makota Alam (kini dinamakan Kuta Alam, Banda Aceh) yang terletak di sisi utara Krueng Aceh. Pemindahan tersebut dikarenakan adanya serangan dari Kerajaan Pidie dan adanya pendangkalan muara sungai. Sejak saat itu, nama Kesultanan Lamuri dikenal dengan nama Kesultanan Makota Alam.
Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1513 M, Kesultanan Lamuri beserta denganKerajaan Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamian, dan Samudera Pasai bersatu menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M). Jadi, bisa dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri merupakan bagian dari cikal bakal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Nama kesultanan ini berasal dari salah satu desa di Kabupaten Aceh Besar, yang pusat pemerintahannya berada di Kampung Lamreh.

Versi Lain
Awal mula perkembangan kerajaan Lamuri dan letak Geografisnya.Kerajaan Lamuri juga dikenal dengan banyak nama, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Indra Purba
2.       Poli
3.      Lamuri ( seperti yang disebutkan oleh Marcopolo)
4.      Ramini/Ramni atau Rami ( seperti yang disebutkan oleh pedagang atau ulama Arab yaitu Abu Zayd Hasan,Sulayman ataupun Ibnu Batuthah )
5.      Lan-li, Lan-wuli dan Nanpoli ( seperti yang disebut oleh orang Tionghoa).
            Berita tentang kerajaan Lamuri diperoleh dari suatu prasasti, yang di tulis pada masa raja Rajendra Cola I pada tahun 1030 di Tanjore ( India Selatan ) serangan Rajendra Cola I, mengakibatkan beberapa kerajaan di Sumatera dan semenanjung Melayu menjadi lemah (1023/1024) dan disebutkan bahwa Rajendra Cola I mengalahkan Ilmauridacam ( Lamuri ) yang telah memberikan perlawanan yang hebat dan dapat dikalahkan dalam suatu pertempuran habis-habisan. Penyerangan terhadap Lamuri di ujung pulau Sumatera dilakukan karena kerajaan Lamuri merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya yang sebelumnya juga mendapatkan serangan dari kerajaan Cola pada tahun 1017 M dan tahun 1023/1024M. maka dapat disimpulkan bahwa kerajaan ini diperkirakan sudah mulai berdiri pada abad ke IX dan sudah mempunyai angkatan perang yang kuat dan hebat, dibuktikan ketika dengan susah payah diserang oleh kerajaan Cola barulah dapat dikalah kan oleh prajurit kerajaan Cola. Ini membuktikan bahwa kerajaan Lamuri adalah suatu kerajaan yang mempunyai pemerintahan yang teratur dan kuat pada zamannya. Tentu saja untuk mengatur pemerintahan yang teratur dan kuat angkatan perangnya Lamuri memerlukan sumber-sumber kekayaan yang dihasilkan dari kegiatan perekonomian,pertanian dan lain-lain.Tentang nama Lamuri diperoleh banyak versi, ada Lamuri seperti yang disebutkan oleh Marcopolo, ada Ramini atau Ramni sebagaimana yang disebutkan oleh orang-orang Arab, sejarah Melayu pun menyebut Lamuri dan orang-orang Tionghoa menyebut Lan-li,Lan-wuli dan Nanpoli. Seorang saudagar Arab yang bernama Ibnu Khurdadbah (885) menyebutkan bahwa Ramni mempunyai hasil alam berupa kemenyan,bambu,kelapa,gula,beras,kayu cendana. Sedangkan saudagar Sulaiman (851) ketika setelah melewati lautan India bahwa daerah yang dikunjungi nya adalah Ramni. Abu Zayd Hasan (916) menyebut Rami,juga menceritakan tentang hasil alam dari Rami/Lamuri yaitu kapur barus dan kemenyan, demikian juga dengan Mas’udi (945) dia menyebut Al-Ramin, dimana didapati tambang emas dan letaknya dekat dengan daerah Fansur/Barus yang termasyur dengan kapurnya. Seorang muslim Parsi yang bernama Buzurg ( 955). Tatkala menunjuk Sriwijaya menyebutkan letaknya di Selatan Lamuri. Dan menurut Buzurg, dari pantai Barus dapat dilakukan perjalanan darat ke Lamuri.Dr. Solomon Muller menulis berita tertentu tentang suatu kerajaan di ujung pulau Sumatera, bersumber dari abad ke-9. dia mengutip Renaudot dalam “ Anciannes relations des Indes et de la Chine” Paris 1718. Dalam buku ini diperkenalkan nama dua pulau yaitu Ramni dan Fantsoer, dan diceritakan letaknya antara laut Harkand (India) dengan laut Sjalahath ( selat Malaka) di daerah Ramni juga terdapat binatang gajah, dan di perintah oleh berbagai kekuasaan. Sedangkan Fansur disebut kaya dengan kapurnya dan tambang emas. Telah diceritakan tentang Lamuri atau Lamri atau nama lain yang mirip,terletak di ujung Sumatera utara yaitu di Aceh Besar sekarang. Dan telah diceritakan bahwa Lamuri pun ikut terpukul oleh serangan dari Rajendra Cola I, walaupun tidak sampai runtuh pada tahun 1023 dan 1024.
Dan kira-kira 75 tahun kemudian kerajaan Majapahit melakukan serangan ke Sumatera, diantara yang diserang termasuk kerajaan Samudera Pasai dan Lamuri. Sesudah serangan Majapahit, Lamuri juga pernah didatangi oleh Laksamana Cheng Ho (1414 )Dari akibat peristiwa yang berlangsung dalam lebih kurang tiga abad ( serangan Cola,serangan Majapahit dan akhirnya Cheng Ho ) tentunya Lamuri pada akhirnya menjadi lemah. Timbullah di bekasnya beberapa kampong yang akhirnya bersatu atau disatukan kembali dibawah kekuasaan seorang raja, dan kemudian terdengarlah berbagai nama disamping akan lenyapnya Lamuri, diantaranya Darul Kamal, Meukuta Alam, Aceh Darussalam dan juga disebut nama Darud Dunia.Dan disekitar masa itu juga terdengar adanya kerajaan Pedir ( di Pidie ). Menurut Veltman sumber Portugis mengatakan bahwa sultan Ma’ruf Syah Raja Pedir Syir Duli. Itu pernah menaklukkan Aceh Besar pada tahun 1497, dan diangkatnya dua orang wakil satu di Aceh Besar dan satu lagi di Daya.Seorang Sejarahwan yang bernama Husein Djajadiningrat mengeluarkan pendapat yang berasal dari dua naskah hikayat tentang asal mula raja Lamuri dan raja kerajaan Aceh Darussalam. Pertama (122) Hikayat yang dimulai asal raja Aceh ( Lamuri ) yang bernama Indra Syah ( mungkin yang dimaksud adalah Maharaja Indra Sakti ). Dan dikatakan bahwa raja Indra Syah pernah berkunjung ke Cina. Kemudian hikayatnya berhenti sampai disitu, dan tiba-tiba hikayat itu menceritakan Syah Muhammad dan Syah Mahmud, dua bersaudara putera dari raja, Syah Sulaiman kemudian mempunyai dua orang anak yaitu raja Ibrahim dan puteri Safiah. Sedangkan Syah Mahmud setelah menikah dengan bidadari Madinai Cendara juga mempunyai dua orang anak yaitu, raja Sulaiman dan puteri Arkiah, dan kemudian dikisahkan juga kalau Sulaiman di nikah kan dengan sepupunya Safiah dan Ibrahim dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Arkiah, pernikahan ini merupakan usulan dari kakek mereka yang bernama raja Munawar Syah.Dikatakan pula raja Munawar Syah yang dimaksudkan memerintah di kerajaan Lamuri. Hikayat ini juga melanjutkan cerita tentang lahirnya dua orang putera yang bernama Musaffar Syah yang memerintah di Mekuta Alam dan Inayat Syah yang memerintah di Darul Kamal. Kedua raja ini tidak henti-hentinya salaing berperang, peperangan tersebut kemudian dimenangkan oleh raja Musaffar Syah yang kemudian menyatukan dinasti Meukuta Alam dengan dinasti Darul Kamal. Dan dikatakan juga bahwa Inayat Syah berputera Firman Syah Paduka Almarhum, kemudian Firman Syah berputera Said Al-Mukammil yang kemudian beberapa orang anak diantara nya Paduka Syah Alam Puteri Indra Bangsa bunda Sri Sultan perkasa Alam Johan Berdaulat ( Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam ). Jadi Said Al-Mukammil merupakan kakek sultan Iskandar Muda dari sebelah ibu. Selain itu Sultan Alaidin Al-Mukammil mempunyai beberapa orang putera, salah satunya adalah sultan Muda Ali Ri’ayat Syah (1604-1607 ), yang merupakan paman dari Sultan Iskandar Muda.Naskah kedua (124) yang dimaksud dalam pembicaraan Husein Djajadiningrat mengenai hikayat raja-raja Lamuri ( Aceh ), dimana hikayat ini yang dibuat silsilah berpangkal pada Sultan Johan Syah ( mungkin maksudnya Meurah Johan atau Sultan Alauddin Johan Syah yang merupakan putera raja Lingge, Adi Genali. Dan kemudian menikah dengan Puteri Blieng Indra Kusuma). Berbeda dengan hikayat yang pertama,hikayat ini menentukan hari,tanggal dan bulan tahunnya. Pada permulaan disebutkan bahwa Johan Syah memerintah dimulai pada tahun Hijrah 601 ( atau tahun 1205 M ), lamanya 30 tahun. Dia digantikan oleh anaknya yang tidak disebutkan namanya, sultan kedua meninggal dan digantikan oleh anakanya yang bernama Ahmad Syah yang memerintah selama 34 tahun 2 bulan 10 hari, hingga mangkat nya pada ( 885 Hijrah ). Kemudian kekuasaan diserahkan kepada anaknya yang bernama sultan Muhammad Syah yang memerintah selama 43 tahun. Pada masa itu sultan Muhammad Syah menceritakan pemindahan kota dan pembangunan kota baru yang diberi nama Darud Dunia, sultan ini meninggal pada tahun 708 Hijrah. Berpegang pada tahun ini maka pembangunan Darud Dunia adalah sekitar tahun 700 Hijrah atau kira-kira tahun 1260 Masehi.Sesudah sultan Muhammad Syah meninggal, maka yang naik tahta menjadi raja adalah Mansur Syah yang memerintah selama 56 tahun 1 bulan 23 hari. Ia kemudian digantikan oleh anakanya yang bernama raja Muhammad pada tahun 811 Hijrah yang memerintah selama 59 tahun 4 bulan 12 hari dan meninggal pada tahun 870 Hijrah. Raja Muhammad kemudian digantikan oleh Husein Syah selama 31 tahun 4 bulan 2 hari untuk kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama sultan Ali Ri’ayat Syah yang memerintah selama 15 tahun 2 bulan 3 hari, meninggal pada tanggal 12 Ra’jab 917 Hijrah ( atau tahun 1511 Masehi ).Atas dasar hikayat-hikayat yang di telitinya itu, Husein Djajadiningrat telah membuat rentetan nama raja-raja Aceh ( Lamuri ). Yang memerintah semenjak Johan Syah (1205 Masehi ) sebagai berikut;
1.      Sultan Johan Syah Hijrah -601-631
2.      Sultan Ahmad -631-662
3.      Sri Sultan Muhammad Syah, anak Sultan ke-2, berumur setahun ketikaMulai naik tahta pergi dari Kandang Dan membangun kota Darud Dunia Hijrah -665-708
4.      Firman Syah, anak Sultan ke-3 -708-755
5.      Mansur Syah -755-811
6.      Alauddin Johan Syah, anak sultan ke-5,Mulanya bernama Mahmud -811-870
7.      Sultan Husin Syah -870-901
8.      Ri’ayat Syah ( Mughayat Syah?-MS) -901-907
9.      Salahuddin, digantikan oleh no.10 (adiknya) -917-946
10.  Alau’ddin ( Alkahar?-MS) adik no.9. -946-975.
            Sebagai yang dapat diperhatikan dari ke 10 nama raja-raja diatas, tidak ada didapati nama sultan yang bernama Musaffar Syah, tidak pula ada nama Inayat Syah dan Syamsu Syah. Padahal nama-nama itu dapat dibuktikan adanya dari nukilan pada makam mereka yang dijumpai kemudian.
            Nama Musaffar Syah terdapat dalam naskah yang tersebut lebih dulu, sementara nama Mahmud Syah sebagai pembangun kota Darud Dunia terdapat pada naskah yang tersebut ke-2. Suatu penemuan penting adalah makam sultan Musaffar Syah, didapati tidak di Meukuta Alam, ditempat dimana dia pernah bertahta,akan tetapi disuatu kampung bernama Biluy,IX mukim,termasuk wilayah Aceh Besar juga. Pada batu nisannya ternukil tahun meninggalnya yaitu 902 Hijrah atau 1497 Masehi.
            Lamuri Hingga ke Aceh Darussalam Sekitar tahun 1059-1069 Masehi, kerajaan Tiongkok yang berada di Cina menyerang kerajaan Lamuri ( Indra Purba ), yang pada masa itu diperintah oleh maharaja Indra Sakti yang waktu itu masih memeluk agama Hindu. Tetapi tentara Tiongkok dapat dikalahkan oleh sebanyak 300 orang dibawah pimpinan Syaikh Abdullah Kan’an ( bergelar Syiah Hudan,turunan Arab dari Kan’an ) dari kerajaan Peurlak. Maharaja Indra Sakti dan seluruh rakyatnya akhirnya masuk agama Islam. Maharaja Indra Sakti mengawinkan puterinya, Puteri Blieng Indra Kusuma dengan Meurah Johan yang ikut menyerang tentara Tiongkok, yang merupakan putera Adi Genali atau Teungku Kawee Teupat yang menjadi raja Lingge. Dua puluh lima tahun kemudian,maharaja Indra Sakti meninggal dunia, dan diangkatlah menantunya Meurah Johan menjadi raja dengan gelar Sultan Alaiddin Johan Syah, dimana kerajaan Indra Purba atau Lamuri menjadi kerajaan Islam, dan ibu kota kerajaan dibuat yang baru yaitu di tepi sungai krueng Aceh sekarang dan dinamai dengan Bandar Darussalam.
            Pada masa sultan Alaiddin Ahmad Syah yang memerintah dari tahun 1234-1267 Masehi, baginda berhasil merebut kembali kerajaan Indra Jaya dari kekuasaan tentara Tiongkok. Pada masa Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah yang memerintah dari tahun 1267-1309 Masehi. Beliau berhasil mengislamkan daerah Indrapuri dan Indrapatra. Dan sultan Alauddin Johan Mahmud Syah juga membangun dalem atau keraton ( Istana) yang di namai dengan Darud Dunia ( Rumah dunia ). Dan mesjid raya Baiturrahman di Kutaraja ( Banda Aceh ) pada tahun 1292 Masehi. Istana adalah lambang rumah dunia,sementara mesjid adalah lambang rumah akhirat. Keseimbangan atau harmoni inilah yang menandai system nilai sosial budaya masyarakat Aceh yang terkenal sangat religius. Pada masa sultan Alaiddin Husain Syah yang memerintah dari tahun 1465-1480 Masehi, beberapa kerajaan kecil dan Pidie bersatu dengan kerajaan Lamuri yang sudah berganti nama menjadi kerajaan Darussalam, dan dalam sebuah federasi yang kemudian diberi nama kerajaan Aceh, sedangkan ibu kota kerajaan dirubah menjadi Bandar Aceh Darussalam. Pada masa sultan Alaiddin Syamsu Syah yang memerintah dari tahun 1497-1511,ia membangun istana baru yang dilengkapi dengan sebuah mesjid yang diberi nama mesjid Baiturrahman.
            Pada permulaan abad ke-16,sebagian besar kerajaan Islam telah berada dibawah genggaman kekuasaan imperialisme dan kolonialisme Barat. Daratan Aceh,yang terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam, juga tidak terlepas dari pendudukan dan pengaruh Barat. Kekuasaan imperialisme kolonialis Barat ini bisa bertahan karena kekuasaan yang dimiliki oleh kerajaan-kerajaan Islam di Aceh terpencar dengan sejumblah kerajaan-kerajaan kecil, diantara nya adalah sebagai berikut:
ü  Kerajaan Aceh ( gabungan dari Lamuri, Meukuta Alam dan Darul Kamal ) di Aceh Besar sekarang.
ü  Kerajaan Peurlak di Aceh Timur
ü  Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara.
ü  Kerajaan Pedir di Pidie
ü  Kerajaan Lingge di Aceh Tengah
ü  Kerajaan Meuruhom Daya di Aceh Barat ( sekarang masuk wilayah Aceh Jaya)
ü  Kerajaan Benua Teumiang di Aceh Tamiang.
            Pemikiran untuk bersatu, menjadi besar dan disegani lawan, baru muncul dari panglima angkatan perang kerajaan Aceh pada waktu itu. Yaitu Ali Mughayat Syah (1511-1530), mengingat semakin besarnya peran Portugis di wilayah sekitar selat Malaka. Sebagai panglima angkatan perang kerajaan Aceh, yang juga adalah seorang putera mahkota dan anak dari Sultan Alaiddin Syamsu Syah yang memerintah dari tahun 1497-1511 Masehi. Ali Mughayat Syah meminta kepada ayahnya untuk meletakkan jabatan dan menyerahkan pimpinan kerajaan kepadanya. Pada saat itu sultan Alaiddin Syamsu Syah memang sudah cukup tua untuk memimpin perlawanan melawan Portugis, Ali Mughayat syah menyadari untuk melawan Portugis diperlukan kekuatan yang besar, selama kerajaan-kerajaan kecil masih tetap berdiri sendiri dan tidak bergabung didalam suatu kekuatan kerajaan besar yang kuat dan bersatu maka tetap saja perlawanan pun tidak memiliki banyak arti. Selain menyusun kekuatan dengan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil dibawah payung kerajaan Aceh, Ali Mughayat Syah juga berpikir bahwa kerajaan juga harus memiliki angkatan darat dan laut. Maka kemudian sultan Ali Mughayat pun mendeklarasikan berdirinya kerajaan Aceh Darussalam hingga pada masa pemerintahan sultan Iskandar Muda Meukuta Alam ( 1607-1636 M). yang merupakan raja terkenal dari kerajaan Aceh Darussalam. Semenjak itu berdirilah kerajaan Aceh Darussalam sebagai kerajaan Islam terhebat dan terkuat di Asia Tenggara yang berdiri sejajar dengan kerajaan Islam lainnya di dunia seperti kerajaan Turki Usmani di Turki, kerjaan Safawi atau Ishafan di Persia dan kerajaan Mughal di India.

Versi yang lain
I.                   KEBERADAAN LAMURI
            Nama Ramni (Abu Zaid Hasan), Lamuri (Prapanca), Lanpoli (Ma-Huan) dan Lambry (Tome Pires) telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan telah tersebar sampai ke manca negara yang disebutkan dalam catatan perjalanan bangsa-bangsa asing. Pada masa itu keberadaan Lamuri, Ramni ataupun Lambri telah cukup diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan menjadi mata dagangan yang cukup laku di perdagangan internasional. Letak kerajaan seperti tersebut di atas cukup penting yaitu berada di perairan Selat Malaka yang merupakan pintu gerbang, penghubung dua pusat kebudayaan besar di Asia. Mengingat peran pentingnya, sangat menarik perhatian petualang-petualang asing yang diabadikan dalam catatan perjalanannya. Keberadaan Lamuri, Lambri, atau yang disebut Ramni pada masa itu dapat disejajarkan dengan bandar-bandar perdagangan terkenal lainnya di Asia Tenggara seperti Barus, Kota Cina, Kampei di Sumatera Utara, Pasai, Singkil di NAD, Tumasik (Singapura), Malaka, dan lain sebagainya.
            Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Parsi saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).
            Dari masa yang lebih muda keberadaan Lamuri disebutkan dalam Negarakertagama. Disebutkan bahwa Lamuri, merupakan sebuah negeri yang takluk kepada kerajaan Majapahit. Muhammad Said dalam bukunya yang berjudul Aceh Sepanjang Abad menyebutkan tentang Lamuri dalam prasasti Tanjore (1030). Dalam prasasti tersebut disebutkan berita tentang ekspedisi Rajendracola I dari India; Ilamuridecam merupakan daerah taklukan Sriwijaya yang berhasil ditaklukkan Rajendracola pada tahun 1024 M (Nilakantasastri,1940).
            Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1998:102-121).
            Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, berpendapat bahwa Lambry dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambry terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkup. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehinggga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).

II.                Beberapa tinggalan arkeologis di Lamreh
            Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Nan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30). Beberapa tinggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut Lamreh. Tinggalan-tinggalan tersebut di antaranya adalah beberapa buah bangunan benteng, kompleks pemakaman dan adanya jejak bekas hunian, yang ditandai dengan adanya sebaran keramik. Beberapa tinggalan arkeologis tersebut di antaranya adalah;


    1.      Benteng Indrapatra
            Benteng ini diperkirakan telah beralih fungsi. Beberapa ahli berpendapat bahwa bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi hingga menjadi seperti yang ada sekarang ini. Pendapat tersebut didasarkan pada analisis data bangunan. Di beberapa bagian bangunan masih dijumpai motif-motif bangunan bercirikan pra-Islam. Menurut beberapa sumber bangunan ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Hindu di Aceh yang dibangun oleh Putera Raja Harsya (keluarga raja Hindu di India) yang melarikan diri akibat serangan Bangsa Huna pada tahun 604 M. Latar belakang sejarah mengenai Benteng Indrapatra masih harus ditelusuri lebih jauh. 

            Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah IV (1604 M -1607 M) Kerajaan Aceh sedang mengalami ketidakstabilan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Portugis untuk menyusun kekuatan di Benteng Kuta Lubuk. Pada masa itu muncullah Perkasa Alam (Iskandar Muda) keponakan dari Sultan Ali Riayat Syah IV. Penyerangan Iskandar Muda, mendatangkan kemenangan bagi Kerajaan Aceh dan orang-orang Portugis berhasil diusir dari Benteng Kuta Lubuk.

            Saat Sultan Ali Riayat Syah mangkat, Iskandar Muda naik takhta. Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh diperkuat dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan di sepanjang pantai Selat Malaka, kemungkinan salah satunya adalah dibangunnya Benteng Iskandar Muda.
            Sejarah penemuan benteng Kuta Lubuk disebutkan oleh Frederick de Houtman. Dijelaskan bahwa benteng tersebut dibangun oleh orang Portugis yang datang tanggal 15 November 1600 M, sebagai markas orang-orang Portugis untuk berdagang di Aceh disaat hubungan Kerajaan Aceh dengan Portugis terjalin dengan baik (Said,1961:257-330 ).
Dalam buku Tarich Aceh dan Nusantara, terdapat catatan mengenai Sultan Ala Addin Muhammad Syah yang memerintah tahun 1787-1795 M. Dalam suasana damai itu orang-orang Portugis yang mendapat izin berdagang, juga sekaligus mendapat izin dari sultan untuk membangun benteng di Kuta Lubuk.

2.      Benteng Inong Balee
Benteng ini sering juga disebut sebagai Benteng Malahayati, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Almukammil (1589-1604 M). Bangunan ini merupakan benteng pertahanan sekaligus asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pemenuhan konsumsi laskar angkatan perang pimpinan Laksamana Malahayati.

3.      Nisan Plakpling
            Desa Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupatan Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di desa ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk, dengan Benteng Inong Balee terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plakpling. Batu-batu nisan tersebut kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari masa pra Islam ke Islam. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997:90).
Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, prasejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi. Nisan-nisan tersebut meniru/menyerupai bentuk menhir atau lingga yang sangat umum dipakai pada masa prasejarah dan masa klasik/Hindu-Buddha.
Nisan 1
            Terletak di dalam Benteng Kuta Lubuk. Nisan berukuran tinggi sekitar 80 cm. Berbentuk persegi empat berukuran lebar 20 cm, semakin ke atas semakin mengecil (piramid). Tiap sisi terdapat panil yang berisi hiasan berupa kaligrafi maupun motif sulur.


Nisan 2
            Di bagian atas terdapat panil berukir motif flora. Bagian atap/kepala
berbentuk oval, horisontal.


Nisan 3
            Terbuat dari jenis batuan andesit (batu Kali), dengan motif sangat menarik. Tinggi keseluruhan nisan diperkirakan sekitar 85 cm. Bagian dasar berukuran lebar sekitar 20 cm. pada tiap-tiap sisi terdapat panil-panil dengan kaligrafi. Bagian atas dihiasi dengan ukiran dengan motif bunga kerawang (tembus). Kepala berbentuk bawang.



Nisan 4
Berbahan dasar batuan andesit (batu kali). Sisi-sisinya berukuran lebar 20 cm. Terdapat panil di tiap sisi, dengan ukiran bermotif tanjung/lotus atau bunga teratai yang sedang mekar, dua sisi lainnya dihiasi dengan motif lotus yang sedang kuncup.


Nisan 5
Berbahan batuan kapur, berwarna putih kekuningan. Terdapat panil di keempat sisinya yang berisi kaligrafi dalam kondisi aus. Bagian atas terdapat panil yang berhiaskan sulur-suluran sampai ke bagian atas. Bagian atas berbentuk bawang, semakin ke atas makin mengecil.




III.              Pembahasan
Kebesaran Lamuri (kini disebut Lamreh) ditandai dengan keberadaan bangunan-bangunan benteng diperkirakan merupakan perkembangan selanjutnya atau bahkan bersamaan dengan keberadaan makam-makam tersebut. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa bangunan-bangunan pertahanan yang ada merupakan peralihan fungsi dari bentuk yang ada sebelumnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa jauh sebelumnya, setidaknya telah ada suatu pemukiman yang cukup maju. Pembangunan bangunan-bangunan pertahanan tidak berhenti sampai disitu. Pada masa belakangan, disaat kekuasaan dipegang oleh Sultan Ali Riayat Syah pada sekitar tahun 1604 M terdapat pembangunan benteng yang dilakukan oleh Portugis di Kuta Lubuk, hal ini sangat kontradiktif dengan kenyataan bahwa di dalam benteng tersebut di temukan makam dengan nisan bertipe plakpling yang dibaca oleh Suwedi Montana, yang menunjukkan angka tahun yang jauh lebih tua daripada pembangunan pembangunan benteng tersebut. Pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap salah satu nisan adalah sebagai berikut:
assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir Tsamaniata wa sita mi’ah 680 H
( 1211 M) Suwedi Montana menyebutkan, apabila kematian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir adalah pada tahun 680 H (1211 M), berarti jauh sebelum itu di Lamreh, lokasi benteng Kutha Lubuk, sudah berkembang Agama Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman (Abdullah bin Basyir) yang berbau Islam (Montana,1997:87). Pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malik as-Shaleh di Samudera Pasai -yang berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam. Yang menjadi pertanyaan adalah, apabila bangunan benteng tersebut dibangun pada masa belakangan oleh Portugis, untuk apa keberadaan makam tersebut terawetkan di dalam lokasi benteng ?, yang notabene merupakan makam-makam Sultan yang merupakan lawan politiknya. Namun seperti kita ketahui bahwa bangunan benteng tersebut sangat kental dengan unsur barat yaitu dengan adanya bastion di sudutnya. Saat kekuasaan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda, pembangunan benteng-benteng pertahanan digalakkan kembali untuk menjaga stabilitas dalam negeri dari ancaman bangsa lain. Hal itu ditandai dengan pembangunan Benteng Iskandar Muda dan Benteng Inong Bale.
Nisan bertipe plakpling, di Lamreh menunjukkan bahwa di daerah tersebut terdapat komunitas yang telah memeluk Islam sebelum Samudera Pasai, yang ditandai dengan keberadaan nisan atasnama Sultan Sulaiman, yaitu di dalam Benteng Kuta Lubuk. Tipe-tipe nisan sejenis terdapat di atas bukit berdekatan dengan Benteng Inong Bale. Pembacaan sekilas menunjukkan nisan tersebut juga cukup tua. Beberapa bangunan pertahanan kemungkinan melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya, yaitu melengkapi pemukimannya dengan bangunan-bangunan pertahanan. Sayang sekali tidak ada penelitian yang secara khusus mengungkap keberadaan bangunan-bangunan benteng di daerah tersebut.
Nisan tipe plakpling merupakan nisan-nisan tipe peralihan, pra-Islam ke Islam. Batu nisan tipe ini berbentuk sederhana, sebelum dipakainya batu nisan yang disebut “Batu Aceh”, (nisan tipe Aceh). Batu-batu ini umumnya memiliki gaya sederhana namun diberi hiasan berupa relief dan/atau inskripsi (kaligrafi). Nisan tipe ini merupakan awal perkembangan, melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya. Bentuk nisan ini mengadopsi bentuk-bentuk phallus/lingga, meru danmenhir dengan hiasan-hiasan yang disesuaikan. Tipe nisan seperti ini memiliki persamaan dengan tinggalan arkeologis lain yang berasal dari masa yang lebih tua, megalithik, yang dikenal sebagai menhir (Ambary,1991:1–21). Tipe-tipe nisan tersebut di atas, menunjukkan pengaruh yang sangat kental dari tradisi-tradisi megalithis dan Hinduistis. Adapun bentuk-bentuk motif hiasan yang dipakai kemungkinan merupakan perpaduan dari budaya tersebut.
Ambary menyebutkan, salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).
Nisan plakpling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.



IV.              Penutup
Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa Lamuri pada masa sebelum Pasai merupakan sebuah kerajaan Islam yang cukup besar. Kebesaran Lamuri tidak hanya berlangsung sebentar, keberadaan bangunan benteng pertahanan menunjukkan bahwa Lamuri yang kemudian berubah nama menjadi kerajaan Aceh masa selanjutnya dapat dipertahankan bahkan diperbesar. Puncak kejayaan Lamuri adalah pada masa tampuk kekuasaan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda. Hal ini menepis anggapan bahwa Samudera Pasai dengan rajanya Malik as Shaleh merupakan kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Inilah untaian kisah/sejarah tentang kerajaan lamuri yang mulai terlupakan, kerajaan atjeh yang di rencanakan akan di bangun lapangan golf di domisilinya terdahulu, dan rencana ini akan memusnahkan tempat bersejarah di aceh.




0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close