badge NIKMATNYA RASA SAKIT | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , , » NIKMATNYA RASA SAKIT

NIKMATNYA RASA SAKIT

Advertisement
           
 Dalam roda kehidupan kita tak selamnya berada di atas, kadang kala kita harus berada di bawah agar kita bersyukur saat berada di atas, tak selamanya sehat, kita juga harus merasakan sakit agar kita tau cara bersabar, tidak selamanya bahagia, kita juga terkadang harus menderita, agar kita tau dan paham bagaimana keperihannya.
            Rasa sakit terkadang harus di syukuri, karena terkadang karena rasa sakit mereka lebih mendekatkan diri kepada Rabbi Nya, mereka khusu’ dalam sujudnya, berdoa setiap saatnya, dan inilah salah satu kenikmatan rasa sakit.
Abi Umamah Al Bahili menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
"Apabila seorang mukmin menderita sakit, Allah memerintahkan kepada
 para malaikat agar menulis semua amal kebajikan yang dilakukan sewaktu sehat dan bahagia."

Dalam riwayat lain diterangkan, Rasulullah bersabda: "Apabila seseorang mukmin menderita sakit, Allah memerintahkan kepada empat malaikat, yang masing-masing dari mereka mendapat tugas sendiri-sendiri. Yang satu mendapat tugas mengambil kekuatan yang ada pada badannya, hingga dia menjadi lemas tak berdaya. Yang satu mendapat tugas mengambil kenikmatan yang ada pada mulutnya, hingga dia tidak merasakan nikmatnya makan dan minum. Yang satu mendapat tugas mengambil cahaya  yang ada pada mukanya, hingga dia kelihatan pucat pasi. Dan, satu lagi mendapat tugas mengambil semua dosa yang telah dilakukan, hingga dia bersih dari segala dosa lantaran sakit.
Inilah kenikmatan di saat kita di landa sakit, dan terkadang ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah yang telah mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuwan terkemuka. la telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati kesenangan di akhirnya. Usaha keras seorang penyair memilih kata-kata untuk bait-bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat menawan. Ia, dengan hati, urat syaraf, dan darahnya, telah larut bersama kerja kerasnya itu, sehingga syair- syairnya mampu menggerakkan perasaan dan menggoncangkan hati. Upaya keras seorang penulis telah menghasilkan tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan 'ibrah, contoh-contoh dan petunjuk.
Lain halnya dengan seorang pelajar yang senang hidup foya-foya, tidak aktif, tak pernah terbelit masalah, dan tidak pula pernah tertimpa musibah. la akan selalu menjadi orang yang malas, enggan bergerak, dan mudah putus asa.

Seorang penyair yang tidak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasidah-qasidah-nya hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata murahan yang tak bernilai. Sebab, qasidah-qasidah-nya hanya keluar dari lisannya, bukan dari perasaannya. Apa yang dia utarakan hanya sebatas penalarannya saja, dan bukan dari hati nuraninya.

Contoh pola kehidupan yang paling baik adalah kehidupan kaum mukminin generasi awal. Yaitu, mereka yang hidup pada masa-masa awal kerasulan, lahirnya agama, dan di awal masa perutusan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, hati yang baik, bahasa yang bersahaja, dan ilmu yang luas. Mereka merasakan keras dan pedihnya kehidupan. Mereka pernah merasa kelaparan, miskin, diusir, disakiti, dan harus rela meninggalkan semua yang dicintai, disiksa, bahkan dibunuh.
Dan karena semua itu pula mereka menjadi orang-orang pilihan. Mereka menjadi tanda kesucian, panji kebajikan, dan simbol pengorbanan. 

"Yang demikian jtu ialah karena mereka ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal salih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."
(QS. At-Taubah: 120)

Di dunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya dikarenakan mau bersusah payah. Al Mutanabbi, misalnya, ia sempat mengidap rasa demam yang amat sangat sebelum berhasil menciptakan syair yang indah berikut ini: 

Wanita yang mengunjungiku seperti memendam malu,
ia hanya mengunjungiku di gelapnya malam

Syahdan, an-Nabighah sempat diancam akan dibunuh oleh Nu'man ibn
al-Mundzir sebelum akhirnya mempersembahkan bait syair berikut ini:

Engkau matahari, dan raja-raja yang lain bintang-bintang
tatkala engkau terbit ke permukaan,
bintang-bintang itu pun lenyap tenggelam

Di dunia ini, banyak orang yang kaya karena terlebih dahulu bersusahpayah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila Anda harus bersusah payah, dan tak usah takut dengan beban hidup, sebab mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti. Jika Anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat daripada harus hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu, dan jiwa yang lemah.

"Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan
keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:  Tinggallah kamu bersama
orang-orang yang tinggal itu. "
(QS. At-Taubah: 46)

Saya teringat seorang penyair yang senantiasa menjalani kesengsaraan hidup, menanggung cobaan yang tidak ringan, dan mengenyam pahitnya perpisahan. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia sempat melantunkan qasidah yang indah, segar, dan jujur. Dialah Malik ibn ar-Rayyib. Ia meratapi dirinya:

Tidakkah kau lihat aku menjual kesesatan dengan hidayah
dan aku menjadi seorang pasukan Ibnu Affan yang berperang
Alangkah indahnya aku, tatkala aku biarkan anak-anakku
taat dengan mengorbankan kebun dan semua harta-hartaku
Wahai kedua sahabat perjalananku, kematian semakin dekat
berhentilah di tempat tinggi sebab aku akan tinggal malam ini
Tinggallah bersamaku malam ini atau setidaknya malam ini
jangan kau buat lari ia, telah jelas yang akan menimpa
Goreslah tempat tidurku dengan ujung gerigi
dan kembalikan ke depan mataku kelebihan selendangku
Jangan kau iri, semoga Allah memberkahi kau berdua
dari tanah yang demikian lebar, semoga semakin luas untukku

Demikianlah, ungkapan-ungkapannya demikian syahdu, penyesalan yang sangat berat diucapkan, dan teriakan yang memilukan. Itu semua menggambarkan betapa kepedihan itu meluap dari hati sang penyair yang mengalami sendiri kepedihan dan kesengsaraan hidup. Ia tak ubahnya seorang penasehat yang juga pernah merasakan apa yang ia ucapkan. Dan, biasanya, perkataan atau nasehat orang seperti itu akan mudah masuk ke dalam relung kalbu dan meresap ke dalam ruh yang paling dalam. Semua itu adalah karena ia mengalami sendiri kehidupan pahit dan beban berat yang ia bicarakan.

" Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan
ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan
yang dekat (waktunya)."
(QS. Al-Fath: 18)

Jangan cela orang yang sedang kasmaran
hingga belitan keras deritamu berada dalam derita dirinya

Saya banyak menjumpai syair-syair terasa sangat dingin, tidak hidup, dan tidak ada ruhnya. Itu, bisa jadi karena kata-kata yang teruntai dalam bait-bait tersebut bukan terbit dari sebuah pengalaman pribadi sang penyair, tetapi suatu dikarang dan direka-reka dalam aura kesenangan. Karya-karya yang demikian itu tak ubahnya dengan potongan-potongan es dan bongkahan-bongkahan tanah; dingin dan tawar.

Saya juga pernah membaca karangan-karangan yang berisi nasehat-nasehat yang sedikit pun tak mampu menggerakkan ujung rambut orang yang mendengarkannya dan tidak mampu menggerakkan satu titik atom pun dalam tubuhnya. Semua itu, tak lain karena nasehat-nasehat itu tidak terucap dari mulut seseorang yang langsung pernah mengalami dan menghayati sendiri suatu kesedihan dan kesengsaraan.

"Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung
Dalam hatinya."
(QS. Ali 'Imran: 167)

Agar ucapan dan syair Anda dapat menyentuh hati pembacanya, masuklah terlebih dahulu ke dalamnya. Sentuhlah, rasakanlah dan resapilah niscaya Anda akan mampu memberikan sentuhan ke tengah masyarakat.

"Kemudian, apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan
suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah."
(QS. Al-Hajj: 5)
  
Kenikmatan terkadang datang saat sakit mendera, terlalu banyak pelajaran di dapatkan dari kegelisahan jiwa, dan berapa banyak doa yang terkabulkan saat sakitnya jiwa, kekhusyu’kan doa terbawa dalam sujud, memandang cahaya dari sisi kegelapan mungkin akan lebih terang, sehingga membuat kita merasakan Indahnya tak tergantikan.

Nikmatilah rasa sakitmu, kawan,,,,,,,

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close