badge DI NEGERI TAK BERTUHAN | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , » DI NEGERI TAK BERTUHAN

DI NEGERI TAK BERTUHAN

Advertisement


            Akan ku temui kebenaran yang selama ini membuatku bimbang, bersembunyi di balik gelapnya kesesatan, meski aku terus bertanya pada ayahku, beliau adalah pembesar dari kalangan kami, beliau adalah petua, beliau juga yang menjadi panutan golongan kami, tapi setiap kali aku bertanya , tak ada satupun jawaban yang memberikan keyakinan dalam hatiku. Padahal aku juga seorang guru, aku mengajari banyak hal kepada mereka murid-muridku, bahkan hal yang aku sendiri  masih bimbang dan selalu terpikir di fikiranku, apakah itu cahaya atau kegelapan, namun hal itu di percayai oleh golongan kami, maka dengan terpaksa aku harus mengajari apa yang di yakini meski aku sendiri dalam kebimbangan yang nyata.

            Hari-hari terus saja berganti, gelap dan cahaya terus saja menghatui buah fikiranku, selalu saja saat aku yakin itu cahaya, kegelapan kembali menerpa, kehidupanku sunggu tak tenang, aku ingin pergi, namun aku tak tau kemana jua aku berjalan, aku belum mendapatkan kepastian, aku juga telah mendapatkan tanggung jawab untuk mengajari mereka, generasi dari golongan kami. Kami adalah golongan yang lebih mengutamakan pemikiran dari pada takdir, kami bermain logika bukan yang telah di bukukan, kami percaya bahwa logika pemikiran dapat mengalahkan segalanya, jika kamu melakukan sesuatu berarti itu kekuatan dari logika kami, bukan takdir yang menentukan. Inilah I’tikad dari golongan kami, golongan yang aku di didik di bawah petua golongan, maski itu hanya ayah tiriku, tapi dia mendidikku laksana mendidik anaknya sendiri, makanya sekarang aku telah menjadi pendidik atau di beri tanggung jawab untuk mendidik generasi golongan ini, golongin logika di puncak tertinggi.

            Namun pada suatu malam, dalam nyenyaknya tidurku, dalam mimpiku datang seorang pemuda dengan pakaian serba putih, wajahnya begitu bercahaya, elok parasnya tiada bandingan, pemuda yang memakai baju serba putih tersebut tersenyum padaku, dan dalam tercengangku, pemuda itu berkata “engkau dalam kesesatan yg nyata”, seketika akupun terbangun dari tidurku, aku terduduk di atas ranjangku, berfikir siapa gerangan pemuda yang bercahaya itu, dan apa arti dari kata yang iya sampaikan padaku. Aku terus saja menyendiri dalam kamarku setelah mimpi itu, aku bahkan tidak keluar untuk mengajar anak-anak itu, aku terus saja berfikir keras, jalanku seakan serasa berat, semua seakan memendam di fikiranku, terus saja teringat kata-kata itu. Di malam selanjutnya akau kembali mendapati mimpi yang sama lagi, mimpi itu ku dapati hampir setiap malam, dan akhirnya aku memutuskan pergi meninggalkan golongan ini, aku akan mesafir, hijrah mencari cahaya keyakinan hatiku, bukan hanya bermodalkan logika sahaja.

            Aku akan pergi, tapi aku belum berani mengatakannya pada ayah tiriku, aku berfikir bagaimana cara aku mengatakannya, di kala kebingungan itu, aku di suruh untuk berkhutbah, maka moment inilah yang aku putuskan untuk mengatkannya, dalam sela-sela khutbahku, aku membuka bajuku, lalu ku campakkan ke tanah, dan aku berkata “sebagaimana aku melepaskan bajuku, maka begitu pula aku melepaskan golonganku”. Kala itu semua tercengang, dan aku langsung turun dan beranjak pergi untuk hijrah ke tempat ilmu, hingga ku dapatkan cahaya sejati, cahaya kebenaran abadi, cahaya yang murni dari Sang Ilahi.

            Sejak saat itu aku terus saja musafir, berjalan dari satu jalan ke jalan yang lain, menetap di satu tempat dan berpindah ke tempat lain, aku terus saja berguru dari satu guru ke guru lain, aku ingin mendapatkan kebenaran yang belum ku temukan, aku ingin menemukan I’tikad yang shahih, bukan I’tikad yang lebih mengutamakan logika daripada takdir atau ketentuan Tuhan. Hingga akhirnya ku temukan satu I’tikad yang aku yakin kebenarannya, yaitu satu I’tikad yang mengikuti rasul dan sahabat-sahabatnya rasul, “ahli sunnah wal jamaah”.


            Kisah ini adalah kisah “Imam Islam” Abu Hasan Al A’syari, beliau hidup dan besar di bawah asuhan ayah tirinya dari golongan muktazilah, akhirnya beliau hijrah dan bergemalah nama Ahli Sunnah Wal Jamaah di muka bumi ini.

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close