badge BELUM CUKUP NILAI UNTUK MENILAI | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , » BELUM CUKUP NILAI UNTUK MENILAI

BELUM CUKUP NILAI UNTUK MENILAI

Advertisement

            Dalam era kedewasaan, menilai atau menghakimi seakan menjadi tren yang tidak bisa di pisahkan, tapi ingatlah, silahkan menilai tapi tidak mencaci, tapi jangan menilai jika kau tidak tau bagaimana kehidupan yang telah dia jalani. Karena saat kita hanya tau apa yang dia kerjakan saat ini, tapi kita tidak tau apa yang telah berjalan dalam kehidupannya.

            Satu kisah yang mengajarkan kita agar tidak menilai seseorang jika tidak tau bagaimana kehidupannya. Konon, seorang pemuda 28 tahun dan ayahnya melakukan perjalanan dengan menumpangi kereta api, dalam perjalanan kereta api berlaju kenjang, saat itu pemuda tadi berkata kepada ayahnya, “Ayah,,, lihatlah awan-awan itu mengejar kita. Ayahnya hanya tersenyum dengan tingkah anaknya itu tapi penumpak yang lain sontak semuanya terdiam dalam pemikiran. Lalu pemuda itu berkata lagi “ayah,,, lihatlah pohon-pohon itu seakan terlempar dan melayang. Ayah itu kembali tersenyum melihat anaknya. Kala itu seorang penumpang berkata “kenapa anak bapak tidak di bawa ke dokter saja ??? ayah pemuda itu menjawab “ya, kami baru saja pulang dari dokter, anak saya buta sejak lahir dan Alhamdulillah kini penglihatannya telah sempurna. Dengan jawaban tersebut si penanya tadi hanya terdiam saja.

            Inilah kisah yang mengajari kita jangan menilai seseorang jika kita tidak tau bagaimana kehidupannya, karena kita hanya menilai yang zahir saja, kita tidak tau apa yang telah dia lalui dalam perjalanan kehidupannya. Sama halnya saat kita melihat sepucuk pistol, tapi bisa saja nyatanya itu hanya korek api yang berbentuk pistol, inilah analogi sederhana jangan menilai seseorang dari luar saja, karena pakaian ada kalanya hanya hal yang membohongi, hingga kita memikirkan apa yang Nampak, banyak yang miskin memperlihatkan kaya, banyak yang jahat seakan baik, banyak yang tenang tapi malah menghanyutkan, karena inilah era modern yang tidak bisa di terka, banyak yang pintar tapi membodohi, banyak yang bodoh tapi tak tau diri, ada yang berlisan bijak tapi penuh dalam muzarat, ada yang alim tapi mewarisi kesombongan setan, ada yang bermuka manis tapi berhati licik, ada yang bermuka gelap tapi berhati terang, banyak yang paham tapi lupa akan kewajiban, terus di antara itu dimanakah kita berada ???

            Jadi intinya jangan menilai seseorang jika kita belum cukup nilai, lebih baik sibukkan diri untuk memperbaiki diri sendiri, daripada sibuk memikirkan dan menilai orang lain yang kadang kala menjadi petaka untuk kita, so,,, jangan menilai jika belum jadi pengajar, tapi kala kamu jadi pengajar maka silakan untuk menilai mereka yang di ajari, jika mereka salah perbaiki, jika kamu yang salah mengerti, dan perbaiki, inilah konsep hidup, perbaiki diri sendiri maka semua akan berjalan baik-baik saja. Okeeee (Y)
           

            

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close