badge GORESAN KEGILAAN | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , » GORESAN KEGILAAN

GORESAN KEGILAAN

Advertisement

          Malam mengajarkan ketenangan saat mata tertutup dan jiwa berangan, kala mimpi merobek batas imajinasi, menelusuri tepi-tepi ketidakmungkinan yang remang-remang menjadi kenyataan, namun malam ini ketenangan hilang saat mata tak ingin terpejam, pikiran pun berjalan tak punya tujuan, memikirkan hal yang tak ada akhir, tak ada solusi, tak ada penyelesaian. Melupakan sama dengan mengingat hal yang ingin di lupakan, namun mengingat tak pernah terganti dengan hilang, sirna bahkan hanya menjadi makna yang tak berarti sama sekali. Di dalam ribuan cobaan, ratusan masalah, hati dan jiwa seakan terpisan, ada yang memikirkan cobaan yang tak pernah berakhir, ada pula yang kembali mengingat dia yang tak pernah kembali hadir, bukan mati, tapi pergi, atau mungkin pulang, sebab kenyamanan tak pernah di dapatkan dalam jiwa ini.

          Aku kembali rindu, rindu si mata biru, sering bergamis ungu, dan berparas begitu lugu, seakan rasa itu tak pernah layu, apalagi hilang tertutup debu, engkau pelangiku berwarna ungu, kembalilah jika tak kau dapat apa yang kau cari di sana, sebab di sini aku ingin menjadi alasan engkau kembali, sebab hati ini telah kujadikan rumah untukmu, pulanglah kapanpun itu, dan jika saat engkau kembali rumah ini telah hancur, ataupun pondasinya telah terganti, tersenyumlah, tapi jangan masuk lagi, bahagialah sebab jauh sebelum ini terjadi, engkau masih terpatri di sini, di tempat yang tak mungkin kau temukan lagi. Mungkin kamu adalah yang terindah yang pernah ada di sini, namun aku tak ingin terkubur dalam keindahanku sendiri, atau terkubur dalam keindahanmu, sebab kita masih saling merindu, kamu dengan kerinduanmu, dan aku dengan kerinduanku yang tak pernah palsu.

          Di malam yang terang ini, meski kau mengartikannya gelap, aku hanya ingin menulis kegilaanmu, atau kegilaanku yang sudah sekian lama aku sembunyikan, meski tidak semua yang kutulis adalah aku, dan tidak semua yang engkau baca adalah kau. Terkadang aku menulis tentang engkau, tapi engkau malah membaca itu sebagai aku, sepertinya kau tidak akan pernah membaca tulisan yang benar-benar kutujukan untukmu dan mungkin aku tidak benar-benar mengerti yang sedang kutuliskan ini, entah itu untukku atau malah untukmu yang dulu, tapi aku yakin kita, aku dan kamu bukan seperti sepasang sepatu yang mereka gambarkan untuk pencinta, tidak persis sama, tapi bisa berjalan bersama, bahkan saat yang satu hilang yang satunya lagi tak berarti, itu bukan kita, aku dan kamu. tapi kita, aku dan kamu itu sama, hanya saja kita, aku dan kamu dalam raga yang berbeda, entah engkau yang bersemanyam di ragaku atau aku yang terpatri dalam ragamu. Sebab kita tak pernah bersama atau mungkin tidak akan pernah, tapi kita tetap tak dapat terpisahkan, sebab jiwa kita sama, terkadang aku rindu, dan terkadang pula aku tau kau merindukanku. Kita, kau dan aku sama-sama merindu. Hingga kau bahagia bersamanya dan akupun ikut bahagia, atau aku yang duluan berbahagia, dan aku yakin kau akan senantiasa berbahagia dengan kebahagiaanmu.

          Sekarang aku mulai terengah-engah dalam kegilaan, kegilaan yang aku menyadarinya sebagai kegilaan, mungkin saat kau membaca goresan kegilaan ini kau tak akan pernah mengerti, meski kau bisa memaknai, tapi aku yakin kau tak bisa menjabarkannya, sebab akupun tidak mengerti apa yang ku tulis saat ini, kadang aku menulis tentang diriku, kadang pula aku menulis tentang dirimu. Kadang aku menulis untukmu, tapi kau malah menyangka itu untukku, kadang pula aku menulis untukku, tapi kau membaca sebagai dirimu, kapan kau bisa menjadi aku, mengkin tak akan pernah, sebab kau itu aku, dan aku adalah kau, mungkin yang dulu.

          Terjemahkan jika kau bisa, dan jika engkau benar-benar bisa, maka sadarlah kau sedang dalam kegilaan yang sama, atau mungkin kegilaan ini yang membuat kita sama.

          Terima kasih kegilaanku atau kegilaanmu. Terima kasih goresan kegilaan, coretan yang bagai dalam tinta, hitam dan tak dapat di baca.

          

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close