badge IBU TIDAK PERGI TAPI IBU TIDAK DI SINI | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , » IBU TIDAK PERGI TAPI IBU TIDAK DI SINI

IBU TIDAK PERGI TAPI IBU TIDAK DI SINI

Advertisement

Ibu sering memarahiku, bahkan mengusirku,,,
Ibu sering memukulku, saat guru sekolahku mengirim surat untuk Ibu,,,
Ibu bahkan cukup sering mengenalkan aku pada sapu, rotan, dan kayu, saat aku tak mau shalat,,,
Ibu juga mengusirku saat aku tak mau mengaji,,,
Saat aku bangun kesiangan ibu berkata “sudah Ibu bilang, jangan bergadang”,,,
Ibu sangat keras padaku, ibu tidak pernah sayang padaku, itulah suara hatiku saat kecil,,,,
Namun saat beranjak dewasa aku sadar, Ibu adalah kilau keghaiban Tuhan,,,
Ibu adalah hati yang selalu memaafkan, mau seberapa banyak dan besar kesalahan yang aku lakukan,,,
Saat aku tertidur, aku tau ibu duduk di sampingku, mengusir nyamuk agar tidak menggigitku,,,
Aku juga tau, ibu mengipas-ngipasku, saat keringat membasahi keningku dalam tidur,,,
Aku juga tau, tak jarang ibu bergadang menjagaku, saat aku demam,,,
Saat aku beranjak besar, ibu selalu khawatir dengan pergaulanku,,,
Ibu sering mengantarku ke sekolah, Ibu juga tak jarang menjemputku saat pulang,,,
Sebenarnya aku kasihan pada Ibu, Ia bisa sedikit bersantai, tanpa harus mengantar jemput aku,,,
Ibu juga tak jarang menangis karena Ulahku,,,
Ibu menangis saat aku mendapat susah,,,
Ibu juga menangis saat aku bahagia,,,
Ibu menangis saat adikku memukul anak tetangga,,,
Ibu juga menangis saat adikku keluar dari penjara,,,
Ibu adalah sosok yang dapat mengubah dunia,,,
Ibu mampu merubah sayur murah menjadi sedap dan di rindui,,,
Ibu adalah hati yang selalu bisa menerima di sakiti oleh anak-anaknya,,,
Hati yang selalu mampu bersabar mendidik anaknya,,,
Hati yang tidak akan menangis saat anaknya menangis,,,
Tapi Ibu menangis saat anak-anak tidak melihatnya,,,
Ibu,,,,,

Sebanarnya bukan kepergian yang membuat aku mengeluh,,,
Bukan maut yang membuat aku takut,,,
Tapi hidup yang tak hidup, serasa mati dalam kehidupan,,,
Sebab hilangnya rasa dan fitrah,,,
Aku hanya bisa berdiri di lorong malam, berselimut sepi,,,
Lorong hitam tanpa tujuan, aku tak bisa kemana-mana,,,
Iya Bu, hidup memang fana, tapi hilangnya hati jauh lebih menakutkan,,,
Aku hanya bisa melihat Ibu, tapi tak mampu berbicara,,,
Memaksa berbicara, hanya seperti berbicara dengan yang tidak ku kenali,,,
Hidup memang fana Bu, tapi keadaan tidak berdaya serasa semua tidak ada,,,
Aku seperti terbuang ke belantara, di jauhi sanak saudara dan tetangga,,,
Aku berbicara di pusat keramaian, tapi tidak ada yang mendengarku,,,
Aku menulis cita-cita, tapi mereka menertawakan dan merobek-robek kertasku,,,
Aku takut, aku malu, aku pilu, hidup serasa begitu semu,,,
Hidup memang fana Bu, guruku selalu berkata begitu,,,
Tapi itu bisa ku terima, ketimbang harus memeluk diriku sendiri di hemparan cakrawala,,,
Aksara yang aku lukis seakan sirna, saat mati rasa, dalamnya savana tak berarti apa-apa,,,
Mengingatmu Ibu sama dengan kewajiban hari-hariku,,,
Kesederhanaan bahasa prosa, bait kecil penuh makna, tapi kita punya kewajiban masing-masing ya Bu,,, kita memang punya cita-cita yang berbeda,,,, masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata,,,
Ibu, apakah Ibu masih Ingat saat itu, aku memeluk dan mencium ibu di atas perahu, saat ibu sakit aku selalu memijitmu, saat ibu pusing, aku merangkul pundak Ibu,,, apa Ibu masih ingat,,,
Ibu, kiamat boleh saja tiba, hidupku sudah sarat akan makna, aku memang tidak pernah rugi hidup di dalam Ibu, dan saat aku menulis sajak aksara, dimanapun itu, aku selalu ingat bahwa keberuntungan dan kesialan kemaren, esok sama saja dengan hari ini,,,
Bencana dan rasa syukur sama sahaja, langit luar dan langit dalam jiwa juga sama saja,,,
Semua akan bersatu dalam jiwa,,,
Sudah yaa Bu, aku mau tidur,,, mungkin ini pesan Ibu,,, dulu,,,,,,


0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close