badge RUMAHKU TAK SENYAMAN DULU | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , » RUMAHKU TAK SENYAMAN DULU

RUMAHKU TAK SENYAMAN DULU

Advertisement
Nyanyian syahdu itu tidak pernah lagi aku dengar, sejak dimensi kami telah berbeda
Berbeda kebutuhan, berbeda keinginan, meski kerinduan ini masih tetap sama
Aku rindu nyanyianMu, sebab rumah kita telah berbeda sejak engkau meninggalkannya
Beda keadaannya, beda suasananya, beda kerinduannya, bahkan mungkin aku tidak lagi merindui pulang

“Ayah, rasa nyaman dulu sulit membuatku meninggalkan tempat aku pulang, rasa nyaman membuat aku sulit berubah, celakanya lagi aku tidak tahu telah terjebak dalam keadaan nyaman dulu, saat nyanyian itu bersenandung dengan syahdu

“Ayah, rasa takut juga sulit membuatku untuk pergi, sulit untuk aku tidak pulang, meski aku tidak tahu takut untuk apa, aku hanya me_reka-reka ketakutanku yang tidak pernah aku tahu ada ataupun tidak, bahkan aku tega menciptakan ketakutan, lantas menguntai getar, menjadikan tameng untuk tidak berjalan bahkan bergerak

“Ayah, rumah kita tidak senyaman dulu, bukan, bukan karena atapnya dari rumbia, bukan sebab dinding penuh rayap, bukan warnanya yang telah kusam, tapi aku tidak mengenali isi di dalamnya, aku melihat banyak orang asing di sana, aku melihat ada benda asing menjelma, dan miris saat asing dekat dengan ibu, aku bahkan mengenal ibu dalam ke_asingan itu

Tidak, tidak, aku tidak membenci, tapi aku tidak mencintai, perasaan tenggelam, hampa, aku bahkan tidak tahu siapa aku dan saudarku, terlelap dalam kenyamanan masa lalu terlena nyanyian syahdu
Aku hanya bisa memendam bongkahan perasaan itu, tak jarang aku terjebak dalam hatiku sendiri, aku sibuk merangkai kejadian di sekitar untuk membenarkan harapan hatiku, sibuk membenarkan hatiku, menimbun mimpi yang tak pernah ada, hingga aku lupa mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta

“Tuhan, kenapa bongkahan perasaan itu harus ada, kenapa dia harus selalu bertengkar dengan fikiran, kenapa ? kenapa Ya Rabb
Aku tidak bisa melihat, engkau anugerahi mata, aku tidak bisa mendengar, engkau berikan aku telinga, aku tidak bisa berjalan, engkau ciptakan kaki, tapi kenapa bongkahan perasaan harus ada ? kenapa aku tidak bisa rela, kenapa aku tak bisa, padahal rela atau tidak, rumahku memang telah berbeda, telah beda
Yaa, rumahku memang telah berbeda, rinduku bukan lagi pulang, rinduku pergi, aku sadari, meski hati meronta-ronta, menipu jiwa, tersenyum pada semua, berharap mereka masih mengira tempat aku pulang masih sama,,,


Maaf, cinta ini telah sirna, rindu ini tak ada lagi artinya, menyayangi hanya kebencian yang aku nafi, jangan mengajari, aku tahu itu salah, tapi aku tidak tahu yang mana yang benar
Aku bukan daun, yang tak pernah membenci angin saat iya terjatuh, aku bukan hujan, terus terjatuh meski ia tahu akan menghilang, aku tidak memelihara kepompong, yang akhirnya menjadi kupu-kupu indah, namun setiap yang bersayap akan terbang,,, semua bukan aku
Aku sadar hidup semakin sulit, namun berhenti bukanlah tujuan, berjalan, terus berjalan meski tersesat adalah tujuan, hidupku harus terus berlanjut, tak peduli seberapa sakit dan bahagia pada akhirnya, biarlah aku memahami hidup dengan pemahaman yang benar, biarkan aku menerima hidup, dengan penerimaan yang indah, hingga jalan dan waktu menjadi obat penawar rindu nyanyian syahdu itu.

Aku tidak mau kalah dengan ke_asingan rumahku, aku tidak mau mati dalam kekalahan orang asing itu, aku tidak mau
Sebab aku masih bersatu, rindu masih tetap rindu, dimensi tak pernah menjadi belenggu,,, aku rindu, dimensi lain itu.


Jangan bertanya apapun ! karena rumahku tidak seperti rumahmu, kerena rumahku tidak senyaman rumahmu, itulah sebabnya aku lebih bahagia di sini, di tempat asing, di perjalanan, di luar sana, pergi, bukan pulang.

T.M.A


0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close