badge SKRIPSI PENGARUH PENGELOLAAN KOPERASI PONDOK PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN JIWA WIRAUSAHA PARA SANTRI | Ukhwah Asyifusyinen
Home » » SKRIPSI PENGARUH PENGELOLAAN KOPERASI PONDOK PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN JIWA WIRAUSAHA PARA SANTRI

SKRIPSI PENGARUH PENGELOLAAN KOPERASI PONDOK PESANTREN TERHADAP PEMBENTUKAN JIWA WIRAUSAHA PARA SANTRI

Advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah

Koperasi merupakan kumpulan orang-orang yang bekerja sama memenuhi  satu   atau   lebih   kebutuhan   ekonomi   atau   bekerja   sama melakukan   usaha, maka   dapat   dibedakan   dengan   jelas   dari   badan- badan  usaha  atau  pelaku kegiatan  ekonomi  yang  lebih  mengutamakan modal.   Dengan  demikian koperasi   sebagai badan usaha mengutamakan faktor manusia dan bekerja atas dasar perikemanusiaan bagi kesejahteraan para anggotanya. Meskipun koperasi   merupakan    kumpulan    dan menjunjung    tinggi    nilai-nilai  kemanusiaan,  tetapi  koperasi  bukanlah badan amal. 
Sebagaiman firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2:
Artinya:   dan   tolong-menolonglah   kamu   dalam   (mengerjakan) kebajikan  dan takwa, dan jangan  tolong-menolong  dalam berbuat  dosa dan  pelanggaran.  dan  bertakwalah  kamu  kepada  Allah,  Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya (Q.S. Al-maidah: 2)

Kerjasama  dalam  masyarakat  modern  telah  nampak  wujudnya dalam suatu jaringan  sistem  yang  lebih  kompleks.  Bentu-bentuk  ikatan persekutuan  hidup telah  berkembang  dan  menjadi  lebih  beragam.  Kini kerja   sama   di  samping memenuhi   kebutuhan   menjaga   kelangsungan hidup   dan   rasa   aman,   juga   untuk memperoleh   kasih   sayang   dan persahabatan    seperti    dalam    keluarga    dan  paguyuban,    juga    telah digunakan    untuk   mencapai   tujuan-tujuan    tertentu   yang diinginkan, seperti nampak organisasi-organisasi yang resmi yang bersifat mendidik.
Koperasi  mempunyai   tujuan   yang   utama   ialah meningkatkan taraf    hidup  dan    kesejahteraan    anggota-anggotanya.    Pada    asasnya koperasi   bukanlah   suatu usaha yang mencari   keuntungan   semata-mata seperti    halnya    usaha-usaha    swasta  seperti  firma  dan perseroan  akan tetapi mensejahterakan anggotnya, dalam hal ini dengan meningkatkan kegiatan-kegiatan koprasi.
Berbicara  mengenai  koperasi  sangat  berkaitan  dengan wirausahawan,  mengingat teori   wirausaha   sering   kali   belum   mampu memberikan   jawaban-jawaban   yang memuaskan   terhadap   masalah- masalah  yang  dihadapi  dalam  menganalisis  dan membangun  koperasi, perlu  disadari  bahwa  fakta  menunjukkan  organisasi organisasi koperasi hanya  mencakup     suatu  bagian  dari     semua  kegiatan  ekonomi,  dan koperasi akan dapat hidup hanyalah dalam kondisi yang sangat khusus. 
Dalam GBHN 1988 dinyatakan “Bahwa koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat perlu terus didorong pengembangannya dalam rangka mewujudkan demokrasi  ekonomi. Koperasi harus  dapat  berkembang menjadi  lembaga ekonomi  rakyat  yang  mandiri  yang  pertumbuhannya berakar     di     dalam  masyarakat.   Untuk  itu  perlu  lebih  ditingkatkan kesadaran, kegairahan dan kemampuan    masyarakat    luas    untuk berkoperasi,  antara  lain  melalui pendidikan, penyuluhan dan pembinaan pengelolaan  koperasi. Selanjutnya  untuk   ditingkatkan   partisipasi   aktif anggota    pada    semua    tingkat    serta  keterkaitan  kelembagaan  antara primer, pusat dan induk”. 
Asumsi   manusia   rasional   merupakan    dasar   dari   pemikiran ekonomi,  sehingga    setiap   kegiatan   ekonomi    yang   dilakukan    oleh manusia   yang   rasional akan berprinsip pada prinsip   ekonomi yaitu menggunakan     sumber  yang    terbatas  untuk  mencapai     hasil     yang maksimal.  Terutama  dalam    koperasi    adanya    prinsip  - prinsip    yang diterapkan    dalam    sebuah    koperasi.    Untuk    terlaksananya    proses ekonomi   dalam   sebuah   koperasi   yang  baik  maka   faktor   lain   yang sangat  menentukan     adalah     terciptanya     suatu     koperasi     dengan pengelolaan  organisasi yang lebih efektif.
Selanjutnya,   untuk  keberlangsungan   hidup  masyarakat   pondok (santri) mereka mempunya ide untuk membuat suatu usaha dengan tujuan mendidik santri untuk mempunyai jiwa usaha. Permaasalahan awal yaitu santri mempunyai  keinginan  untuk menciptakan  lapangan pekerjaan  dan belajar berwirausaha, kemudian diciptakanlah koperasi pondok pesantren.
Koperasi pondok pesantren adalah sekumpulan para santiwan/santriwati  yang bekerja sama untuk kepentingan mereka sendiri dan menggunakan modal mereka senidiri. Maka, dapat di artikan koperasi pondok  pesantren  mempunyai  asas;  dari  santi,  oleh  santri  dan  untuk kesanti.  Adapun  pengelolan  koperasi  ini dikelola  santri itu sendiri yang dipimpin  oleh  salah  satu  ketua  dan  di  awasi  oleh  pengasuh  pondok pesantren.
Di dalam koperasi pesantren perlu  adanya pengelolaan yang baik, yang mana dalam kegiatan ekonomi  ini santri  ikut serta dalam mengelola proses ekonomi   yang   sedang   berlangsung.    Koperasi   pesantren   ini memberikan  arahan bagi santri dalam kegiatan ekonomi dan kegiatan  itu dijadikan media pendidikan bagi  santri,    tujuan  ini  memberikan  arahan bagi   santri    tentang    cara   memilih  berbagai    alternatif    yang   dapat memuaskan   kebutuhan   hidup mereka   sehari-hari. Yang mana   dengan adanya    koperasi    pesantren    kebutuhan    santri    dapat    terpenuhi  dan koperasi  pesantren  menyediakan  apa yang santri  butuhkan  tetapi  bukan hanya pihak   pesantren   saja,   koperasi   pesantren   ini  memberikan kebebasan  kepada masyarakat  sekitar untuk melakukan kegiatan ekonomi sesuai dengan kebutuhan mereka.
Bila koperasi mempunyai keunggulan dalam menawarkan produk kepada  anggotanya    dibanding    dengan    non  koperasi    maka    dengan  sendirinya  anggota    akan    bertransaksi    dengan    koperasi. Demikian halnya    koperasi  pesantren,    jika    koperasi    mempunyai    keunggulan dalam  menawarkan alternatif  investasi  kepada  investor,  maka  investor akan    menanamkan  dananya    kedalam    koperasi.  Dengan    demikian, anggota masyarakat   dapat dianggap   sebagai   konsumen   potensial   atau investor  potensial  yang sewaktu-waktu dapat ditarik oleh unit ñunit usaha dalam rangka hubungan bisnis. 
Koprasi mempunya  sifat yang terbuka untuk umum Setiap orang tanpa  memandang  golongan,  aliran,  kepercayaan  atau  agama  orang  itu, dapat diterima sebagai anggota koperasi. Koperasi memang merupakan wadah persatuan orang-orang yang miskin dan  lemah ekonominya untuk bekerja sama memperbaiki nasib dan meningkatkan taraf hidup mereka. 
Jadi,   dalam   koperasi   pesantren   ini   di samping   tujuan   yang ekonomis komersial,   koperasi   harus   memperhatikan   pula   tujuan   dan cita-cita   sosialnya,  terutama   bagi   anggota-anggotanya.    Jadi   seorang pengurus   koperasi   pesantren yang   baik   harus   berusaha   dan mampu memberikan  pelajaran  yang  bersifat  membentuk  jiwa  wirausaha    dan fungsi  sosial   koperasi   yang   dipimpin   dibawah   naungan   pengasuh pondok pesantren dan  dijalankan  oleh pengurus  yang  melibatkan semua santri secara  baik dan berimbang,  koperasi     pesantren     harus memperhatikan      pendidikan      anggota-anggotanya.   Koperasi      harus memperhatikan     kesejahteraan     serta     kesehatan     para     anggotanya diantaranya  para  santri  dan  masyarakat  sekitar  yang  selalu  ikut  serta dalam kegiatan ekonomi. Tegasnya koperasi pesantren adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial dan mendidik.
Salah satu koperasi yang mempuanyai latar belakang seperti uraian di atas adalah koperasi yang berada di Pondok Pesantren Ummul Ayman Desa Gampoeng Putoeh Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen, dan sekaligus menjadi alasan penulis menjadi tempat untuk diteliti.
Koperasi ini semula ide santri-santri untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, ide tersebut dilaksanakan dan dikembangkan  oleh beberapa pengurus,  mulai dari jual beli sandang pangan, hutang piutang dan lambat laut bisa memproduksi bahan mentah menjadi bahan pangan, oleh karena itu sedikit demi sedikit jiwa wirausaha tertanam dalam jiwa para santri.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan dan   menuangkannya ke dalam bentuk skripsi dengan judul, “Pengaruh Pengelolaan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Terhadap Pembentukan Jiwa Wirausaha Para Santri”.

B. Rumusan Masalah
Dalam penyussunan tugas akhir ini, penulis akan merumuskan masalah yang akan diteliti. Rumusan masalah yaitu: 
a. Berapa besar pengaruh pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah, maka   tujuan yang   ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk  mengetahui  realitas  pengaruh pengelolaan koperasi  pesantren dan  koperasi  terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri  serta diharapkan    santri   benar-benar memahami    bagaimana    cara pengelolaan  koperasi.
b. Terbentuknya jiwa usaha yang  telah  diterapkan  di  Koprasi Pondok Pesantren Ummul Ayman Desa Gampong Putoh Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen, dan  penulis  berharap  santri  putra maupun putri mendapatkan pengetahuan yang berharga bagi dirinya.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
a. Bagi Penulis, penelitian ini berguna untuk menambah dan memperluas ilmu pengetahuan khususnya tentang bagaimana pengaruh pengelolaan koperasi  pesantren Pondok Pesantren Ummul Ayman Desa Gampong Putoh Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen terhadap pembentukan jiwa usaha para santri. 
b. Bagi lembaga yang diteliti, penelitian ini   berguna   untuk memberikan masukan berdasarkan hasil penelitian dan memperluas landasan teoritis melakukan  survey  di  lapangan  sehingga  dapat memberikan pengetahuan tentang koperasi.
c. Bagi pengurus dan pengawas, diharapkan dapat memberikan pembinaan  kepada  pengurus  koperasi (santri)  untuk  senantiasa menjadikan  koperasi  sebagai  media  pendidikan  bagi  ekonomi  para santri.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Kerangka Teori

a. Hakikat koperasi
Koperasi  berasal  dari  perkataan  ko/co  dan  operasi/operation, yang mengandung   arti  kerja   sama  untuk  mencapai   tujuan.   Koperasi adalah    suatu  perkumpulan    yang    beranggotakan    orang-orang    atau badan-badan,   yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerja sama secara  kekeluargaan   menjalankan   usaha, untuk   mempertinggi   kesejahteraan jasmaniah para anggotanya. 

b. Landasan Koperasi
Indonesia     adalah    Negara    hukum.    Segala    warga    negara bersamaan  kedudukannya    di   dalam   hukum    dan   pemerintahan    itu dengan   tidak   ada kecualinya.  Hukum melindungi kepentingan segenap warga  Negara  dan  mengatur  hubungan  satu  terhadap  yang  lain,  agar terjalin dalam keserasian serta ketertiban.
Dalam seluruh sistem hukum di Indonesia, koperasi telah mendapatkan  tempat yang pasti. Karena itu landasan hukum koperasi di Indonesia sangat kuat. Sementara bangun usaha bukan koperasi masih mengikuti warisan sistem hukum lama peninggalan belanda yaitu hukum dagang  dan  hukum  perdata,  koperasi  telah  memiliki    undang-undang sendiri.   Namun   demikian,   perlu   dipahami   bahwa perubahan   sistem hukum dapat berjalan   lebih cepat dari perubahan alam pikiran dan kebudayaan masyarakat sehingga koperasi dalam kenyataan belum berkembang  secepat  yang  kita  inginkan  meskipun  memiliki  landasan hukum yang kuat.

c. Bentuk Koperasi
Dalam  PP No.  60 Tahun  1959   (pasal  13 Bab   IV) dikatakan bahwa  yang  dimaksud  dengan  bentuk  koperasi    ialah    tingkat-tingkat koperasi  yang didasarkan  pada cara-cara  pemusatan,  pengaabungan  dan perindukannya.
Berdasarkan   ketentuan   tersebut,   maka   terdapatlah   4   bentuk koperasi yaitu:
1. Primer
2. Pusat
3. Gabungan.
4. Induk.

d. Partisipasi Anggota Pada Koperasi
Bila dipandang dari segi dimensinya, partisipasi terdiri atas:
1. Partisipasi   dapat   dipaksakan   dan   dapat   pula   sukarela,   jika tidak dipaksakan oleh situasi dan kondisi maka partisipasi yang dipaksakan tentu   tidak akan cocok dengan prinsip koperasi keanggotaaan   terbuka dan  sukarela   serta  manajemen   yang demokratis.    Oleh    karena    itu  partisipasi    yang    tepat    pada koperasi  adalah  partisipasi  yang  bersifat sukarela.
2. Partisipasi dapat formal dan dapat pula informal. Pada partisipasi yang  bersifat  formal,  biasanya  telah  tercipta  suatu  mekanisme formal dalam pengambilan keutusan,  tetapi dalam partisipasi yang bersifat    informal  biasanya    hanya    terdapat    persetujuan    lisan antara  atasan  dan  bawahan mengenai bidang partisipasi.
3. Partisipasi    bisa    bersifat    lansung    dan    bisa    bersifat    tidak langsung. Partisipasi  langsung  terjadi  apabila  setiap  orang  dapat mengajukan  pandangan,     membahas     pokok     persoalan, mengajukan    keberatan  terhadap    keinginan    orang    lain    atau terhadap     ucapannya.      Sedangkan   dalam     partisipasi      tidak langsung  akan  ada  wakil  yang  membawa aspirasi orang lain.
4. Partisipasi  pada koperasi  dapat berupa  partisipasi  kontributif  dan dapat pula  berupa  partisipasi  insentif.  Kedua  partisipasi  tersebut timbul sebagai  akibat  peran  ganda  anggota  sebagai  pemilik  dan sekaligus sebagai pelanggan. 

B. Manajemen dan pengelolaan Koperasi
Koperasi sebagai bentuk badan usaha yang bergerak dibidang perekonomian,   mempunyai  tatanan  pengelolaan  yang  berbeda  dengan badan  usaha  non  koperasi,   perbedaan   tersebut  bersumber  pada  asas koperasi  yang  bersifat  demokratis,  dimana  penggelolaanya  adalah  dari, oleh dan untuk anggota.
Oleh  karena  itu  dalam  tatanan  management   koperasi   dikenal adanya rapat anggota, pengurus, badan pemeriksa dan manager.
Menurut The Contemporary Business Dictionary, manajemen mempunyai dua   makna,   yaitu   pertama,   proses   perencanaan, pengorganisasian,   pelaksanaan, dan  pengawasan   perusahaan   untuk mencapai  sasaran  tertentu;  kedua,  para pemimpin  perusahaan.   Dalam buku    ini    digunakan    istilah    manajemen    menurut  pengertian  yang pertama. 
Fungsi  manajemen   menurut   George   R.  Terry  adalah  sebagai berikut.
1. Perencanaan (planning)
2. Pengorganisasian (organizing)
3. Pelaksanaan (actuating)
4. Pengawasan (controlling)

C. Perbedaan koperasi dengan badan usaha lain.
Dalam   ilmu   ekonomi,   koperasi   termasuk   badan   usaha   yang berbentuk  badan  hukum.  Akan  tetapi  koperasi  memiliki  ciri  tersendiri yang berbeda dengan badan-badan usaha lain, antara lain:
a. Koperasi:
1. Tidak mencari keuntungan sebesar-besarnya.  Maksud pertama adalah memperbaiki kesejahteraan anggota (benefit associatin).
2. Orang   (anggota)   yang   diutamakan   modal   hanya   sebagai   alat.
3. Keuntungan    dibagi    menurut    jasa    anggota    terhadap    terjadinya keuntungan itu.
4. Anggota mempuyai hak suara yang sama (demokrasi)
5. Modal koperasi berubah-ubah, bergantung pada keluar masuk anggota
6. Bekerja secara terang-terangan sehingga dapat diketahui.
b. Badan usaha lain:
1. Mencari keuntungan sebesar-besarnya (profit association).
2. Uang  (modal)  diutamakan,   orang  (anggota)  faktor  kedua. 
3. Modal berkuasa dan keuntungan dibagi menurut besarnya modal. 
4. Hak suara bergantung besarnya modal yang dimiliki
5. Modal badan usaha tetap.
6. Merahasiakan cara bekerjanya supaya dapat keuntungan. 

D. Pondok Pesantren
a. Pengertian Pondok Pesantren
Kata Pondok mengandung makana, bangunan utuk tempat sementara, biasanya didirikan diladang sawah, hutan dan sebagainya. 
Dalam perkembangan selanjutnya kata pondok dapat berarti bangunan tempat tinggal yang berpetak-petak,  berdinding bilik, beratap rumbia untuk tempat tinggal beberapa anggota.
Sementara itu kata pesantren berasal dari kata santri. Kata santri yang berarti “orang yang mendalami ilmu agama islam atau juga orang yang beribadat dengan bersungguh-sungguh dan biasa disebutn dengan oarang uang saleh”. Dari kata santri, diberi awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pesantrian” atau “pesantren” yang artinya tempat untuk tinggal    dan    belajar    para    santri. 
b. Sistem Pendidikan pondok pesantren
Sebagai  lembaga  pendidikan  yang  mempunyai  ciri-ciri tersendiri,   pesantren   memiliki   tradisi   keilmuan   seperti   lembaga-lembaga lain. Pesantren pada dasarnya adalah sebuah lembaga pendidikan, walaupun ia mempunyai fungsi tambahan yang tidak kalah pentingnya dengan fungsi pendidikan tersebut.
Berdaasarkan  Peraturan Menteri Agama RI No. 3 Tahun 1979 tentang pemberian bantuan pada Perguruan Agama Islam pasal 2 ayat 2 (dua) telah disebutkan bahawa:
“Pondok  pesantren  yaitu:  lemabaga  pendidikan  agama  islam yang  diasuh  oleh  seorang  kyai  dan yayasan  atau  organisasi  dengan sistem asrama  pengajaranya  dalam  bentuk  sekolah/madrasah  dengan masa  belajar  yang  disesuaikan  jenis  tingkatan  sekolah atau  progam kitab  disesuiakan  dan  diselesaikan,  serta  menjadikan  masjid  sebagi pusat kegiatan” 
Menurut Moses Caesar Assa pendidikan Ponpes sebagian besar dari Sistem Pendidikan Nasional, ponpes pendidikan didukung oleh 3 unsur utama, yaitu:
1. Kyai sebagi pendidik sekaligus pemilik pndok dan santri.
2. Kurikulum pondok pesantren.
3. Sarana peribadatan  dan pendidikan, 

E. Kewirausahaaan (Entrepreneurship)
a. Definisi Wirausaha (Entrepreneur)
Wirausaha dan kewirausahaan (Entrepreneur) merupakan istilah yang masih baru di Indonesia. secara historis kewirausahaan ini mulai diperkenalkan pada abad ke-18 di prancis oleh richard cantillon. Pada periode yang sama di inggris juga sedang terjadi revolusi industri yang melibatkan sejumlah wirausaha. 
Kata wirausaha atau “pengusaha”   diambil dari bahasa Perancis “entrepreneur”    yang  pada  mulanya  berarti  pemimpin  musik  atau pertunjukan.  Dalam ekonomi,  seorang pengusaha  berarti orang yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan peluang secara berhasil.
Pengertian   kewirausahaan   itu   sendiri   berkembang   sejalan dengan evolusi pemikiran para ahli ekonomi di dunia barat, kemudian menyebar ke negara-negara lain termasuk Indonesia. di negara kita sendiri konsep entrepreneurship tersebut dialih bahasakan sebagai keriraswastaan atau kewirausahaan, sementara entrepreneur sebagai wirausaha.
b. Urgensi pendidikan kewirausahaan
Pengembangan  entrepreneurship  (kewirausahaan)  adalah kunci kemajuan. Mengapa? Itulah cara mengurangi jumlah pengangguran, menciptakan  lapangan  kerja,  mengentaskan  masyarakat  dari kemiskinan dan keterpurukan ekonomi. Lebih jauh lagi dan politis, meningkatkan harkat sebagai bangsa yang mandiri dan bermatabat.
Dalam ranah pendidikan, persoalanya menyangkut bagaimana dikembangkan praktis pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia yang trampil dari sisi ulah intlektual, tetapi juga praksis pendidikan yang inspiratif pragmatis. Praksis pendidikan, lewat kurikulum, sistem dan penyelenggaraanya harus serba terbuka, eksploratif  dan membebaskan.  Tidak hanya praksis pendidikan  yang link  and match  (tanggem),  yang lulusanya  siap memasuki  lapangan kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja. 

F. Kerangka Berpikir
Pengelolaan     Koperasi     yang    melibatkan     santri     ini    pada hakikatnya  merupakan  sesuatu  upaya  bantuan  untuk  menambah pengetahuan santri, baik putri maupun  putra  yang  sesuai  dengan  tujuan yang     ditetapkan,     baik     berupa     teori  maupun   prakteknya   dalam pengelolaan koperasi.
Koperasi   yang   ada   di   Pesantren Ummul Ayman ada beberapa   macam,   ada koperasi   putri   yang   pengelolaan   koperasinya dikelola    oleh   santri   putri   maupun  koperasi  yang ada  disantri  putra pengelolaan   koperasinya   dikelola   oleh   santri   putra   tetapi   dibawah bimbingan  pengasuh  dan  pengurus  pondok  yang  bersangkutan.
G. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan  landasan  teori  dan  kerangka  fikir  yang  telah dikemukakan, maka dirumuskan hipotesis   terhadap masalah yang dikaji. Adapun yang menjadi hipotesis   penelitian   ini, yakni   terdapat pengaruh pengelolaan koperasi   pesantren Ummul Ayman  terhadap pembentukan jiwa  wirausaha  para  santri.  Berdasarkan  kajian  teori  dan     kerangka berfikir  yang  telah  diuraikan  diatas,  maka  diajukan  penelitian sebagai berikut:
Ha : Terdapat pengaruh dalam pengelolaan koperasi pesantren   terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri
Ho : Tidak    terdapat  pengaruh  dalam  pengelolaan  koperasi  pesantren terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode   penelitian   merupakan   strategi   umum   yang   dipakai dalam pengumpulan  data  dan  menganalisis  data  yang  diperlukan  guna menjawab permasalahan   yang   dihadapi,   penggunaan   metode   ini dimaksudkan    untuk  menemukan  dan  mengumpulkan  data  yang  valid, akurat,     serta     signifikan   dengan   masalah   yang  diangkat,   sehingga diperlukan sebagai pengungkapan masalah yang dipakai.
Metode   penelitian   yang   dipergunakan   dalam   penelitian   ini adalah penelitian  dengan  deskriptif  kuantitatif,  Kuantitatif  adalah  suatu proses menemukan  pengetahuan  yang  menggunakan  data  berupa  angka sebagai   alat menemukan   keterangan   mengenai   apa   yang   ingin   kita ketahui. Tujuan   dari penelitian   ini adalah   untuk   membuat   deskripsi, gambaran  atau  lukisan secara  sistematis,  faktual  dan  akurat  mengenai fakta-fakta,  sifat-sifat  serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. 

B. Tempat Penelitian
Tempat yang  menjadi    objek    penelitian    adalah  Koperasi Pondok Pesantren Ummul Ayman Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen Provinsi NAD.
Penulis  akan melakukan   wawancara    dengan   Ketua   Koperasi untuk melihat   situasi   Koperasi   Pesantren Ummul Ayman dan memperoleh   data mengenai  sejarah,  latar belakang,  struktur organisasi, tugas dan fungsi,  tata tertib,   program   kerja,   keadaan   wilayah,   dan keterangan-keterangan mengenai  kondisi  Koperasi  seperti  keadaan pembeli,  karyawan,  santri yang terlibat dalam pengelolaan Koperasi.

C. Tujuan Penelitian
Dalam  penelitian     ini,     tujuan  yang  penulis     inginkan  yaitu: penelitian   akan diarahkan pada   terwujudnya suatu deskripsi yang mengungkapkan secara faktual   tentang pengaruh pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) terhadap pembentukan jiwa wira usaha para santri  dan  apa  manfaat  yang  diperoleh  para  santri  setelah  mengikuti anggota koperasi.

D. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi   pada  penelitian   ini  adalah   semua santri  Pondok Pesantren Ummul Ayman. Sedangkan  sampel  yang  penulis gunakan adalah anggota koperasi Maisarah. Teknik   pengambilan   sampel dalam penelitian ini menggunakan cara quota sample yaitu cara mengumpulkan  data dan peneliti menghubungi   subjek   yang memenuhi persyaratan   ciri-ciri   populasi,   dan yang dihubungi adalah subjek yang mudah ditemui.  Penulis memilih sampel dari santri putra maupun putri dengan berbagai kalangan yang berjumlah 60 orang, diantaranya 30 santri putri dan 30 santri putra.

E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam  pengumpulan  data  untuk  kepentingan  ini,  penulis  akan menggunakan teknik Dokumentasi, Angket.
a. Dokumentasi
Dokumentasi,   dari   asal   kata   dokumen,   yang   artinya barang-barang tertulis.  Penulis mengumpulkan data-data dengan meneliti   data-data   yang  telah   di  dokumentasikan   oleh   pihak koperasi  seperti data statistik grafik,  dokumen-dokumen  penting, peraturan-peraturan, dan lain-lain.
b. Angket
Angket, adalah daftar pertanyaan atau pernyatan yang dikirimkan kepada  responden   baik  secara  langsung  atau  tidak langsung.   Angket ini berisi pertanyaan dengan jawaban alternatif yang berkenaan dengan pengaruh Pengelolaan Koperasi  Pesantren terhadap pembentukan jiwa wirausaha santri.
c. Observasi
Merupakan suatu metode pengumpulan data dengan mengadakan  pengamatan  langsung  (tanpa  alat)  terhadap  gejala objek yang di teliti, baik yang dilakukan dalam situasi sebelumnya maupun dalam situasi yang khusus diadakan.

F. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
a. Teknik Pengolahan Data
Dari     jawaban   yang     telah  diberikan   oleh     responden kemudian dikompilasi secara  sistematik  sesuai dengan metode statistik,   tentang   judul   skripsi   ini yang   penulis   buat   yang terdiri  dari  beberapa  pertanyaan  yaitu,  yang berkenaan  dengan pengaruh   pengelolaan   koperasi   pondok pesantren terhadap pembentukan   jiwa  wira  usaha  para  santi. Dengan jumlah pertanyaan 20 soal.
Angka-  angka  yang  diperoleh  dari  perhitungan  nilai skor yang   telah dihitung   tersebut   kemudian   penulis   susun   melalui beberapa uji dengan progam SPSS.
Adapun  perhitungan     skor     rata-rata     dengan  ketentuan sebagai berikut;
Jawaban positif
a. jawaban option SS (Sangat Setuju) skor nilai 4
b. jawaban option S (Setuju) skor nilai 3
c. jawaban option TS (Tidak Setuju)skor nilai 2
d. jawaban option STS (Sangat Tidak Setuju) skor nilai 1
Dari   hasil-hasil  yang   ada,  penulis  membagi  dua menjadi nilai  variabel    (X)  pengaruh  pengelolaan    koperasi    pesantren. Dalam  hal  ini  penulis  membagi  variabel  menjadi  tiga  variabel yaitu: X1 (planning), X2 (organizing), X3 (actuating) dan X4 (controlling).  Dan    nilai    yang  dipengaruhi  yaitu  variabel  (Y) adalah   pembentukan jiwa wirausaha para santri, nilai variabel X dan  Y  kemudian  diolah  dan  disajikan  dalam  bentuk  susunan angka-angka statistik.
Setelah   ditemukan   hasil   perhitungan   data   yang   disusun dalam   bentuk angka-angka   statistik   tersebut,   selanjutnya menganalisis  data,  yang merupakan  suatu  cara  yang  digunakan untuk   menguraikan   data   yang diperoleh   agar   dapat   dipahami oleh  orang  yang  meneliti,  tapi  juga  oleh orang lain yang ingin mengetahui hasil penelitian. 

G. Teknik Analisis Data
Analisis untuk mengetahui pengaruh pengelolaan koperasi pondok  pesantren  (kopontren)  terhadap  pembentukan  jiwa wirausaha para santri dengan menggunakan analisis: 
1. Uji Validitas dan Reliabilitas
a. Uji Validitas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui validitas butir- butir pertanyaan. Uji ini pada progam SPSS dapat dilihat pada  kolom  corrected  item-total  correlation  yang merupakan  nilai  r  hitung  untuk  masing-masing pertanyaan. Apabila r hitung berada di bawah 0,05 berarti valid. 
b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu angka indeks yang menunjukan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama, untuk menghitung reabilitas di lakukan dengan koefisien Croanbach Alpha.  Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach alpha > 0,60
2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan dengan metode regresi berganda,  maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
a. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas  bertujuan  untuk  menguji  apakah dalam suatu model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel  independen.  Model  regresi  dinyatakan  tidak ada multikolineritas jika nilai VIF kurang dari 10.
b. Uji Autokorelasi
Uji   ini   dilakukan   untuk   mengetahui   ada   tidaknya korelasi   antara   faktor   pengganggu   yang   satu   dengan lainnya. Tes Durbin Watson dapat digunakan untuk menguji ada tidaknya autokorelasi. 
c. Uji Heteroskedasitas
Uji Heterokedasitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan varians.
Dasar analisis:
a) Jika   ada   pola   tertentu,   seperti   titik-titik   yang   ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang) melebar  kemudian  menyempit,  maka  mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
b) Jika tidak ada pola yang jelas serta titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. 
d. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mendekati distribusi normal, yakni distribusi  data dengan bentuk lonceng (bell shaped).  Data yang  baik  adalah  data  yang  mendekati  distribusi  normal, yakni distribusi data tersebut tidak menceng ke kiri atau kekanan. 
Uji   normalitas   juga   dapat   diuji   melalui   normal probability plot.  apabila grafik menunjukkan  penyebaran data  yang  berada  disekitar  garis  diagonal  dan  mengikuti arah garis diagonal maka model regresi tersebut memenuhi asumsi normalitas.’
H. Pengujian Hipotesis
a. Analisis Regresi Berganda
Untuk menguji hipotesis digunakan alat uji statistik yaitu deskriminasi analisis. Alasan yang mendasari penggunaan alat statistik   ini   karena   penelitian    ini   menguji   objek   yang mempunyai  dua  katagori  mutual  eksklusif  berdasarkan bebberapa   variabel   independen.    Persamaan   regersi   yang digunakan adalah : 
Y = a+b1 X1 + b2 X2+b3 X3 +b4 X4 + e
Dimana :
Y =  pembentukan jiwa wirausaha para santri 
A =  konstanta interception
b= koefesien regresi yaitu besarnya perubahan yang terjadi pada Y jika suatu unit perubahan pada variable bebas (variable X)
X1 = planning 
X2 = organizing 
X3 = actuating 
X4 = controlling
e = kesalahan random
b. Uji T (Uji Parsial)
Adalah uji yang di gunakan untuk menyatakan signifikan pengaruh  variabel  bebas  secara  parsial  terhadap  variabel terikat, langkah-langkah:
1. Menentukan hipotesis nihil dan alternatif.
Ha :b1,b2,b3,b4 ≠ 0  (ada  pengaruh  yang  signifikan antara pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri).
Ho :b1,b2,b3,b4 = 0 (tidak ada pengaruh yang signifikan antara pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) terhadap pembentukan  jiwa wirausaha para santri).
2. Menentuksn level of significant (Ó = 0,05)
3. Kriteria pengujian
Pengujian  dengan  tingkat  signifikan  sebesar  0,05 dan degree of freedom (dk): n-k, maka diperoleh nilai t. Langkah selanjutnya adalah membandingkan antara t tabel dengan  t hitung  . Apabila  jika  t hitung lebih  kecil  dari t tabel maka Ho diterima, artinya masing-masing variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan  nilai variabel dependen.  Apabila t hitung lebih besar dari t tabel   maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya masing-masing variabel independen     berpengaruh signifikan terhadap perubahan nilai variabel dependen
4. Perhitungan nilai t
Dimana:
B = koefisien regresi dari variabel (X) 
Sb1 = standar error koefisien regresi
5. Kesimpulan
Dengan membandingkan  t-hitung dengan t-tabel dapat diketahui pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri.
c. Uji F (Simultan)
Digunakan untuk mengetahui signifikasi pengaruh antara empat variabel bebas (planning, organizing, actuating, controlling) terhadap variabel terikat (pembentikan jiwa wirausaha) secara bersama-sama, sehingga bisa diketahui apakah dengan yang sudah ada dapat diterima atau ditolak. Apapun criteria pengujiaannya adalah sebagai berikut:
1. Ho  :  b1=b2=b3=b4   =  0  artinya  bahwa  pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) secara bersama- sama   tidak   mempunyai    pengaruh    yang   signifikan terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri.
2. Ha  :  b1≠b2≠b3≠b4   ≠  0  artinya   bahwa  pengelolaan koperasi pondok pesantren (kopontren) secara bersama-sama  mempunyai  pengaruh  yang  signifikan  terhadap pembentukan jiwa wirausaha para santri.
3. Menentukan level of signifikan α = 0,05
4. Kriteria  yang  digunakan  dalam  pengujian  ini  adalah sebagai berikut:
Ha = diterima apabila F-hitung ≤ F-tabel
Ho = ditolak apabila F-hitung > F-tabel
5. Kesimpulan
Dengan membandingkan F hitung dan F table diketahui  pengaruh  tingkat  motivasi  kerja  Islam  dan budaya kerja Islam terhadap produktivitas kerja.
I. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel  dependen.  Nilai  koefisien  determinasi  adalah  di antara nol dan satu. Nilai R2  yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi   yang   dibutuhkan   untuk   memprediksi   variasi variabel  independen.   Untuk  menjelaskan   aplikasi  dengan menggunakan program SPSS. 






DAFTAR PUSTAKA
Algifari, Analisis Regresi, Yogyakarta : BPFE UGM, 2000.
Arikunto,  Suharsimi,  Prosedur  Penelitian  Suatu  Pendekatan  Praktek,  Jakarta  : Rineka Cipta, 2002, Cet. V
Departemen  Pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia , Jakarta: Balai Pustaka,1988
Dhofier,  Zamakhairi,  Tradisi  Pesantren:  Studi  Tentang  Pandangan  Hidup  Kyai, Jakarta: LP3ES, 1985
Firdaus, Muhammad, Perkoperasian, Bogor : Ghalia Indonesia, 2004
Forum  Mangunwijaya  v  dan  VI,  Membentuk     Jiwa  Wira  Usaha,  Jakarta,  PT. Kompas Media Nusantara, 2012
Ghozali,  Imam,  aplikasi  analisis  multivariate  dengan  program  SPSS,  Semarang, Badan: Penerbit Undip, 2002
Hadi, Amirul, Metodologi  Penelitian Pendidikan,  Bandung : Pustaka Setia, 1998, Cet. I
Harsoyo,   Ideologi  Koperasi   Menatap   Masa  Depan,     Yogyakarta     :  Pustaka Widyatama, 2006, Cet 1
Hasan, Iqbal, Pokok-Pokok Materi Statistik, Jakarta: Bumi Aksara, 2003
Hendar, Ekonomi Koperasi, Jakarta: FE-UI,1999
Hendrojogi.   Koperasi,Asas-asas,   Teori  dan  Praktek,  Jakarta  :     Raja  grafindo Persada, 2002, cet 5.
http://studikustatistik.wordpress.com/2008/09/23/uji-normalitas-data-kolmogorov- smirnov-one-sample-kolmograv-smirnov-test/,  Before  Uji  Asumsi  Klasik (classic assumption test). 
http://www.  arti  pengertian  definisi  fungsi  dan peranan  koperasi  Indonesia  dan dunia ilmu ekonomi koperasi.com.
http://www.koopguru.com.my/definisi.asp.
Margono, Metode Penelitian Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2004 Cet. 4
Nazir, Moh., Metode Penelitian, Jakarta Timur : Ghalia Indonesia, 1988  Cet. 3
Nisfiannoor,   Muhammad,   Pendekatan   Statistika   Modern   untuk   Ilmu   Sosial,
Jakarta:Salemba Humanika, 2009
Nunus  Supardi,  “Sistem  Pendidikan  Pondok  Pesantren”  Dalam  Pearan  Pondok
Pesantren Dalam Menanamkan Apresiasi Kesenian, jakarta: 2007
Nurdin,  Bahri   ,   Perkenalan   Dengan   Beberapa   Konsep   Ekonomi   Koperasi, Jakarta  : Fakultas Ekonomi UI, 1993Pandji Anoraga   dan Ninik Widayanti,  Dinamika   Koperasi,   Jakarta   :   Rineka Cipta, 2003 cet. 4
Purwoto, Agus, Panduan Laboratorium Statistik Inferensia, Jakarta:PT Grasindo
Santoso, Singgih, Statistik Multivariat, Jakarta:PT Elex Media Komputindo, 2010
Sartika Partomo, Titik, Ekonomi Dan Koperasi, Bogor : Ghalia Indonesia, 2004 cet 2.
Singgih  Santoso,  Statistik  Nonparametrik,  Jakarta:PT  Elex  Media  Komputindo, 2010
Suridjo, Marwan, dkk. Sejarah Pondok Pesantren, Jakarta: Dharma Bhakti, 1979
Swasono, Edi,  Mencari  Bentuk,  Posisi  Dan  Realitas  Koperasi  Didalam  Orde
Ekonomi Indonesia,  Jakarta : UI Press, 1987, cet 3.
U.  Purwanto,  Petunjuk  Praktis  Cara  Mendirikan  Dan  Mengelola  Koperasi  Di
Indonesia, Semarang: CV. Aneka Ilmu, 1985, cet 1 
Umar, Husain, Research Method in Finance and Branking, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2000
Wibowo,  Agus,  Pendidikan  Kewirausahaan  (Konsep  Dan  Strategi),  Yogyakarta; Pustaka Belajar, 2011
Widiyanti,  Ninik, Koperasi Dan Perekonomian  Indonesia,  Jakarta : Bina Aksara, 1989

1 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close