badge ARABASTA | Ukhwah Asyifusyinen
Home » , , » ARABASTA

ARABASTA

Advertisement
Untuk menulis ini Kekasih, aku telah berteman dengan sekian malam, singgah di sekian tempat, mencerna kekerasan, mendustai kehidupan, atau kadang aku di kejai dunia. Betapa sedihnya, bertahun-tahun lamanya aku bersahabat dengan kata-kata, berkarip dengan cerita-cerita, namun malam ini ketika kuajak mereka bertemu, bercengkrama, bersuka ria, datang padaku selaksa gemuruh badai yang mengamuk di padang sahara, kata per-kata tiba-tiba menjadi pengecut, menolak datang beralaskan lupa, meski telah kupuji-puja, atau mereka telah terluka hatinya sebab aku telah memutuskan untuk lebih mencintaimu, mungkin mereka cemburu.

Percayalah kasih, hampir seutuh waktu yang kian menua, aku terbuai di jendela, resah memikirkan keajaiban yang tak kunjung benderang, seolah rembulan yang menghilang di telan hujan, ada memang, tapi susah benar untuk kujabarkan adanya. Aku memikirkanmu dan ingin sekali kurangkai elokmu, tapi apa daya, tiba-tiba saja kata berkhianat, cemburuh, memilih lupa, lalu aku bisa apa ?


Jika boleh kutamsilkan, hatimu laksana mutiara dalamnya lautan, dan aku hanya selongsor cahaya yang menembus jernihnya air, melawan desiran beriyak, hingga kala cahayaku bertemu dengan mutiaramu, maka berhamburlah kesilauan yang tak mampu di jabarkan alam. Meski masih ada satu cahaya yang tak akan mampu kita kalahkan, cahaya kegaiban Tuhan, keabadian, jangan pernah tanyakan kemestian-kemestian Tuhan yang tidak perlu kita persoalkan, Tuhan tidak membutuhkan Pembenaran.
Senyummu, kulaksanakan kemera-merahan senja, keindahan yang tidak akan mampu kunafikan, seberapa-pun sebentarnya itu, senyummu membekas di sekelibat asa dan cita, bayang-bayang keelokan dalam kemustahilan kupalingkan hingga dewi malam menjemput, dalam lelap kalang kabut mimpiku masih senjamu.

Cintamu, selaksa mekarnya mawar dalam keindahan, membuka kelopak pelan-pelan, itu sebabnya cintamu tak datang buru-buru untukku? Sebab tidak ada kebaikan dalam keburu-buruan, kecuali menguburkan. Kelabu tidak akan mendekat pada kehati-hatian, senada keingingan kita pada nelangsa keistiqamahan cinta, pelan saja sayang, kita akan memastikan kepastian.

Maka segalanya pelan-pelan, seamsal kerinduan yang di hantarkan hujan, sejuk, menenangkan, menuaikan kesyahduan, andai-pun hujan pergi, aroma tanah geliat semakin memuntahkan kerinduan, hal yang tak mampu diabaikan kesepian. Atau seumpama siul-siul angin yang melenakan senja, meski di negeri pasir tak bertepi “Arabasta” sahara yang tak mungkin di dustai cakrawala.

Hingga pelan-pelan mengetuk pintu kepastian dalam “Aku mengetuk pintu hatimu”, kali ini bukan sebagai bajingan, keparat, melainkan sebagai pencinta kepastian yang mampu membuktikan keistiqamahan, yang tak akan berpaling meski itu keharusan, sebab mencintaimu kupastikan sebagai kewajiban, dan kelak ketika engkau membukakannya untukku, disana aku berdiam hingga akhirnya aku bersemanyam, di hatimu yang tak mampu lagi engkau gantikan.

Bireuen, 29 Nov 2016


0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close