badge METODE-METODE PEMBELAJARAN (makalah) | Ukhwah Asyifusyinen
Home » » METODE-METODE PEMBELAJARAN (makalah)

METODE-METODE PEMBELAJARAN (makalah)

Advertisement
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Melaksanakan Pemebelajaran Yang Efektif
1.      Pembelajaran yang Efektif dan Efisien
Yang namanya pemebelajaran, tentu tidak akan terlepas dari belajar dan mengajar. Belajar dilakukan oleh peserta didik beserta guru dan mengajar dilakukan oleh guru atau pengajar. Supaya lebih jelas kami kutifp definisi belajar dan mengajar dari beberapa ahli sebagai berikut:
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan (Syah 2010:87). Sedangkan menurut skiner belajar adalah a proses of progressive behavior adaptation  yang artinya suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Sedangkan mengajar yaitu proses membimbing dan membantu peserta didik dalam menjalani proses perubahanya sendiri, yakni proses belajar untuk meraih kecakapan cipta, rasa, dan karsa yang menyeluruh dan utuh. (Syah 2010:178). Sedanngkan efektif adalah pengerjaan sesuatu yang benar (majalah talenta 2010:6). Jadi belajar dan mengajar yang efektif adalah proses perubahan dan bimbingan perubahan secara benar.
a.       Belajar Efektif
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu memperhatikan beberapa hal berikut :
a)      Kondisi Internal
Yang dimaksud dengan kondisi internal yaitu kondisi (situasi) yang ada di dalam diri siswa itu sendiri misalnya kesehatannya, keamanannya, ketentramannya, motivasinya dan lain halnya yang terdiri dari aspek fisiologis (kondisi umum jasmani), aspek psikologis diantaranya ; intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa.

b)      Kondisi Eksternal
Yang dimaksud dengan kondisi eksternal adalah yang ada diluar diri pribadi manusia. Lingkungan sosial diantaranya: para guru, para tenaga kependidikan dan teman-teman sekelasnya ; linngkunngan non sosial daintaranya : gedung sekolah, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar siswa.
c)      Strategi Belajar
Belajar yang efektif dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin. Pendekatannya dapat digunakan pendekatan bigs, yaitu :
Æ  pendekatan tinggi: speculative, dan achieving
Æ  pendekatan sedang : analitical, dan deep
Æ  pendekatan rendah : repreduktive dan surface (Syah 2010:136)
Setelah aspek-aspek yang disebut di atas harus diperhatikan selanjutnya kita pahami bagaimana belajar yang efektif dan efisien itu. Menurut Prof. Muhibbin Syah efektivitas dan efisiensi belajar yang dicapai siswa ada dua macam yaitu : efisiensi usaha belajar, dan efisiensi hasil belajar.
Yang dimaksud efisiensi usaha belajar yaitu prestasi belajar yang didapat dengan cara yang benar dan usaha yang hemat dan minim. Prestasinya sama namun caranya berbeda atau dengan bahasa lain sukses sama-sama dengan cara berbeda-beda. Sebagai contoh ada seorang siswa “a” yang intelegensinya tinggi belajarnya giat dan full day sudah pasti dia akan berprestasi, namun tidak mustahil untuk saat ini seorang siswa “b” dengan tingkat intelegen yang rendah belajarnya hanya setengah bahkan seperempat dari  anak “a” tetapi bisa mendapatkan prestasi atau hasil yang sama. Apa penyebabnya? Inililah yang dimaksud dengan belajar efektif.  Hasil dari efektifitas akan menimbulkan efisien. Belajar yang tidak terlalu lama namun belajar dengan cara dan pendekatan yang benar itulah usaha belajar efisien. Bagaimana cara dan pendekatan yang benar itu? Pada sub bab lain akan dijelaskan didepan.
Selanjutnya, yang dimaksud efisiensi hasil belajar yaitu prestasi belajar didapat berbeda meskipun dengan cara dan usaha yang sama. Efisiensi hasil belajar ini berbanding terbalik dengan efisiensi usaha belajar. Dalam hal ini seseorang yang lagi belajar  mendapatkan hasil yang berbeda lebih baik dari pada yang lainnya meskipun cara dan usahanya sama. Sebagai contoh disatu kelas terdapat 30 siswa, cara waktu dan tempat belajarnya sama namun pasti akan ada yang lebih diantara yang 30 siswa tadi. Ini dikarenakan guru atau siswa tadi memiliki penedekatan yang  benar untuk mendapatkan hasil dari belajarnya.
b.      Mengajar Efektif
Mengajar merupakan hal yang kompleks karena murid-murid itu bervariasi sehingga tidak akan ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Namun setidaknya seorang guru harus memahami dan mennguasai beragam perspektif dan strategi juga mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal ini membutuhkan dua hal utama yaitu : pengetahuan dan keahlian profesional, dan komitmen dan motivasi.
a)      Pengetahuan dan keahlian profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Memahami strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomuikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-muridnya dengan berbagai karakter dan beragam latar belakang kultural. Sengaja pemabahasan mengenai belajar yang efektif didahulukan karena untuk  mengajar yang efektif terlebih dahulu harus mengetahui belajar yang efektif.
b)      Komitmen dan Motivasi
Menjadi  guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid. Komitmen dan motivasi akan lahir jika seseorang memiliki landasan dalam bekerjanya. Bagi seorang muslim, komitmen dan motivasi itu lahir jika mengajar dijadikan sebagai pengabdian bentuk ibadah kepada allah SWT. Ibadah tentu berlandaskan ketauhidan. Inti dari katauhidan adalah keikhlasan dan keikhlasanlah yang akan membuat seseorang komitmen. Tidak ada tujuan lain selain mengharap ridla Allah SWT.
Dengan keikhlasan sikap guru tidak akan bergantung kepada apapun, entah itu gaji ataupun jabatan akademik guru. Dengan keikhlasan juga sikap dan keperibadian seorang guru akan terbentuk. Guru harus memiliki kompetensi kepribadian mantap, stabil, dewasa, arif, dan dapat menjadi teladan.( Ruswandi dkk 2010 : 35).

B.     Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajaran
Efektivitas dan efisiensi pemebelajaran akan tercapai jika menggunakan pendekatan, strategi dan metode yang tepat. Pada pembahasa sebelumnya telah dibahas bahwa pembelajaran efektif dan efisien tidak akan tercapai jika tidak memahami ketiga komponen ini. Pada sub bab inilah akan dibahas mengenai cara untuk mencapai efektivitas dan efisiensi yaitu dengan  pendekatan, strategi dan metode pembelajaran. . 
1.      Pengertian pendekatan pembelajaran   
Pendekatan pemebelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Akhir-akhir ini pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan strategi yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pembelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Belajar dengan konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Melalui proses berpengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang berkembang tidak hanya aspek kognitif saja, tetapi aspek afektif dan psikomotor juga. Belajar CTL diharapkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang dipelajarinya.
Ada tiga hal yang harus kita pahami dalam konteks CTL. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materinya, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalama secara langsung. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga, CTL mendorong siswa dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetap bagaimana materi tersebut dapat mewarnai prilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan di atas akan memengaruhi keberhasilan pemebelajaran. Apakah guru memeandanng siswa sebagai orang yang sama sekali tidak tahu (objek learning) atau menganggap siswa memiliki berbagai potensi sehingga guru hanya sebagai fasilitator? Yang jelas, Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran.
2.      Strategi pembelajaran
Secara harfiah, kata “strategi” dapat daiartikan sebagai seni malaksanakan stratagem yakni siasat atau rencana (McLeod,1989) dikutif oleh (Syah 2010:210). Dalam perspektif psikologi, kata strategi yang berasal dari bahasa yunani itu, berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahakan masalah atau mencapai tujuan (reber, 1988). Selanjutnya menurut Muhibbin Syah, strategi yaitu sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu (Syah 2010:211).
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Sanjaya, 2008).
3.      Strategi Pembelajaran Afektif
Dalam undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yanng Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Rumusan tujuan pendidikan diatas, sarat dengan pembentukan sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap dan nilai.

Proses pembentukan sikap
a.       Pola pembiasaan
Dalam proses pembelajaran disekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan. Misalnya, siswa yang setiap kali menerima perlakuyan yang tidak mengenakan dari guru, misalnya perilaku mengejek atau perilaku yang menyinggung perasaan anak, maka lama-kelamaan akan timbul rasa benci dari anak tersebut, dan perlahan-lahan anak akan mengalihkan sikap sikap negatif tersebut bukan hanya kepada gurunya itu sendiri, akan tetapi juga kepada mata pelajaran yang diajarinya. Kemudian, anak mengembalikannya ke sikap positif tidaklah mudah baginya.
Belajar membentuk sikap melalui pembiasaan itu jugadilakukan oleh Skinner melalui teorinya conditioning. Proses pembentukan sikap melalui pembiasaan yang dilakukan Watson berbeda dengan proses pembiasaan sikap yang dilakukan Skinner. Pembentukan sikap yang dilakukan Skinner menekankan pada proses peneguhan respons anak. Setiap kali anak menunjukan prestasi yang baik diberikan hadiah atau perilaku yang menyenangkan. Lama-kelamaan, anak berusaha meningkatkan sikap positifnya.
b.      Modeling
Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginannya untuk melakukan peniruan (imitasi). Hal ditiru itu adalah perilaku-perilaku yang diperagakan atau didemonstrasikan oleh orang yang menjadi idolanya.
Pemodelan biasanya dimulai dari perasaan kagum. Anak kagum terhadap kepintaran orang lain, misalnya terhadap guru yang dianggapnya bisa melakukan segala sesuatu yang tidak bisa dilakukannya. Secara perlahan perasaan kagum akan memengaruhi emosinya dan secara perlahan itu pula anak akan meniru perilaku yang dilakukan idolanya.
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, yaitu :
1)      Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.

2)      Inkuiri
Inkuiri adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses penemuan sendiri. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosional, maupun pribadinya.
Secara umum inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :
Æ  Merumuskan masalah
Æ  Mengajukan hipotesis
Æ  Mengumpulkan data
Æ  Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
Æ  Membuat kesimpulan

3)      Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya bertanya dan menjawabpertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan dari setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir.
4)      Pemodelan (Modeling)
Asas modeling adalah proses pembelajaran yang memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberi contoh bagaimana cara mengoprasikan suatu alat, cara melafalkan kalimat asing, dan sebagainya.
5)      Refleksi(Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dipelajarinya.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya.

6)      Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Dalam CTL keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi proses belajar melalui penilaian nyata.
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
4.      Pengertian Metode Pembelajaran
Secara umum metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumberdaya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajaran. (Gintings, Abdorrakhman. 2008. h: 42)
Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, sehingga dalam menjalankan fungsinya, metode merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. (Siregar, Evelin dan Hartini Nara. 2010. h: 80)
Jadi, Metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5.      Pertimbangan dalam Pengembangan Metode Pembelajaran
Sebelum menentukan metode pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan.
a.       Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai
Pertimbangan ini merupakan pertimbangan pertama yang harus diperhatikan. Semakin kompleks tujuan yang ingin dicapai maka semakin rumit juga metode pembelajaran yang harus dibuat, metode dibuat sebagai cara untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.      Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
Materi atau pengalaman belajar merupakan pertimbangan kedua yang harus diperhatikan.
c.       Pertimbangan dari sudut siswa
Siswa adalah subjek yang akan kita ajar. Keadaan siswa yang berbeda-beda membuat kita untuk merancang metode yang yang sesuai dengan siswa tersebut.
6.      Berbagai Metode Pembelajaran
Banyak metode dalam pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan, tetapi ada  metode pembelajaran yang mendasar, sedangkan selebihnya adalah kombinasi atau modifikasi dari metode dasar tersebut. Berikut ini adalah metode pembelajaran dasar, yaitu:
a.       Metode Ceramah
Dalam metode ceramah guru menyampaikan materi secara lisan dan peserta didik mendengarkan. Keunggulan metode ceramah adalah, dapat digunakan untuk mengajar dalam jumlah peserta didik yang banyak, tujuan pembelajaran dapat disampaikan dengan mudah, dll. Sedangkan kekurangannya adalah, Komunikasi cenderung hanya satu arah, sangat tergantung pada kemampuan komunikasi verbal guru, dll.
b.      Metode Tanya Jawab
Materi pembelajaran disampaikan melalui proses tanya-jawab antara guru dengan peserta didik, dan sesama peserta didik. Keunggulan metode tanya jawab adalah, memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran secara aktif, mendorong siswa untuk berfikir kritis, dll.
c.       Metode Diskusi
Dalam metode diskusi proses pembelajaran berlangsung melalui kegiatan berbagi informasi atau pengetahuan diantara sesama peserta didik. Keunggulan metode diskusi adalah, menumbuhkan sikap ilmiah dan jiwa demokratis, menciptakan suasana belajar yang interaktif, dll. Adapun kekurangannya adalah,  pembicaraan dalam diskusi bisa keluar dari topik yang sedang dibahas, diskusi tidak mencapai hasil yang ditentukan jika batas waktu telah tiba.


d.      Metode Peragaan atau Demonstrasi
Metode peragaan dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran teori maupun praktek. Keunggulan metode peragaan adalah, peserta didik akan lebih mudah memahami materi belajar, akan menciptakan suasana belajar aktif, dll. Sedangkan kekurangannya adalah, memerlukan waktu persiapan yang lebih lama, membutuhkan peralatan yang kadangkala tidak tersedia di sekolah, dll.
e.       Metode Bermain Peran
Metode bermain peran sangat efektif digunakan untuk menstimulasikan keadaan nyata. Keunggulan metode bermain peran adalah, mampu melatik kompetensi siswa dalam melakukan kegiatan praktis yang mendekati keadaan yang sebenarnya. Kekurangan metode ini adalah, tidak semua guru memiliki kompetensi merancang kegiatan simulasi, memerlukan persiapan dan penyiapan yang matang serta membutuhkan banyak waktu dan sumberdaya lainnya, dll.
f.        Metode Pembelajaran Praktek
Keunggulan metode pembelajaran praktek adalah, mempermudah dan memperdalam pemahaman tentang berbagai teori yang terkait dengan praktek yang sedang dikerjakan, meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa, dll. Sedangkan kelemahannya adalah, memerlukan persiapan yang matang meliputi kegiatan dan peralatan yang diperlukan, memerlukan biaya tinggi untuk pengadaan bahan dan peralatan praktek, dll.
g.       Metode Tutorial
Metode tutorial adalah metode pembelajaran dengan mana seorang guru memberikan bimbingan belajar kepada peserta didik secara individual. Keunggulan metode tutorial adalah, peserta didik memperoleh pelayanan pembelajaran secara individual sehingga permasalahan spesifik yang dihadapinya dapat dilayani secara spesifik pula, seorang peserta didik dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh kecepatan belajar peserta didik yang lain. Sedangkan kelemahannya adalah, memerlukan waktu yang lama karena guru harus melayani peserta didik dalam jumlah banyak, memerlukan kesabaran dan keluasan pemahaman guru tentang materi yang dipelajari siswa.

  1. Macam – Macam Pendekatan dalam Pembelajaran
1.      Pendekatan Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya.
Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pendekatan kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya
2.      Pendekatan Kontruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu , guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan unutk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
a.       Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya
b.      Konstrukstivisme Sosial
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual
3.      Pendekatan Deduktif
Pembelajaran dengan pendekatan deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama siswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.
Menurut Setyosari (2010:7) menyatakan bahwa “Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu.”
Hal serupa dijelaskan oleh Sagala (2010:76) yang menyatakan bahwa: Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus.
Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa “Pendekatan deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.”
Dalam pendekatan deduktif menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Disini guru menjelaskan teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian menjabarkan kenyataan yang terjadi atau mengambil contoh-contoh.
Dari penjelasan beberapa teori dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.
4.      Pendekatan Induktif
Berbeda dengan pendekatan deduktif yang menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat umum, maka pendekatan induktif (inductif approach) menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat khusus.. Metode induktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.
Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa: Pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut.
Mengajar dengan pendekatan induktif adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada siswa dari suatu contoh yang spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu aturan prinsip atau fakta yang pasti.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan, prinsip atau aturan.
5.      Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.
6.      Pendekatan Proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
7.      Pendekatan Open - Ended
Menurut Suherman dkk (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan denganOpen-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban, namun beberapa atau banyak.
Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut. Contoh penerapan masalah Open-Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir.
8.      Pendekatan Saintific
Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’.
Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’.Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (saintifik appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.

9.      Pendekatan Realistik
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan olehHans Frudenthal di Belanda. Realistic Mathematics Education (RME) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang ‘real’ bagi siswa, menekankan ketrampilan ‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehinggga mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing’ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun secara kelompok. (Zulkardi, 2009).
Pengertian pendekatan realistik menurut Sofyan, (2007: 28) “sebuah pendekatan pendidikan yang berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu sendiri”.
Menurut Sudarman Benu, (2000: 405) “pendekatan realistik adalah pendekatan yang menggunakan masalah situasi dunia nyata atau suatu konsep sebagai titik tolak dalam belajar matematika”. Matematika Realistik yang telah diterapkan dan dikembangkan di Belanda teorinya mengacu pada matematika harus dikaitkan dengan realitas dan matematika merupakan aktifitas manusia.
Dalam pembelajaran melalui pendekatan realistik, strategi- strategi informasi siswa berkembang ketika mereka menyeleseikan masalah pada situasi- situsi biasa yang telah diakrapiniya, dan keadaan itu yang dijadikannya titik awal pembelajaran pendekatan realistik atau Realistic Mathematic Education(RME) juga diberi pengertian “cara mengajar dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelediki dan memahami konsep matematika melalui suatu masalah dalam situasi yang nyata”. (Megawati, 2003: 4). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran bermakna bagi siswa.
Realistic Mathematic Education(RME) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak pada hal- hal yang real bagi siswa(Zulkardi). Teori ini menekankan ketrampilan proses, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri(Student Invonting), sebagai kebalikan dari guru memberi(Teaching Telling) dan pada akhirnya murid menggunakan matematika itu untuk menyeleseikan masalah baik secara individual ataupun kelompok. Pada pendekatan Realistik peran guru tidak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator. Sementara murid berfikir, mengkomunikasikan argumennya, mengklasifikasikan jawaban mereka, serta melatih saling menghargai strategi atau pendapat orang lain.
Menurut De Lange dan Van Den Heuvel Parhizen, RME ini adalah pembelajaran yang mengacu pada konstruktifis sosial dan dikhususkan pada pendidikan matematika.(Yuwono: 2001)
Dari beberapa pendapat diatas dapat dikatakan bahwa RME atau pendekatan Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari- hari sebagai sumber inspirasi dalam pembentukan konsep dan mengaplikasikan konsep- konsep tersebut atau bisa dikatakan suatu pembelajaran matematika yang berdasarkan pada hal- hal nyata atau real bagi siswa dan mengacu pada konstruktivis sosial.
10.  Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat
Pendekatan Science, Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology.
Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya sama yaitu Environtment, yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains, teknologi, dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan, sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya.
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme, yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.



BAB III
PENUTUP
A.     kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat kami simpulkan, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional yakni melaksanakan pemebelajaran sesusai dengan kompetensi dan karakteristik siswa seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan pendekatan, strategi dan metode sehingga menghasilkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Ada beberapa pendekatan dasar yang bisa dilakukan dalam pembelajaran, yaitu :
Æ  Pendekatan Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
Æ  Pendekatan Kontruktivisme
Æ  Pendekatan Deduktif
Æ  Pendekatan Induktif
Æ  Pendekatan Konsep
Æ  Pendekatan Proses
Æ  Pendekatan Open - Ended
Æ  Pendekatan Saintific
Æ  Pendekatan Realistik
Æ  Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat




DAFTAR PUSTAKA
Gintings, abdurarakhman. Belajar dan Pemebelajaran.2008. Bandung: Humaniora.
John. W. Santrock. Psikologi Pendidikan edisi kedua.2008.jakarta:kencana.
Siregar, eveline dan hartin. Teori Belajarda dan Pemebeljaran.2010. Bogor: ghalia indonesia.
Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.1997.  Bandung: Rineka Cipta.
Uus, Ruswandi dan Badrudin. Pengembangangn Kepribadian Guru. 2010. Bandung: Insan Mandiri.
Wina, sanjaya. Kurikulum dan Pemebelajaran.20010. Jakarta: Kencana prenada Media Group.
http://sakinahninaarz009..co.id/2014/06/macam-macam-pendekatan pembelajaran.html

Www.Google.com

0 komentar:

Post a Comment

Ikuti Kami

notifikasi
close